
Airin kembali dari musholla bersamaan dengan Galih dan Galang yang pulang dari Masjid. Airin menyapa dengan sedikit menundukkan kepalanya juga sebuah senyuman khas kepada Galang kemudian kepada Galih. Namun sayang Galih tidak mau ada kesalahpahaman lagi dengan Galang, jadi Galih bersikap cuek.
"Kok Kak Galih begitu sih?" batin Airin merasa tidak punya salah, tetapi tidak enak hati melihat sikap Galih.
"Eh, Airin, tadi ada telepon Mami angkat karena berisik. Maaf ya!" ujar Mami pada Airin yang langsung mengangguk.
"Emang dari siapa, Mam?" tanya Airin kemudian duduk di sisi Mami Laras dan mengambil tasnya untuk mengecek ponsel.
"Em, kalau nggak salah dari Mecca, deh!" jawab Mami Laras tidak terlalu suka dengan penelpon tadi. Airin tersenyum mengingat nama yang disebutkan oleh Mami Laras.
"Oh, itu sepupu Airin, Mam. Dia kuliah di sini. Tapi udah semester akhir," jelas Airin dan melihat riwayat pesannya. "Mami share lokasi? Pasti dia ngotot pengen ketemu ya, Mam? Dasar Mecca, emang selalu nggak sabaran." Airin mencoba menelpon kembali, tetapi tidak terhubung.
"Iya, dia tiba-tiba nyerocos aja tadi. Kayaknya dia salah paham gitu. Ya udah Mami kirim aja lokasi kita," sahut Mami yang sejak tadi diperhatikan oleh Galang dang Galih.
"Mecca kayak gimana Dek orangnya? Cantik, nggak?" tanya Galang langsung mendapatkan tatapan sinis dari Mami Laras.
"Galang! Bisa-bisanya kamu tanya kecantikan wanita lain di hadapan calon istri kamu!" teriak Mami Laras sedikit marah.
"Mam, ini rumah sakit, bukan hutan!" ucap Galih agar sang Mama lebih memperhatikan nada bicaranya.
Namun Mami Laras malah menyilangkan kedua tangannya di dada sebab kesal dengan Galang yang tidak pekak dan kaku tersebut. Hal kecil seperti itu tentu saja bisa menimbulkan rasa cemburu pada Airin. Sayangnya Galang malah terang-terangan menanyakan kecantikan Mecca.
"Habisnya adik kamu agak-agak emang," kesal Mami Laras lalu membuang muka.
"Mam, maksudnya Galang itu yang namanya Mecca ini cocok nggak sama Kak Galih karena Galang nggak mau menikah kalau Kak Galih belum menikah. Jangan langsung salah paham dong! Calon istri Galang aja nggak kenapa-kenapa kok!" jelas Galang dan sang Mami kembali menatapnya.
"Apa? Oh ... nggak-nggak! Mami nggak setuju ya! Dari cara bicaranya aja jauh banget sama Airin. Dan satu lagi, kamu mau nunda pernikahan kamu sama Airin sampai Galih menikah? Astaga ... kamu waras, Galang? Kamu nggak mikirin perasaan Airin?" Lagi-lagi Mami Laras meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Mam, pelan-pelan, oke!" Galih kembali mengingat Mami Laras dan akhirnya Mami Laras pun mengatur napasnya yang ngos-ngosan akibat ucapan Galang. Airin malah terlihat menahan tawa dengan sikap berlebihan Mami Laras. Padahal Airin juga merasa itu berlebihan.
"Mam, nggak pa-pa kok! Galang yakin Airin mengerti. Kami juga nggak buru-buru, begitu kan, Dek?" Galang menoleh pada Airin dan Airin mengangguk tanda setuju. Tentu Airin paham maksud Galang karena di tempat dia tinggal juga menganut mitos yang dikhawatirkan oleh Galang.
"Mami, Airin yakin Mami bakal suka sama Mecca. Selain dia cantik, dia juga berpendidikan. Nggak seperti Airin yang cuma lulusan SMA aja. Mecca aslinya dia lemah lembut kok, Mam. Dia blak-blakan hanya sama beberapa orang aja," jelas Airin mengusap punggung tangan Mami Laras mencoba memberikan pengertian agar tidak terlalu khawatir.
"Maksudnya bukan pendidikan, Airin. Mami nggak maksud bandingin pendidikan kamu dengan wanita lain," ujar Mami tidak enak hati dengan Airin.
"Namanya Mecca Alfaruq, Mam. Bukan wanita itu. Airin bicara apa adanya, Mam. Airin nggak pa-pa. InsyaAllah Mecca wanita baik-baik karena Airin kenal betul siapa orang tuanya. Mami pasti suka," sahut Airin masih berlemah-lembut.
"Ya tapi Galih bakal suka, nggak? Itu masalahnya. Dia itu tertutup sama cewek. Kerja aja yang dia pikirkan. Apalagi ...."
