
"Laras, aku kesini mau minta tolong sama kamu," kata Sarah duduk berhadapan dengan Laras. Namun Laras yang sibuk menggendong Galih tidak bisa fokus karena memang Galih sedang sakit.
"Iya, Sar. Kamu mau jauh-jauh datang kemari, ada apa? Sepertinya sangat penting," tanya Laras sambil memberikan asi pada Galih agar lebih tenang.
"Iya, sangat penting, Ras. Tapi aku mau bicara kalau Mas Baskoro dan Kak Romi disini." Laras menatap bingung Sarah yang terlihat pucat.
"Mas Bas? Emang kenapa harus ada Mas Bas dan Kak Romi, Sar? Kamu tau mereka lagi ada di rumah?"
"Tolong, ini sangat penting," mohon Sarah dan akhirnya Laras memanggil Baskoro suaminya yang sedang mengurus Ayah mertuanya yang sedang stroke bersama dengan Romi, Kakak kandung Laras.
Beberapa saat kemudian, mereka semua berkumpul di ruang tamu dengan kursi bambu yang sudah mulai usang. Bahkan rumah yang dipijak oleh Sarah saat ini hanya rumah papan tanpa keramik dengan banyak liang semut karena hanya tanah padat lantai rumah Laras saat itu.
"Kak Romi masih kuliah jurusan hukum?" tanya Sarah dan Romi mengangguk.
"Alhamdulillah, beasiswanya sampai S2, Sar. Kenapa kamu tiba-tiba tanya begitu?" jawab Romi ikut heran.
"Mas Baskoro, Laras dan Kak Romi, aku datang kemari untuk minta bantuan kalian. Jangan memotong pembicaraan aku dan jangan langsung ambil keputusan, tapi pikiran baik-baik. Apalagi kita sudah sangat dekat bahkan seperti saudara." Penuturan Sarah membuat semua orang kebingungan.
"Sebenarnya ... ada apa, Sar? Kamu terlihat kurang sehat. Apa kamu sakit? Apa sangat penting sampai kamu jauh-jauh datang kesini sendirian?" tanya Baskoro yang cukup khawatir melihat kondisi Sarah yang begitu pucat.
Sarah, Laras dan Baskoro adalah teman semasa sekolah SMA. Awalnya mereka terlibat cinta segitiga. Namun Sarah mengalah saat tahu Laras menyukai Baskoro. Sampai akhirnya Baskoro dan Laras memutuskan untuk menikah siri dan merahasiakan pernikahan mereka berdua setelah lulus sekolah menengah atas.
Namun Baskoro yang cerdas berhasil mendapatkan beasiswa dan kuliah di bidang MBA atau Master Of Business Administration di kampus ternama di ibu kota dan menjalani married distance relationship dengan Laras.
"Aku memang sedang sakit, Mas. Aku mengidap tumor otak dan dokter mengatakan kalau umurku nggak akan lama lagi," jelas Sarah dan semua orang tentu saja terkejut.
"Innalilahi, Sarah ... sekarang kondisi kamu bagaimana? Kenapa harus jauh-jauh ke desa begini sedangkan kamu masih sakit? Kita bisa bicara lewat telepon, kan?" kata Laras iba. Walaupun sudah beberapa tahun tidak bertemu, mereka tetaplah sahabat dan sering berkomunikasi hanya untuk saling menyapa saja.
Sarah yang memang punya basic anak orang kaya, dulu memilih sekolah di sekolah biasa demi bisa dekat dengan Baskoro yang tidak sengaja dia temui di jalan. Akhirnya Sarah meminta pindah sekolah. Saat itu Baskoro memang sudah dia sukai sejak sekolah menengah pertama.
Ternyata saat masa putih abu-abu, Sarah bertemu dengan Laras yang kebetulan memang bertetangga dengan Baskoro. Akhirnya Sarah menjalin persahabatan dengan Laras demi bisa dekat dengan Baskoro. Walaupun pada akhirnya mereka benar-benar jadi sahabat baik bahkan Sarah merelakan Baskoro demi Laras.
"Nggak bisa. Ini menyangkut hubungan pernikahan kalian, Ras." Sarah mulai berat bicara.
