BAD BOY Pura-Pura Amnesia

BAD BOY Pura-Pura Amnesia
Bab 34


__ADS_3

"Buat masalah apa sih lo, hah?" tanya Galih begitu Galang masuk ke dalam mobil di tempat yang tak jauh dari markas Remos. Sejak mendapatkan beberapa pertanyaan terkait keluarga Seno, Galih merasa khawatir dan langsung menanyakan lokasi Galang juga menjemputnya.


Untungnya saat itu dia sedang meeting di luar dengan klien dan langsung memutuskan untuk melanjutkan esok hari sebab tidak mau terjadi sesuatu dengan Galang.


"Nggak buat masalah, Kak. Justru menyelesaikan masalahku," jawab Galang diiringi senyuman manis lalu memakai set belt. Galih pun mengacak-acak rambut Galang yang mulai panjang tersebut. "Ish ... apaan sih, Kak! Nanti adikmu ini jadi nggak ganteng. Airin ilfil gimana coba?" protes Galang yang kemudian merapikan kembali rambutnya dengan raut wajah cemberut.


"Dasar kampret! Bisa-bisanya bucin di depan Kakakmu yang belum punya calon ini."


"Mintalah sama Allah."


Galih hanya menghela napas kemudian segera melajukan mobilnya.


"Keluarga Seno dengan keluarga Aji Pangestu itu saling kerja sama, Galang. Aku takut aja ada sesuatu yang bakal merugikan kamu ke depannya. Kita juga butuh mereka sebenernya. Apalagi Serly tadi pagi menemui aku di rumah sakit saat kamu dan Mama bertemu dokter."


Galang yang sejak tadi berkaca dan terus tersenyum sebab Galih tiba-tiba bicara serius, tentu saja terkejut mengetahui Serly datang ke rumah sakit karena pastinya dia bertemu dengan Airin disana.


"Kenapa baru bilang sih? Terus dia ngomong apa sama Airin?" tanya Galang seketika itu wajahnya langsung fokus dan duduk tidak tenang.


"Airin sedang teleponan sama orang tuanya, jadi Serly nggak bilang apa-apa sama dia." Galang pun lega mendengar tidak ada percakapan antara Airin dan Serly.

__ADS_1


"Terus dia ngapain ke rumah sakit?" tanya Galang lagi.


"Dia ... nganter kue sama minta aku ... em sebaiknya kita segera kembali ke rumah sakit karena kata Mami Papa ada pergerakan dan udah boleh di jenguk maksimal dua orang," kata Galih tidak ingin membahas masalah Serly terlebih dahulu.


Walaupun Galang mendesak, Galih tetap tidak buka mulut dan selalu mengalihkan pembicaraan mereka bahkan sengaja bermain setir mobil dengan maksud bercanda dan fokus Galang teralihkan.


...***...


Tiba di rumah sakit, Galang dan Galih hanya melihat Airin duduk sendiri di kursi tunggu seraya tertunduk menatap tasbih digitalnya. Galang benar-benar langsung berbinar melihat ada aura berbeda yang dipancarkan oleh Airin. Sedangkan Galih sendiri cukup menginginkan wanita seperti Airin yang terlihat sholehah.


Keduanya celingukan mencari keberadaan Mami Laras, tetapi tidak ada dan kamar sang Papa juga tertutup rapat serta tidak ada seorang pun di dalam sana jika dilihat dari kaca pintu.


"Aku mau ke toilet dulu ya?" kata Galih segera pergi yang sebenarnya dia sedang menghindari Airin. Galang hanya mengangguk dan melangkah mendekati Airin lalu duduk di kursi tunggu yang ada di depan Airin. Sampai beberapa menit berlalu, Airin belum sadar jika Galang sedang menatapnya.


"Alhamdulillah," gumam Airin lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Sendirian, Dek. Udah kayak kiper aja. Mami kemana?" tanya Galang begitu Airin memasukan tasbih miliknya ke dalam tote bag.


"Kak! Sejak kapan disitu?" tanya Airin balik karena terkejut melihat Galang senyum-senyum meledeknya.

__ADS_1


"Em ... sejak tadi," jawab Galang masih senyum-senyum tidak jelas.


"Ish ... Kak Galang baik-baik aja kan? Terus gimana temen Kakak namanya Tomi itu? Apa udah sadar? Kak Galang kesini naik taksi?" Bukannya menjawab, Galang semakin melebarkan senyumnya. "Ish ... serius, Kak! Senyum terus dari tadi, nanti Airin kenak diabetes, gimana?" Airin pun balik meledek Galang.


"Kamu gemes banget, Dek," jawab Galang tak ingin memalingkan wajahnya dari pandangan Airin.


"Apaan sih, Kak! Bukannya di jawab," kata Airin tertunduk malu.


"Saya baik-baik aja. Seperti yang Dek Airin liat. Tomi masih belum sadar dan saya kesini sama Kak Galih, tadi dijemput karena khawatir," jelas Galang dan Airin mengangguk paham lalu celingukan mencari Galih.


"Terus mana Kak Galihnya?" tanya Airin lagi.


"Ke toilet. Mami kemana?"


"Katanya tadi mau beli minum, Kak. Tadi Papa udah ada pergerakan di tangan, tapi abis itu nggak ada apa-apa lagi, jadi masih belum boleh di temenin di dalem cuma boleh di jenguk aja sesekali," jelas Airin dan Galang paham.


"Sebaiknya Dek Airin saya antar pulang aja ya? Soalnya Papa juga belum sadar mau saya kenalkan. Saya takut Dek Airin nanti kecapean kalau disini terus. Nggak enak juga sama Abati sama Uma." Airin justru menolak dengan menggelengkan kepalanya. "Kenapa?" tanya Galang heran.


"Airin udah bilang sama Aba sama Uma, Kak. Dan ternyata Aba sama Uma akan sibuk minggu ini terus minta titip salam sama Kak Galang juga minta maaf belum bisa jenguk. Jadi, Airin disini aja temenin Mami, Kak. Lagian Airin kalau di rumah juga nggak ada temennya kalau Aba sama Uma sibuk kesana-kemari. Paling temen Airin kambing dan bebek yang suaranya selalu bikin rame."

__ADS_1


Galang bukan hanya tersenyum dengan lelucon Airin, tetapi bahkan sangat bersyukur dia mau menemani Mami Laras karena dia juga akan sibuk dengan keadaan teman-teman di rumah sakit. Apalagi biaya berobat mereka belum Galang selesaikan.


........


__ADS_2