BAD BOY Pura-Pura Amnesia

BAD BOY Pura-Pura Amnesia
Bab 24


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Airin tidak berani bertanya apa pun perihal keluarga Galang dan Galang juga tidak mengatakan apa pun karena Airin pikir dia pasti sangat sedih mendengar kabar buruk tersebut. Keduanya hanya bercakap saat akan melakukan sholat ashar saja, selebihnya tidak ada hal penting yang dibicarakan dan sama-sama menatap ke luar jendela walaupun Airin sempat tertidur di bahu Galang.


Menempuh perjalanan hampir tiga jam lamanya, akhirnya mereka sampai di rumah sakit besar di ibu kota. Galang masih membawa tas ranselnya di punggung, tetapi dia juga membawa tas ransel milik Airin di bagian perut.


"Airin bisa bawa sendiri, Kak," kata Airin meminta tas ranselnya. Namun Galang tidak menghiraukan dan terpaksa Airin hanya membawa tote bag berwarna hitam saja.


"Nanti jangan jauh-jauh dari saya, Dek. Di dalam sana Dek Airin bakal ketemu sama Ibu tiri saya yang bernama Laras dan Kakak tiri saya yang bernama Galih. Mungkin akan ada pengacara Papa juga di dalam. Tapi saya belum tau pasti," ucap Galang saat mereka tiba di pintu utama rumah sakit.


Ada beberapa perawat berlarian mengurus pasien kecelakan dan bau khas obat-obatan juga etanol langsung meruak menusuk hidung, tetapi tidak menahan langkah keduanya berhenti begitu saja.


Beberapa menit kemudian, Galang tiba di ruang vvip tempat Papa Baskoro di rawat. Tanpa permisi sama sekali, Galang segera membuka pintu ruang rawat tersebut dan benar apa yang Galang katakan pada Airin jika di dalam sana ada Mami Laras, Galih juga pengacara yang bernama Pak Romi.


"Galang ...." Mami Laras langsung menghampiri Galang dan mencoba memeluknya. Namun tentu saja Galang segera menghindar dan berjalan menuju brankar sang Papa. Sedangkan Airin terus mengekor di belakang Galang.


Melihat kondisi Papa Baskoro, Galang benar-benar terpukul. Banyak alat yang terpasang di tubuh sang Papa bahkan dengan keadaan dada terbuka. Napas Papa Baskoro terdengar sangat berat, Galang pun menitikkan air mata. Sejahat apa pun sang Papa, Galang tetap menyayanginya dan khawatir juga.


Beberapa menit menatap wajah Papa Baskoro, Galang pun beralih menatap Galih yang sedang duduk di sofa bersama Pak Bram. Ada rasa khawatir memang, apalagi saat Galang menatap Mami Laras yang sedang menangis di sisi brankar yang berhadapan dengan Galang.


"Wajah kalian sangat cocok sekali memerankan drama sedih ini," ujar Galang seketika membuat Galih, Mami Laras juga Pak Romi menatapnya.


"Maksud elo apa? Lo ngajak ribut lagi?" seru Galih langsung berdiri. Namun tidak melangkah menghampiri Galang.


"Ck, bukannya kalian yang buat Papa saya jadi begini? Bahkan kalian sudah memanggil pengacara. Pasti kalian sibuk mengurus harta warisan, bukan?" ucap Galang sambil menurunkan tas ransel yang dibawanya dan diletakkan di pojok ruangan.

__ADS_1


"Galang ... jadi kamu pikir Papa kamu begitu karena kami yang menyakiti?" tanya Mami Laras dengan nada berat dan terlihat semakin menyedihkan.


"Saya sangat yakin kalian yang berulah. Papa tidak punya riwayat sakit jantung," tegas Galang membuat Galih tersenyum masam.


"Dasar elo anak nggak berguna emang. Elo jarang dirumah dan merawat Papa aja nggak pernah, gimana bisa elo tau kondisi Papa, hah!" seru Galih tidak terima dengan tuduhan Galang.


