BAD BOY Pura-Pura Amnesia

BAD BOY Pura-Pura Amnesia
Bab 27


__ADS_3

Malam yang penuh dramatis pun berganti dengan pagi yang begitu cerah. Walaupun ini bukan pertama kalinya Airin mengawali pagi di ibu kota, tetapi rasanya Airin merasa sangat senang dan nyaman, apalagi dengan suasana di rumah Galang.


Setelah memasak nasi goreng spesial bersama dengan Mami Laras dan menyiapkan semuanya untuk sarapan Galang juga Galih, Airin bersiap untuk berangkat ke rumah sakit bersama Mami Laras. Mereka berdua cukup kompak dan satu selera dengan urusan dapur, jadi menu yang dibuat itu lebih cepat selesai.


"Airin, udah siap belum?" tanya Mami Laras seraya mengetuk pintu kamar. Airin yang sedang menyematkan jarum pentul di lehernya sesegera mungkin untuk merapikan jilbab segiempat berwarna pink yang menjuntai menutup dada dengan paduan gamis hitam polos. Sepatu sneaker silver pun segera dia pakai dan meraih tas selempang di atas tempat tidur berwarna sama yang memang telah dia siapkan sebelumnya lalu membuka pintu.


"Maaf, Mam. Tadi Airin solat Dhuha dulu, jadi agak lama," kata Airin yang tidak enak membuat Mami Laras menunggu.


"Nggak apa-apa. Lagian belum kesiangan juga. Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Mami Laras yang langsung meraih lengan Airin agar berjalan bersama.


Tentu saja Airin cukup canggung, tetapi sebisa mungkin dia bersikap normal demi proses adaptasi dengan keluarga Galang.


Sesampainya di rumah sakit, Mami Laras tidak hentinya bicara dan mengobrol dengan Airin. Topik apa saja yang mereka diskusikan selalu nyambung dan membuat Mami Laras seolah bicara dengan anak perempuannya sendiri.


"Nggak kerasa ya nyampe rumah sakit. Semoga Papa udah bisa ditemui," kata Mami Laras yang lagi-lagi memeluk lengan Airin dan keduanya berjalan bersama menuju ruang rawat sang suami yang telah di beritahu oleh Galih sebelumnya.


Namun ternyata Papa Baskoro belum sadarkan diri dan belum bisa dijenguk. Jadi Galang dan Galih hanya duduk di kursi di ruang tunggu di depan pintu kamar Papa Baskoro.


"Duh ... anak Mami pasti udah laper. Semalam kamu makan nggak, Nak?" tanya Mami Laras yang langsung duduk di sisi Galang setelah berbasa-basi menayangkan perihal kondisi Papa Baskoro.


"Em ...." Galang malah salah tingkah. Walaupun ini bukan pertama kalinya Mami Laras bersikap lembut dan baik padanya, tetapi situasi saat ini jelas berbeda sejak semalam.


"Kenapa Galih nggak ditanya duluan sih, Mam?" protes Galih melirik sinis dengan kedua tangan yang langsung menyilang di dada. Airin hanya bisa tersenyum dengan satu tangan yang menutupi mulutnya.


"Kamu Kakak, harus ngalah sama adik!" jawab Mami Laras seraya memukul bahu Galih dan kembali fokus pada Galang.

__ADS_1


"Galang semalam makan kok sama Kak Galih, Mam. Sekarang kami lagi nungguin masakan Mami. Lama banget sih baru dateng, macet emang?" tanya Galang yang kini bersikap dan berbicara jauh berbeda dari sebelumnya.


Bergetar hati Mami Laras mendengar Galang memanggil Galih dengan sebutan 'Kakak'. Walaupun semalam dia sudah menangis mendengar penjelasan Galih atas sikap Galang yang berubah total, tetapi ini benar-benar pertama kalinya kata-kata yang ingin di dengar sejak lama itu terucap. Bahkan Airin hampir menitikkan air matanya.


Kedua mata Mami Laras pun berkaca-kaca. Namun sebisa mungkin dia tahan air mata itu agar tidak mengubah suasana bahagia tersebut.


