
"Brengsekk ... mampus! Elo harus mampus dan elo-elo semuanya, haha!" umpat Remos seraya memukul dan menendang tubuh Tomi dengan begitu keras bahkan Tomi sudah tak berdaya lagi kala itu. Ada beberapa orang yang ingin menolong, tetapi sungguh disayangkan karena mereka juga babak belur dihajar habis-habisan oleh anak buah Remos.
"Berani-beraninya elo semua nolong Galang, hah! Atau ... kalian semua udah bosen punya tangan? Oh ... baiklah-baiklah ... gue bakal kabulin keinginan kalian semua, haha!" ucap Remos lagi lalu memberikan kode pada anak buahnya untuk mematahkan tangan mereka yang pernah setia dengan Galang.
Sekitar sepuluh orang di markas lama tersebut telah tak berdaya karena amukan Remos juga anak buahnya. Markas lama itu juga diberitahu oleh penghianat karena markas baru untuk geng motor di bawah pimpinan Remos telah diresmikan di tempat lebih luas oleh Remos dan hanya beberapa saja yang awalnya mengikuti jejak Galang menjadi mengikuti jejak Remos.
"Arghhh!" teriak satu persatu orang-orang yang dipatahkan tangan-tangan mereka oleh Remos juga anak buahnya, termasuk Tomi yang seketika itu langsung pingsan karena dia yang paling parah diantara semua yang dihajar. Mereka hanya bisa menahan rasa sakit sebab sudah berusaha melawan, tetapi kalah personil.
"Makanya jadi orang nggak usah sok suci, hah! Cabut, biarin mereka menderita disini, heh!" ajak Remos untuk segera pergi dari tempat tersebut.
Untungnya ada satu diantara sepuluh orang itu yang berhasil sembunyi tanpa ketahuan sama sekali. Dia adalah Rian yang sedang bersembunyi di lubang bawah tanah yang sengaja ditutup oleh sampah dan beberapa kayu.
Tempat itu khusus untuk beberapa pemakai obat terlarang seperti Rian yang kala itu hendak menikmati obatnya, tetapi saat dia hendak keluar untuk mengambil pipet, Remos membuka paksa pintu dan Rian pun kembali masuk ke lubang tersebut untuk bersembunyi.
"Bang Tomi, Bang!" panggil Rian dengan isak tangis. Rian benar-benar tidak tega melihat Tomi yang pingsan dengan keadaan menyedihkan. Tentu saja dia juga merasa sebagai pengecut karena hanya bisa sembunyi dan tidak berani keluar.
"Yuda, Deni, Tihat ... dan ... arghhh! Gue harus segera panggil ambulans dan lapor polisi. Tapi nggak bisa langsung disini. Gue ... Gue harus bawa mereka keluar dulu," kata Rian bicara dengan dirinya sendiri.
Susah payah Rian memapah teman-temannya satu persatu dan menggendong Tomi keluar dari markas untuk dibawa ke daerah dekat pemukiman warga dan kemudian memanggil ambulans dengan alasan tawuran.
Memang tidak aneh laporan tersebut sebab sudah beberapa kali juga geng motor dibawah pimpinan Galang bolak-balik masuk rumah sakit serta penjara. Namun berbeda karena mereka semua bukan sembarang tawuran melainkan membela warga sekitar dari para preman tukang palak dan para pencuri.
Setelah ambulans datang menjemput, Rian tidak lupa mengirimkan pesan pada Galang dan memperingati Galang untuk berhati-hati terhadap Remos.
...***...
"Dek, Kak Galih mana?" tanya Galang yang celingukan mencari keberadaan sang Kakak, tetapi tidak dia temukan.
__ADS_1
"Iya, kemana bocah itu pergi nggak pamit," sahut Mami Laras yang juga mencari keberadaan Galih.
"Itu ... em, Kak Galih katanya ada meeting. Kayaknya penting banget soalnya tadi sedikit buru-buru perginya," jawab Airin sedikit gugup.
Ingin hati menceritakan tentang kedatangan perempuan yang katanya akan dijodohkan dengan Galang. Namun Airin takut jika hal itu membuat Galang sedih ataupun bingung. Akhirnya Airin memilih untuk tetap diam.
"Oh, lupa kalau dia itu CEO, Mam," kata Galang kemudian duduk di kursi tunggu. Mami Laras pun duduk di kursi tepat di sisi Galang.
"Mami lupa bilang kalau sebaiknya kamu belajar dengan Galih, Nak. Kamu yang sebenarnya lebih berhak mengelola perusahaan itu dari pada Galih."
