BAD BOY Pura-Pura Amnesia

BAD BOY Pura-Pura Amnesia
Bab 36


__ADS_3

Setelah menjalankan kewajibannya, Galang juga Galih duduk bersantai terlebih dahulu di bawah pohon di depan masjid sambil menikmati pemandangan langit sore yang cukup indah. Keduanya sedang menunggu ibu kota yang sebentar lagi akan macet karena waktunya para pekerja pulang ke rumah.


"Kak, aku merasa Kak Galih tertarik dengan Airin, apa iya?" tanya Galang tiba-tiba dan Galih benar-benar terkejut. Padahal setelah solat mereka tidak menyinggung perihal Airin sama sekali.


"Maksud kamu, aku suka sama Airin, gitu?" Galih malah balik bertanya. Sebenarnya dia memang harus siap dengan pertanyaan itu.


"Hm, sejenis itu. Dia emang punya daya tarik, Kak. Tapi aku merasa Kak Galih itu ...."


"Jangan ngaco! Nggak mungkin aku merebut calon istri dari adik aku sendiri."


Galang tersenyum smrik. Entah perasaan atau menang hanya karena dia takut kehilangan Airin. Namun Galang memang melihat ada tatapan berbeda dari cara Galih melihat Airin. Apalagi saat Galih menjemput Galang sepulang dari markas Remos. Galang merasa Galih menyembunyikan sesuatu darinya. Bisa saja Galih menyembunyikan perasaan pada Airin. Andai Galang tidak salah tebak.


"Apa mungkin kita akan menjadi pesaing, Kak? Mungkinkah kita akan memperebutkan satu wanita untuk jadi pendamping hidup satu untuk selamanya?" Pertanyaan konyol itu kembali terucap dari mulut Galang.


"Ck, aku nggak akan sehina itu, Galang. Apa yang aku punya sekarang itu adalah milik Mama Sarah, bukan milikku. Bukannya Mami juga udah bilang bahkan bagian kamu lebih besar daripada milikku. Walaupun aku yang mengembangkan semuanya, tapi aku punya harga diri dan aku nggak punya hak atas semua itu. Apalagi merebut calon istri kamu, itu nggak akan mungkin terjadi."


Galang menghela nafas panjang dan mulai merasa tidak enak hati sebab berpikir yang tidak-tidak tentang Kakak yang baru dua hari dia akui itu. Galang yang tadinya menatap langit dengan warna biru sempurna kini beralih menatap Galih.


Selama ini dia tidak pernah melihat bahwa sebenarnya Galih memang mirip dengan Papa Baskoro. Rasa benci pada Galih tidak pernah membuat Galang menyelidik bagaimana penampilan sang Kakak yang seharusnya jadi idaman para gadis di luar sana. Namun Galih memilih untuk menunda pernikahan bahkan tidak pernah ada gosip sama sekali tentang dia punya pacar.


"Maaf ya, Kak! Sepertinya aku terlalu posesif. Atau mungkin hanya perasaan aku aja yang terlalu su'udzon sama Kakak sendiri. Airin cinta pertamaku, Kak. Aku harap Kak Galih paham dengan pertanyaan aku tadi. Sekali lagi maaf ya, Kak!" sesal Galang dan Galih pun menoleh menatap Galang diiringi senyuman.


"Aku nggak segila itu, Galang. Aku udah bilang sebelumnya kan? Kamu jangan khawatir. Menikah dan hiduplah bahagia bersama Airin. Jangan biarkan ada wanita lain yang merusak hubungan kalian."

__ADS_1


"Aku harap kita bisa menikah bersama, Kak. Aku harap aku nggak melangkahi Kakakku dan harus memberikan sejumlah uang sama kamu, Kak."


Galih kembali melingkarkan tangannya di leher Galang. Namun kali ini seraya menggelitiki perutnya.


"Kamu lebih kaya dari aku, jadi wajar kamu kasih uang pelangkah, paham!" ujar Galih masih belum berhenti menggelitiki Galang.


"Ampun, Kak! Iya ... aku bakal kasih ... aku bakal kasih! Semuanya, Kak!" jawab Galang sedikit lemas. Galih pun menghentikan aktivitasnya.