"Mam, stoped!" protes Galih menahan apa yang hendak diucapkan oleh sang Mama. Wajahnya tiba-tiba berubah datar dan dingin. Seolah Galih saat ini adalah CEO arogan.
"Cie ... cie ... pasti Kak Galih deg-degan ya mau ketemu sama calon istri? Aku yakin ini jawaban dari apa yang aku khawatirkan tadi, Kak," ledek Galang seraya menyikut lengan Galih.
"Khawatir apa sih?" tanya Mami Laras bingung.
"Jangan asal bicara ya?" protes Galih. Namun Galang semakin melebarkan senyumnya.
"Kalian apa-apa sih?" tanya Mami Laras yang masih bingung juga sedikit kesal.
"Tadi Kak Galang setuju kok Mam kita ngadain pesta pernikahan bareng karena Galang nggak mau melangkahi Kak Galih. Dia juga setuju dan minta dicariin calon. Nah kebetulan kan Mam ada wanita namanya Mecca ini tiba-tiba hadir. Galang yakin Kak Galih cocok nih," jelas Galang dan Mami Laras cukup terkejut.
"What's? Yang bener Galih kamu setuju menikah?" Mami Laras segera berpindah tempat duduk dan memeluk lengan anaknya. "Mama seneng banget dengernya kamu mau menikah, Nak. Mama pikir kamu penyuka sesama jenis, alhamdulilah Mama salah sangka," lanjut Mami Laras membuat Galang tertawa terbahak-bahak dan Galih malah kebingungan.
Keputusannya untuk fokus mengembangkan bisnis Papa Baskoro ternyata membuat sang Mama berpikir negatif. Padahal dia hanya ingin fokus sebagai tanda bakti kepada orang tua.
__ADS_1
"Galang, nggak lucu!" seru Mami Laras, sayangnya tidak membuat Galang berhenti tertawa sebab Galih disangka penyuka sesama jenis oleh Mamanya sendiri.
"Sumpah, Kak! Asli aku sampe sakit perut kamu disebut gay sama Mami. Astaghfirullah ... Kak udahlah sikat aja si Mecca ini. Aku yakin hidupmu akan berubah seratus delapan puluh derajat plus Mami langsung punya dua cucu nanti, pasti seru, haha!" Lagi-lagi Galang kembali terbahak-bahak dan tidak peduli dimana mereka sekarang.
"Kamu ini apa nggak lihat kondisi sih? Kita di rumah sakit. Jaga nada bicaranya! Ketawa udah kayak orang gila," kata Galih menjewer telinga Galang.
"Aw, iya ampun, Kak!" mohon Galang. Akhirnya Galih melepaskan tangan yang menjewer telinga Galang.
"Kita liat dulu ya yang namanya Mecca ini gimana? Kalau kata Airin baik, Mama yakin pasti dia baik," bujuk Mami Laras.
"Nggak! Galih mau pulang dulu mau mandi mau istirahat besok ada meeting penting," ujar Galih melepaskan tangan sang Mama dan beranjak dari tempat duduknya.
"Cie cie ... mau mandi, pasti nggak pede karena bau dan merasa kurang tampan karena belum mandi seharian," ledek Galang benar-benar membuat Galih kesal.
"Terserah elo, Galang!" ucap Galih dengan nada menekan.
"Tunggu dulu, Galih!" cegah Mami Laras, tetapi Galih memilih untuk berbalik badan dan melangkah pergi.
Namun ternyata saat ada belok arah, Galih justru hampir menabrak Mecca yang datang bersama Airin. Galih dan Mecca saling menatap satu sama lain beberapa detik hingga akhirnya Galih menggeser kaki ke kiri. Sayangnya Mecca melakukan hal yang sama untuk menghindari Galih.
Airin tersenyum melihat Galih dan Mecca kembali bertatapan, tetapi Galih lagi-lagi mencoba menghindar dan menggeser posisi kakinya ke kanan. Ternyata Mecca juga demikian.
"Elo bisa jalan nggak sih! Kenapa dari tadi ngikutin langkah gue?" ujar Galih pada Mecca yang langsung terkejut karena nada bicara Galih yang sedikit meninggi.
"Astaghfirullah, Tuan yang terhormat! Mohon maaf sekali jika perilaku saya baru saja menyinggung anda. Silahkan anda pergi duluan!" jawab Mecca dengan senyum terpaksa menggeser posisi ke arah kiri untuk memberikan Galih jalan.
Tanpa basa-basi lagi, Galih segera melangkah pergi dari ruang tunggu tersebut. Namun entah kenapa sebelum benar-benar pergi lebih jauh, Galih menoleh menatap wajah Mecca yang masih senyum terpaksa.
__ADS_1
"Sepertinya aku pernah melihat gadis itu, tapi dimana?" batin Galih.
........