BAD BOY Pura-Pura Amnesia

BAD BOY Pura-Pura Amnesia
Bab 22


__ADS_3

Airin sudah menunggu Galang di depan pintu dengan wajah sumringah dan seperti orang yang tidak sabar menunggu kedatangan Galang. Namun tentu Galang tidak mau terlihat besar kepala walaupun kedatangannya sudah di tunggu oleh wanita yang dia suka.


"Kak Galang, tadi yang adzan ya?" tanya Airin dengan wajah senang begitu Galang memasuki teras rumah dan melepaskan sandalnya. Galang juga melihat ada sandal Abati juga Uma Siti disana.


"Iya, Dek. Kenapa emang?" tanya Galang pura-pura polos.


"Nggak pa-pa. Cuma tanya aja, Kak. Oiya, Kak Galang udah ditunggu sama Abati dan Uma. Mereka baru aja sampai." Galang mengangguk paham lalu masuk ke dalam rumah diikuti oleh Airin.


"Assalamu'alaikum," sapa Galang yang baru masuk ruang keluarga.


"Wa'alaikumsalam, Nak ... kamu kok baru datang sih," kata Uma Siti langsung menyambut dan memeluk Galang layaknya anak sendiri yang baru pulang dari jauh. Setelah berpelukan, Galang tak lupa mencium punggung tangan Uma Siti.


"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah, apa kabar kamu, Nak?" tanya ustadz Jefri yang juga memeluk Galang dengan beberapa tepukan di bagian punggung. Galang sangat bahagia dan benar-benar seperti disambut oleh orang tua sendiri saat ini.


"Alhamdulillah, Aba. Saya baik-baik saja. Aba dan Uma dari mana tadi?" kata Galang balik bertanya sambil duduk di tikar di depan tv.


"Ada acara di desa sebelah. Aba pikir akan pulang sebelum Dzuhur, tenyata perkiraan kami meleset. Aba jadi nggak denger kamu adzan di masjid." Galang tersipu malu.


"Nanti Galang bakal adzan lagi, Aba. Bila perlu tiap hari Galang akan adzan di masjid," jawab Galang masih tersipu malu.


"Alhamdulillah, terus kalau kamu mau tiap hari adzan di masjid, gimana keluarga Nak Galang disana? Apa Nak Galang diizinkan tinggal di desa ini?" Galang tiba-tiba merubah raut wajahnya menjadi sedih setelah ingat bagaimana perlakuan dan rencana Papa Baskoro.


Bahkan Galang sebenarnya sangat malas membahas perihal keluarga. Dia sangat ingin menganggap semuanya telah meninggal sama seperti sang Mama.


"Sebenarnya ... saya nggak berhubungan baik dengan Papa dan Mami saya, Aba. Sejak meninggalnya Mama," jelas Galang tertunduk.


"Innalilahi ...." Kompak Aba dan Uma. Sedangkan Airin terlihat lebih sedih dari pada Aba dan Uma.


"Maafkan kami, Nak. Kami nggak tau kalau Mama Nak Galang udah meninggal. Pasti berat ya menjalani hidup tanpa Mama. Tapi sekarang kamu punya Uma, jadi anggap aja Uma ini Mama kamu, Nak," kata Uma Siti seraya mengusap bahu Galang untuk menghibur.

__ADS_1


"Tapi ... bukannya kamu mau menikah dengan Airin, Nak? Lalu bagaimana kalau kamu menikah tanpa keluarga dan restu orang tua. Itu nggak akan baik," ujar ustadz Jefri yang langsung ditatap oleh Galang juga Airin.


Memang rencana awal seperti itu dan Galang memang memperjuangkan Airin. Bahkan Galang berharap gosip Airin dengan Gus Ipul tidak ada sama sekali. Namun Airin sendiri belum memberikan jawaban apa-apa.


"Restu orang tua juga penting, Nak. Walaupun kamu laki-laki dan nggak butuh wali, tapi kamu nggak mau kan menikah tanpa ada dukungan dan restu dan keluarga kamu." Galang kembali tertunduk saat ustadz Jefri melajukan ucapannya.


"Tapi ... Dek Airin sendiri belum memberikan jawaban apa-apa, Aba. Saya ... saya sendiri sudah mengatakan kalau saya nggak akan kembali ke rumah lagi setelah kepergian saya ini karena saya merasa ... saya merasa saya tidak diperlukan disana," ucap Galang semakin tertunduk. Uma Siti kembali mengusap-usap bahu Galang.