"Jangan jadi adik pelit, hm?" ledek Galih. Namun tiba-tiba raut wajah Galang berubah. Galih pun ikut merubah raut wajahnya.


"Tapi, Kak, aku serius," ujar Galang benar-benar tidak ada senyum sedikit pun di sudut bibirnya.


"Tentang apa?" Galih pun khawatir.


"Ada mitos jika seorang adik menikah melangkahi Kakaknya maka dia nggak akan bahagia dan akan menyulitkan sang kakak untuk mendapatkan jodoh."


"Kak, serius! Kak Galih harus menikah terlebih dahulu dari aku. Aku nggak mau Kak Galih lama menikah," tegas Galang dan akhirnya Galih menghentikan tawanya.


"Galang, kamu kan lebih paham agama dari pada aku. Mitos seperti itu seharusnya nggak kamu percaya. Itu hanya mitos yang dipercaya oleh suku tertentu aja. Lagian aku merestui kamu dan aku cukup tampan untuk mencari istri. Aku yakin banyak yang berminat jadi istri seorang CEO tampan seperti Kakak kamu ini."


Galih pun mengacak-acak rambut Galang. Tiba-tiba dia gemas dengan pernyataan Galang. Namun tentu dia senang karena Galang khawatir padanya. Hanya saja mencari istri itu tidak semudah menaklukkan klien di kantornya.


Menikah bukan untuk coba-coba. Menikah itu tentang hidup dan bahagia bersama. Bagi Galih mencari wanita baik itu harus banyak pertimbangan. Apalagi kehidupan Mami Laras tidak seindah apa yang dia impikan tentang pernikahannya.

__ADS_1


"Ish ... Kak! Kalau emang begitu, ya udah cari sana wanita baik yang berminat jadi istri CEO tampan seperti Kak Galih. Setelah itu kita menikah dan merayakan pesta pernikahan dengan sangat meriah," usul Galang yang sebenarnya kesal karena Galih tidak serius.


"Kamu yang pilihkan kalau begitu. Aku yakin pilihan kamu nggak akan salah," sahut Galih benar-benar terlihat serius di mata Galang.


"Aku nggak ada pandangan, Kak. Tapi coba nanti aku tanya Airin ya, Kak. Siapa tau dia punya temen atau saudara yang akhlaknya sebelas duabelas sama dia, mau nggak?" Kali ini Galang kembali bicara dengan nada meledek.


"Terserah kamu, aku nurut aja kalau emang kamu khawatir mitos itu. Aku juga mau kamu bahagia," jawab Galih sembari menepuk bahu Galang.


"Aku punya Kakak yang luar biasa," puji Galang langsung memeluk Galih.


...***...


"Mam, Airin ke mushola dulu ya?" pamit Airin dan Mami Laras mengangguk. Namun tas selempang Airin yang berisi ponsel di tinggal begitu saja di dekat Mami Laras.


Setelah kepergian Airin, tidak lama kemudian ponselnya berdering terus menerus membuat Mami Laras risih dan memberanikan diri untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Teh, katanya di ibu kota ya? Barusan aku telpon Abati katanya Teteh di ibukota. Kok Nggak bilang sih? Dimana? Buruan share lok, Teh!" Tiba-tiba suara sedikit cempreng dibalik panggilan telepon itu terus nyerocos tanpa salam sama sekali seolah tidak sabar ingin mendapatkan kejelasan.


"Hallo, maaf ya Airin masih di rumah sakit, masih ...."


"Apa? Ini siapa? Astaghfirullah, Teh. Kenapa di rumah sakit? Hallo ... hallo ... siapapun ini tolong share lokasi rumah sakitnya sekarang juga ya. Aku tunggu dan langsung meluncur kesana detik ini juga!"


Belum Mami Laras menjelaskan, panggil itu terputus sepihak. Namun karena tidak mau membuat si penelpon khawatir, Mami Laras pun mengirimkan lokasi rumah sakit tersebut.

__ADS_1


"Siapa sih Mecca ini? Kayak nggak punya sopan santun sama sekali. Bisa-bisanya Airin punya teman seperti ini," gumam Mami Laras diiringi helaan napas panjang kemudian memasukkan kembali ponsel Airin ke dalam tas selempangnya.


........


__ADS_2