
Galang benar-benar naik darah setelah melihat kondisi teman-temannya yang dihajar habis-habisan oleh Remos. Bahkan melihat kondisi Tomi yang masih belum sadarkan diri, membuat Galang langsung mengepalkan kedua tangannya.
"Brengsekk!" umpat Galang tanpa suara.
Galang pun berbincang dengan Rian dan meminta rekaman cctv tersembunyi di markas mereka. Melihat bagaimana Remos memukul dan mematahkan tangan Tomi, amarah Galang meluap. Namun dia tidak boleh mengambil tindakan gegabah dan memikirkan sebuah rencana dengan bukti rekaman cctv tersebut.
Cukup lama Galang berbincang dengan Rian untuk mencari informasi terkait keluarga Remos. Dari perbincangan itu, Galang mendapatkan sebuah rencana yang bisa membuat Remos bungkam dan tidak akan menggangu teman-teman Galang lagi.
"Kak, gimana keadaan anak buah Kakak itu?" pesan dari Airin seketika membuat Galang tersenyum dan segera membalas pesannya.
"Mereka teman-teman saya, Dek. Saya sudah bilang saya bukan lagi Bos mereka lagi. Keadaan mereka semua memprihatinkan dan yang paling parah adalah Tomi, Dek. Dia belum sadarkan diri."
"Astaghfirullah, maaf ya Kak. Airin lupa. Semoga semuanya lekas membaik ya Kak. Tolong Kak Galang jaga diri ya, Airin nggak mau Kak Galang kenapa-kenapa."
"Aamiin. Iya, Dek. Jangan khawatir ya? Papa udah sadar belum?"
"Jangan larang Airin untuk nggak khawatir, Kak. Papa belum sadar. Mama juga ngobrol lagi sama Dokter."
__ADS_1
"Iya, Dek. Saya akan pulang sebelum ashar."
"Iya, Kak. Hati-hati ya! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Galang pun memasukkan ponselnya dan kembali fokus berbincang dengan Rian. Cukup lama dan Rian pun memberi saran untuk mencari informasi lebih lanjut pada Kakaknya Galih.
"Ide bagus!" ujar Galang seraya menjentikkan jarinya lalu mengacak-acak rambut Rian dengan bangga. Galang pun pamit setelah mendapatkan informasi dimana markas Remos.
"Wah ... wah ... siapa nih yang dateng? Kayaknya udah siap babak belur, haha!" seru Remos menyambut hangat kedatangan Galang dengan gelak tawa bersama beberapa anak buahnya.
Remos langsung terkejut dan membulatkan mata manatap penuh amarah Galang yang masih diambang pintu. Namun Remos ingat tidak ada satu anak buah Galang yang merekam atau memegang ponsel dan Remos juga sudah memastikan jika tidak ada cctv di markas lama milik Galang.
Bahkan dia menjadi ketua geng motor saja harus banyak alasan dan sedikit mengubah penampilan agar tidak terlalu mencolok sebagai anak dari Tuan Seno. Namanya pun menggunakan nama samaran, bukan nama sebenarnya saat dia sedang menikmati masa mudanya bersama geng motor.
"Haha ... maksud elo apa, Galang? Elo pikir gue takut dengan ancaman elo, hah! Elo punya bukti? Nggak kan? Nggak usah jadi pahlawan!" sahut Remos melangkah mendekati Galang yang masih memasang wajah dingin.
__ADS_1
"Walaupun elo merubah penampilan elo, nggak mungkin ada orang tua yang nggak kenal dengan anak kandungnya, Remos," jawab Galang tidak merubah gayanya.
"Ck ... ck ... ck, Galang ... Galang! Elo sendiri harus pikirin nasib elo itu yang disingkirin sama saudara tiri elo, kenapa ngurus hidup gue, hah!"
Bukannya menjawab, Galang malah menyunggingkan senyum. Kini gemuruh di dadanya hampir meledak karena ucapan Remos. Bahkan Remos sama sekali tidak merasa bersalah sebab telah menghajar juga mematahkan tangan sepuluh temannya.
Galang pun mengambil ponselnya dan menunjukkan rekaman cctv bagaimana bejatnya seorang Remos membabi buta dan disana wajah Remos terlihat jelas sebab dia tidak menggunakan kacamata hitam seperti biasanya.
Tentu saja Remos terkejut bukan main. Padahal semua anak buahnya sudah memeriksa dengan detail apakah ada kamera tersembunyi atau tidak. Namun pada kenyataannya Remos masih kecolongan.
"Kenapa? Kaget? Ck, elo kurang hati-hati, Remos. Well ... Karena gue punya bukti kuat, jadi inget aja kalau elo sampe apa-apain temen-temen gue lagi atau elo usik hidup gue dan keluarga gue, gue pastiin elo jatuh miskin. Gue nggak peduli sama geng motor elo sekarang karena polisi semakin pintar daripada elo. Dan ... gue harus kasih tau elo bahwa Galih itu Kakak kandung gue, bukan saudara tiri, inget!"
Galang mengangkat jari telunjuknya dan diarahkan tepat di depan wajah Remos yang merah padam seolah ingin segera menghabisi Galang. Padahal sebenarnya Galang juga tidak pernah mengusik hidup Remos. Hanya karena sebuah kekuasaan kecil dan kebaikan kecil yang selalu Galang lakukan, tiba-tiba Remos menjadi penuh dendam padanya.
Namun ancaman Galang mampu membungkam mulut Remos seketika itu juga. Remos tak berani berkutik sampai Galang benar-benar pergi dari markasnya.
Setelah Galang pergi, Remos meluapkan amarahnya dengan memukul bergantian anak buah dia bahkan mengacak-acak juga melempar benda apa saja di dekatnya.
__ADS_1
"Bajingann!" teriak Remos yang merasa kalah.
........