
Setelah selesai makan malam dengan penuh drama, akhirnya Mecca bisa bernapas dengan lega saat dia bisa menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur di sisi Airin. Keduanya bersama Mami Laras yang sepanjang perjalanan menceritakan tentang kebaikan dan prestasi yang diraih oleh Galih. Sedangkan Galih dan Galang kembali berjaga di rumah sakit.
"Astaghfirullah ... ya Allah, astaghfirullah ... kenapa Mecca jadi nurut begini?" tanya Mecca pada dirinya sendiri seraya menatap langit-langit kamar yang asing baginya.
Sejak mulai makan mie ayam, Mami Laras terus membujuk Mecca untuk pulang ke rumah alih-alih agar Airin ada temannya. Awalnya Mecca menolak sebagai alasan kalau esok akan ada kuliah pagi, tetapi Mami Laras mengatakan bahwa Mecca bisa di antar oleh supirnya.
"Teh, kayak ada yang aneh deh sama Tante Laras itu, iya kan?" kini Mecca memiringkan tubuhnya menghadap pada Airin yang sedang tersenyum. "Tuh, Teteh nyembunyiin sesuatu ya sama Mecca?" selidik Mecca.
"Nggak kok, apa yang harus Teteh sembunyikan dari kamu? Teteh cuma seneng banget akhirnya bisa ketemu sama kamu setelah sekian tahun. Kamu sama sekali nggak berubah, beda sama Mikka yang super kalem."
Mecca malah kembali dengan posisinya setelah mendengar jawaban Airin yang tidak memuaskan rasa penasarannya. Namun dia tiba-tiba ingat jika pernah menyinggung Galih dan berharap pria arogan itu tidak ingat masa dimana sepatunya melayang ke hadapannya karena mengejar copet.
"Kok diem aja? Kamu nggak kangen sama aku?" tanya Airin yang langsung mengubah posisinya menghadap pada Mecca yang terlihat khawatir dan malu.
__ADS_1
"Teh, mungkin nggak ya dia lupa?" gumam Mecca, tetapi Airin tidak paham maksudnya.
"Apa yang harus dilupakan?" selidik Airin ingin memperjelas. Namun Mecca langsung beranjak dari tempat tidur dan segera pamit ke kamar mandi.
...***...
"Lang, besok kamu harus ikut aku ke kantor. Kamu juga harus belajar banyak tentang perusahaan," kata Galih, tetapi Galang tidak begitu menanggapi tawaran tersebut. Dia sibuk membalas pesan dari Rian. "Galang!" seru Galih dengan nada tinggi sebab tidak di respon baik oleh adiknya.
"Gila elo? Terus mau kamu makan apa istrimu nanti kalau kamu nggak kerja? Lagian itu perusahaan temurun kamu, bukan aku. Kamu yang lebih pantas jadi direktur karena kamu keturunan Mami Sarah."
Galang kembali tersenyum hambar. Walaupun pada kenyataannya benar dan bahkan jika terjadi sesuatu dengan Papa Baskoro, perusahaan itu akan jatuh ke tangan Galang, bukan Galih.
"Aku akan buka usaha kecil-kecilan, Kak. Ya walaupun nggak hidup dengan harta berlimpah, aku yakin kok Airin akan ada mendampingi aku."
__ADS_1
"Jangan munafik, Galang! Kamu kira jaman sekarang apa-apa nggak butuh duit? Pokoknya aku nggak mau tau ya, kamu harus belajar tentang perusahaan. Nggak ada kata nggak buat besok, mengerti!" tegas Galih dan Galang mengangguk.
"Apa aku bisa , Kak?" kata Galang ragu.
"Lang, biaya hidup jaman sekarang itu nggak butuh hanya sekedar sederhana. Mungkin Airin akan paham dengan usaha yang akan kamu bangun dari nol, tapi nggak akan ada orang tua yang mau anak gadisnya hidup susah, Galang. Emang kamu yakin kamu dan Airin bakal hidup sehat terus dan nggak butuh biaya besar untuk ini itu?"
"Tapi, Kak ... Airin pengennya tinggal sama orang tuanya."
"Nggak mungkin, Galang. Aku yakin kemanapun kakimu berpijak, Airin pasti akan mengikuti kamu. Aku hanya baca dari sikapnya aja."
Galang mulai berpikir. Abati dan Uma Siti memang sudah berumur setengah abad dan tidak ada juga yang bisa menjamin kesehatan mereka kedepannya. Galang pun menghela napas dan memutuskan untuk bicara dengan Airin esok hari.
........
__ADS_1