"Ah, baiklah-baiklah. Mami sama Airin tadi masak nasi goreng spesial, kalian sarapan ya?" kata Mami Laras dengan cepat membuka dua kotak makan berwarna biru dan membuka tutupnya. Satu untuk Galih dan satu untuk Galang.


"Mam, kenapa bentuknya begini?" tanya Galih dan Galang bersamaan. Airin kembali menahan tawa. Sedangkan Mami Laras hanya mengangkat kedua bahunya.


"Ini kekanak-kanakan, Mam!" Lagi-lagi kedua laki-laki yang duduk bersebelahan dengan Mami Laras itu melayangkan protes.


"Semua Mama itu selalu menganggap anaknya masih kecil walaupun udah dewasa. Tinggal makan aja, kenapa harus protes sih? Mami sama Airin udah capek-capek masak itu nasi dan dibuat secantik itu loh. Udah ... buruan sarapan!"



"Emh, enak banget, Mam. Ini ... Mirip masakan Mama. Bahkan ini ... ini masakan pertama Mami yang Galang makan. Makasih ya, Mam!" kata Galang seketika itu langsung membuat Mami Laras menitikkan air matanya.


"Dari dulu Mama selalu mencoba resep masakan yang ditinggalkan sama Tante Sarah khusus buat kamu. Aku bahkan sampai iri karena secuil aja aku nggak boleh nyicipin. Eh ... nggak taunya yang dibuatin selalu nolak. Tapi kalau kali ini kamu nggak mau, aku siap nampung kok!"


"Galih!" seru Mami Laras kembali memukul bahu Galih seraya mengusap air matanya.


"Maafin Galang ya, Mam!" Lagi-lagi Galang menyesali apa yang selama ini dia lewatkan bersama Galih juga Maminya.


"Udah, kamu buruan abisin sarapannya! Minta maaf terus, udah kayak narapidana aja." Mami Laras pun mengusap bahu Galang yang tersenyum padanya.

__ADS_1


"Liat tuh! Kakakmu ini udah dua kali di pukul, tapi kamu ... dielus-elus. Nasib jadi anak tiri begini amat ya," ledek Galih yang lagi-lagi mendapatkan pukulan dibahunya oleh Mami Laras.


"Tiga kali deh," keluh Galih yang menghitung pukulan sang Mama.


"Ya udah kamu pukul aku aja, Kak! Biar adil," kata Galang diiringi senyuman yang begitu terpancar jelas rasa bahagianya.


"Dih, ogah! Bisa-bisa diusir dari rumah kalau seorang Kak Galih memukul Adik Galang," jawab Galih masih dengan nada meledek seraya menikmati sarapannya.


"Udah ah, jangan bercanda terus! Buruan abisin!" kata Mami Laras yang tidak bisa lagi mengungkapkan rasa syukur karena Galih dan Galang yang terlihat seperti adik kakak sesungguhnya.


"Dek, udah sarapan?" tanya Galang pada Airin yang duduk sedikit jauh dari mereka bertiga.


"Oh, astaga ... sampe lupa kalau ada calon adik ipar, Mam! Duh ... Dek ... Dek ... heem, sweet banget sih, cie!" ledek Galih membuat Airin jadi salah tingkah.


"Apaan sih, Kak!" sahut Galang yang langsung mengulurkan tangannya memukul bahu Galih.


"Hadeh ... udah 4x dipukul nih," kata Galih masih dengan nada yang sama.


"Galih, jangan bikin Airin malu. Kami udah sarapan di rumah. Bekal ini emang khusus buat kalian berdua. Udah, jangan banyak omong lagi, abisin, buruan!"


"Iya, Mam!" jawab Galang dan galih bersamaan lalu melanjutkan suapan berikutnya. Airin hanya bisa menunduk malu karena ledekan Galih tadi. Sedangkan Mami Laras menatap bergantian kedua anaknya.


Namun tidak ada yang sadar satupun dari mereka bahwa ada kedua mata memerah menahan amarah yang sejak tadi mengawasi dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


........

__ADS_1


__ADS_2