"Nggak, Mam. Kak Galih lebih profesional dan lebih hebat dari Galang. Dia emang pantas dengan posisi itu. Lagi pula penampilan juga mendukung sebagai CEO muda berbakat. Sebaiknya Mami segera carikan dia istri supaya dia lebih berprestasi, Mam."
Airin tiba-tiba ingin menangis mendengar apa yang Galang katakan.
"Mami nggak mau ikut campur rumah tangga anak-anak Mami karena bukan Mami yang menjalani. Mami akan selalu mendukung apa pun dan siapapun pilihan Galih juga pilihan kamu. Mami yakin kalian bisa bedain mana yang baik dan mana yang buruk."
"Dek, kenapa?" tanya Galang dan Airin yang sejak tadi menundukkan kepalanya langsung mendongak menatap Galang dan Mami Laras bergantian.
"Eh, itu ... em maaf Kak, Airin mau ke toilet dulu ya?" Airin bergegas pergi dan membuat Galang khawatir.
"Mam, kayak ada yang nggak beres sama Airin. Galang mau nyusul dia dulu," kata Galang pada Mami Laras dan langsung mendapatkan anggukan kepala.
Galang bergegas mengikuti Airin ke toilet wanita dan ternyata dia sudah masuk ke dalam toilet. Galang pun menunggu tidak jauh dari pintu masuk toilet tersebut.
Cukup lama Airin ada di dalam dan Galang semakin khawatir. Akhirnya Galang melakukan panggilan telepon. Namun Airin tidak mengangkat panggilan tersebut.
Hingga lebih dari dua puluh menit, Airin baru keluar dari toilet dengan wajah sedikit basah seperti habis cuci muka.
__ADS_1
"Dek, kenapa? Apa Dek Airin menyembunyikan sesuatu?" tanya Galang seketika itu juga saat Airin keluar.
"Kak, ngapain di depan toilet cewek?" Airin balik tanya dan tentu saja juga terkejut.
"Saya yang seharusnya tanya, Dek. Apa Kak Galih mengatakan sesuatu yang buat Dek Airin sedih atau sakit hati?" selidik Galang.
"Astaghfirullah ... nggak kok! Tadi Airin cuma sakit perut dan pup," jawab Airin sedikit menahan tawa.
"Yakin?" tanya Galang masih curiga. Airin pun mengangguk seraya tersenyum manis. "Em ... kalau gitu kita kembali ke Mami, Dek." Lagi-lagi Airin mengangguk dan berjalan sejajar dengan Galang walaupun sedikit berjarak.
"Oiya, kabar Papa Kak Galang gimana? Masih belum bisa dijenguk?" tanya Airin tentu saja penasaran sebab tadi belum sempat bertanya.
"Operasinya berjalan lancar dan dokter bilang jantungnya baik-baik aja. Hanya ada penyumbatan sedikit. Tapi kalau dalan dua hari Papa belum sadar, bisa bahaya," jawab Galang terlihat sedih.
"Sabar ya, Kak. Allah memberikan ujian ini pasti ada hikmah yang tersembunyi. Sepertinya halnya Kak Galang yang langsung berbalikan dengan Mami juga Kak Galih," kata Airin memberikan semangat.
"Benar, Dek. Kalau Papa nggak begini pasti saya dan Mami juga Kak Galang masih salah paham. Semoga saya masih punya waktu untuk minta maaf juga sama Papa."
"Aamiin." Galang pun tersenyum melihat Airin yang sejak tadi juga tersenyum dan mencuri pandang padanya.
Namun belum juga mereka berdua tiba di depan ruang rawat Papa Baskoro, Galang mendapatkan pesan yang entah kenapa saat itu dia langsung membuka ponselnya. Padahal semenjak kenal dengan Airin, Galang tidak begitu peduli dengan smartphone tersebut.
"Bos, kami di keroyok Remos dan anak buahnya karena tau kondisi Bos selamat dari kecelakaan itu. Semuanya babak belur dan dipatahkan tangannya. Bang Tomi yang paling parah Bos. Sekarang dia nggak sadarkan diri."
Pesan dari Rian itu mampu membuat jantung Galang seolah berhenti sesaat. Ponsel yang dia pegang bahkan sampai jatuh dan Airin segera memungutnya lalu tak sengaja membaca pesan tersebut.
"Bos? Maksudnya apa, Kak? Kamu Bos preman atau Bos apa?" tanya Airin tak membuat Galang langsung menjawab.
__ADS_1
........