"Kak Galang, Airin mau kok jadi istri Kak Galang," sahut Airin seketika itu juga Galang langsung mendongak menatap Airin.


"Alhamdulillah ...." Kompak ustadz Jefri dan Uma Siti.


"Tapi ... Airin nggak mau menikah dengan Kak Galang tanpa mengenal orang tua Kak Galang. Setelah menikah nanti, bakti Airin akan beralih dari orang tua pada suami Airin. Sedangkan bakti Kak Galang nggak akan beralih pada istri melainkan tetap pada orang tua. Bagaimana kita bisa hidup bahagia dengan rumah tangga kita andai orang tua nggak merestui Kak?"


Galang yang awalnya mengucap syukur karena Airin menerimanya, kini berubah menjadi istighfar. Airin memang benar. Seburuk-buruknya orang tua, tidak akan ada namanya mantan Papa dan Mama, bukan?


"Bagaimana kalau Papa nggak merestui kita, Dek?" tanya Galang dengan nada frustasi.


"Kalau kita memang ditakdirkan untuk berjodoh, InsyaAllah semuanya akan dimudahkan."


"Tapi masalahnya, Papa udah jodohin saya dengan wanita lain, Dek. Ini akan sulit. Saya rasa ... kita menikah tanpa sepengetahuan mereka saja." Galang masih terlihat frustasi.


"Astaghfirullah ... Nak, jangan begitu. Nggak baik." Uma Siti masih mencoba menghibur Galang.


"Benar, Nak. Kalau memang kalian berjodoh, semuanya pasti akan dimudahkan. Kalaupun butuh perjuangan, Aba siap bantu andai diperlukan," sahut ustadz Jefri yang juga mengusap sebelah bahu Galang.


"Saya-"


"Assalamu'alaikum," salam seseorang dari luar terpaksa Galang menahan diri.

__ADS_1


"Uma, coba tolong liat ada siapa di depan," kata ustadz Jefri dan Uma Siti mengangguk paham.


"Sepertinya ... yang datang itu Gus Ipul, Aba. Saya tadi ketemu di masjid dan pulang dari masjid," jawab Galang yang sudah hafal dengan suara Gus Ipul. Namun tentu saja dalam hati bertanya-tanya, mau apalagi laki-laki itu padahal sudah dia nasehati tadi.


Mendengar jawaban Galang, sontak semuanya terkejut, termasuk Airin tentunya. Namun akhirnya semua orang kompak untuk ke ruang tamu dan melihat siapa yang datang.


"Wa'alaikumsalam," jawab ustadz Jefri yang sedikit terkejut karena memang yang datang adalah Gus Ipul dan itupun sendiri tanpa ustadz Hafiz.


Gus Ipul pun masuk setelah dipersilahkan dan dengan takdim nya berjabat tangan dengan ustadz Jefri lalu menangkupkan kedua tangannya saat bertatap dengan Uma Siti dan Airin. Sedangkan pada Galang dia berjabat tangan layaknya teman.


"Mari silahkan duduk, Gus. Ada apa gerangan datang panas-panas begini?" tanya ustadz Jefri tanpa basa-basi.


"Terima kasih, Ustadz," jawab Gus Ipul yang kemudian duduk di kursi.


"Bukannya tadi udah saya jelaskan, Gus? Apa masih kurang paham?" kata Galang menyela sebelum Gus Ipul bicara.


"Maksudnya apa, Nak?" tanya ustadz Jefri yang tidak paham maksud Galang.


"Tadi Gus Ipul kesini dan memaksa Airin untuk tetap menerima khitbah nya, Aba," jelas Galang tentu saja ustadz Jefri dan Uma Siti terkejut bukan main.


"Apa? Gus Ipul maksa anak saya?" tanya ustadz Jefri hampir meninggikan suaranya.


Gus Ipul terlihat gugup dan bingung mau menjelaskan dari mana terlebih dahulu.


"Jawab dong, jangan diem aja!" kata Galang meledek.


"Sebenarnya memang benar kalau saya tadi kemari bahkan saya bersikap tidak sopan pada Dek Airin. Tapi ... tapi saya kembali lagi bukan untuk membahas masalah yang sebenarnya memang tidak perlu di perpanjang," jelas Gus Ipul membuat semuanya mengangkat satu alisnya.


........

__ADS_1


__ADS_2