__ADS_1
"Ma-maksud-maksudnya?" Laras mulai gugup.
"Izinkan aku menikahi Mas Baskoro, Ras. Dia laki-laki yang tepat untuk menggantikan posisi Papaku. Kalian juga hanya nikah sirih dan belum ada yang tau tentang pernikahan kalian. Tolong ... bantu aku, Ras! Semua kebutuhan keluarga kamu termasuk Galih juga pengobatan Ayah kamu akan aku tanggung. Semuanya bahkan setelah aku mati, harta yang aku punya akan jadi milik Mas Baskoro dan kamu juga bisa kembali dengan Mas Baskoro kelak, Ras."
Baik Baskoro maupun Romi juga Laras sangat terkejut hingga mereka beranjak dari tempat duduknya. Laras sendiri hampir menjatuhkan Galih yang sedang minum asi.
"Kamu gila, Sar!" teriak Romi. Sebagai seorang Kakak laki-laki, tentu saja dia hanya mau adiknya Laras hidup bahagia. Bahkan menikahkan dengan Baskoro saat lulus sekolah saja sangat berat. Namun kali ini ada wanita yang terang-terangan meminta suami adiknya.
"Kak Romi, aku udah bilang pikirkan baik-baik. Begitu Kak Romi lulus, Kak Romi bisa jadi pengacara di keluarga Cendana, Kak. Saat itu tiba, nama Kak Romi akan gampang dikenal. Dan ... lihat kondisi kalian saat ini, butuh banyak uang, bukan? Apalagi Ayah butuh pengobatan. Aku nggak minta Mas Bas dan Laras cerai. Anggap aja ini pernikahan bisnis. Kalian bisa bersatu kembali saat aku mati. Aku juga nggak akan melarang kalian buat bertemu asalkan rahasia tetap terjaga demi nama baik Cendana group."
Laras pun duduk kembali di kursi bambu dengan keadaan lemas. Galih yang tidur segera diraih oleh Baskoro dan memindahkannya di ayunan.
"Kalau hari ini aku pulang nggak bawa calon suami, maka Papaku akan menjodohkan aku dengan pria lain. Sedangkan aku nggak tau pria itu bisa menerima aku dengan baik atau hanya akan mengambil alih Cendana group dari tangan Papaku yang udah sakit-sakitan juga. Tolong, Ras, Mas Bas dan Kak Romi. Pikirkan baik-baik permintaan aku! Demi Ayah, demi masa depan Galih dan demi kehidupan kalian yang lebih baik lagi. Aku nggak rela kalau sampai Cendana group jatuh ke tangan yang salah, Ras."
Sebenarnya alasan utama Sarah adalah karena memang masih sangat mencintai Baskoro dan enggan untuk memberikan keperawanannya pada pria lain yang tidak dia cintai.
Namun ternyata permintaan Sarah dipenuhi oleh Laras walaupun Baskoro menolak, tetapi apa yang dikatakan Sarah banyak benarnya. Sampai di rumah pun Papa Sarah setuju putrinya menikah dengan Baskoro karena sebenarnya Sarah sudah menceritakan bahwa dia mencintai laki-laki secara diam-diam sejak sekolah SMP. Jadi Papa Sarah meminta Sarah membawa laki-laki tersebut.
...***...
Mami Laras kembali menangis mengingat apa saja yang telah Sarah lakukan untuknya. Bahkan sebenarnya dia juga menyesal karena tidak tahu jika Sarah mencintai Baskoro lebih dulu jauh sebelum dirinya.
Galang juga tertunduk dengan beberapa tetesan air mata. Dia tentu saja hampir tidak percaya dengan semua cerita Mami Laras di depan ruang operasi sang Papa. Airin tidak bisa berkata apa-apa. Di duduk di sisi Galang dan setia mendengarkan cerita Mami Laras.
"Tapi kondisi Mama kamu ternyata semakin memburuk. Akhirnya Mama kamu memutuskan untuk mengirim kamu tinggal di pondok pesantren. Selama kamu di pondok bahkan melarang kamu pulang, Mama kamu berobat kesana-kemari. Tapi ternyata bukan hanya Mama kamu yang sakit, tapi Papamu juga."