"Ck, munafik. Kalian sama seperti maling teriak maling, dasar hina!" tegas Galang lagi.


"Brengsek, lo! Mati aja lo, Anjing!" Galih pun emosi. Bahkan dengan cepat Pak Romi menahan tubuh Galih agar tidak terjadi keributan di ruang rawat itu.


"Kak, sabar!" kata Airin lirih seraya menarik kaos Galang. Airin benar-benar takut sekaligus khawatir. Galang pun beristighfar.


"Galih, jaga bicara kamu! Dia adik kamu, Galih!" seru Mami Laras yang terlihat marah.


"Galih, berhenti!" seru Mami Laras, tetapi Galih tetap keluar dengan membanting pintu ruang rawat Papa Baskoro.


Isak tangis Mami Laras pun pecah setelah kepergian Galih. Pak Romi segera merengkuh kedua bahu Mami Laras dan seketika itu Mami Laras menyandarkan kepalanya di dada Pak Bram.


"A-apa ... apa maksud ... maksud semua ini?" tanya Galang dengan beratnya. Dia tidak ingat sama sekali perihal donor ginjal sang Mama. Memang ada bekas luka dibagian perut Galang. Namun saat itu Mama mengatakan jika Galang pernah jatuh dan perutnya tertusuk ranting pohon.


Apalagi melihat ibu tirinya seolah dekat dengan pengacara keluarganya itu. Galang benar-benar syok dengan apa yang dia lihat.


"Laras, sepertinya Galang memang sudah waktunya tau. Kita nggak bisa terus menyembunyikan semua ini juga hubungan kita. Apalagi kondisi suami kamu saat ini sangat kritis. Jantungnya bisa saja berhenti tiba-tiba, dan ...," ucap Pak Romi menggantung semakin membuat Galang bingung.

__ADS_1


"Jadi Mami selingkuh dengan Pak Romi, Mi?" tegas Galang seraya mengeratkan rahangnya.


Namun Mami Laras juga Pak Romi tidak terkejut dan keduanya hanya menghela napas lalu menyudahi pelukan kesedihan itu. Mami Laras mencoba menenangkan diri untuk menjelaskan semua yang selama ini jadi rahasia bertahun-tahun lamanya.


"Jawab, Mam! Jangan diam aja! Jadi selama ini Mami main dibelakang Papa, hah?" Galang benar-benar tidak sabar atas penjelasan Mami Laras.


"Astaghfirullah ... Kak, istighfar. Sabar, Kak! Jangan teriak-teriak begini! Kita di rumah sakit," kata Airin segera mengusap bahu Galang dengan maksud membuat Galang tenang. Saat itu juga Galang menghela napas lalu beristighfar.


"Terima kasih, Nak. Siapa pun kamu, tapi Mami rasa kamu punya pengaruh besar terhadap Galang. Dia pantas marah sama Mami," sahut Mami Laras dengan senyum yang terpaksa.


"Dek, duduk aja ya! Biarkan saya menyelesaikan urusan ini dulu," kata Galang dengan lembutnya. Airin hanya mengangguk paham dan mundur beberapa langkah saja tanpa duduk seperti yang Galang perintahkan. "Jelaskan sekarang, jangan bertele-tele!" lanjut Galang menatap sinis bergantian Mami juga Pak Romi.


"Sebenarnya ... Mami dan Mama kamu itu ...." Belum selesai Mami Laras bicara, Papa Baskoro kejang-kejang. Semua orang panik, termasuk Galang. Bahkan Galang sampai menangis memanggil Papanya.


Pak Romi tidak tinggal diam dan segera memanggil dokter lewat tombol yang tersedia di ruangan tersebut.


"Pa, Papa bangun! Ini Galang, Pa!" ucap Galang terisak.


"Mas, tolong bertahan, Mas! Aku mohon ... tolong bertahan!" Mami Laras tak kalah sedih.


Saat itu juga Papa Baskoro harus melakukan operasi.


........

__ADS_1


__ADS_2