Galang kembali terkejut. Selama ini dia tidak tahu apa-apa dan memang benar saat Galang ingin pulang selalu dilarang oleh sang Mama. Namun Saat pulang dari pesantren setelah tiga tahun tepatnya saat wisuda sekolah madrasah Tsanawiyah, Galang melihat Mama Sarah memakai jilbab tertutup. Galang pikir kalau Mamanya benar-benar memakai jilbab karena kewajiban.
Padahal sebelumnya tidak pernah, walaupun berkunjung ke pondok, biasanya hanya memakai pasmina yang di ikat di leher saja dan rambutnya masih kelihatan. Galang jadi berpikir mungkin saat itu kepala sang Mama sudah tidak ada rambutnya.
"Papa kamu mengidap penyakit arteri koroner dan harus mendapatkan jantung baru dengan golongan darah bahkan rhesus nya harus sama. Tapi nggak ada yang begitu, kecuali Mama kamu." Mami Laras menghela napas dan hampir kembali menangis.
"Laras, apa kamu akan ceritakan semuanya?" tanya Pak Romi dan Laras mengangguk mantap karena Galang sudah saatnya tahu semua kebaikan Sarah walaupun dia janji tidak akan cerita apa-apa pada Galang.
__ADS_1
"Sebenarnya selama ini Mami selalu ada di dekat Mama kamu. Bahkan saat kondisinya tidak stabil, Mama kamu selalu berpesan untuk menyayangi dan menganggap kamu sebagai anak Mami saat Mami bersama kembali dengan Papa kamu. Mama kamu selalu bilang saat nanti dia meninggal, semua barang yang berhubungan dengannya harus dibuang, semuanya harus disingkirkan demi kebaikan kamu. Mami nggak pernah benci Mama kamu, Galang. Walaupun pernikahan Mama kamu dengan Papa kamu resmi sedangkan dengan Mami hanya siri, tapi kebaikan Mama kamu nggak ada habisnya untuk Mami. Malah Mami merasa Mami yang telah merebut Papa dari Mama kamu. Mama kamu hanya berpesan untuk memberikan kotak perhiasan yang pasti kamu udah tau itu."
"Lalu maksudnya ginjal?" tanya Galang lirih. Tentu saja dia ingat apa yang diucapkan Galih sebelum pergi.
"Mungkin kamu lupa karena saat itu kamu demam tinggi setelah kelulusan Tsanawiyah. Harusnya kamu ingat saat setelah wisuda itu kamu jatuh sakit dan kamu sering mengeluh sakit perut sampai tembus ke pinggang. Ternyata kamu tekena batu ginjal. Saat itu ginjal kamu hampir rusak karena ada dua batu besar dan banyak sekali batu kecil di ginjal kanan kamu. Operasi pengangkatan batu juga percuma karena tetap akan merusak ginjal kamu. Akhirnya Mama kamu mendonorkan ginjalnya sama kamu karena dia merasa umurnya nggak lama lagi."
Tangis Galang pun pecah. Dia tertunduk dengan kedua tangan yang menopang kepala. Ada banyak sekali penyesalan yang Galang rasakan saat ini. Bahkan pikiran buruk tetang Mami Laras dan Galih harus segera dia singkirkan karena sebenarnya Galih benar-benar Kakak Galang, bukan Kakak tiri karena meraka satu Ayah.
Sialnya lagi, Galang bahkan menuduh Maminya berselingkuh padahal Pak Romi juga bagian dari keluarganya sendiri yang seharusnya dia memanggil dengan sebutan 'Pakde'.
Lima tahun Galang merasa orang paling tidak beruntung karena kehilangan sang Mama. Galang terus menyalahkan Papanya karena menikah lagi dan menyingkirkan semua kenangan dengan sang Mama. Ternyata semua pikiran itu adalah salah. Seharusnya dia tahu semua cerita itu dari awal.
Mami Laras membiarkan Galang menangis sebagai tanda ungkapan perasaan yang pasti hancur mendengar cerita kehidupan mama Sarah yang pasti sangat berat menyembunyikan penyakit dan hidup dengan satu ginjal sejak Galang masih sekolah.
"Seharusnya Galang lebih peka dengan kondisi Mama dan nggak biarin Mama menahan semua rasa sakit itu sendirian. Galang emang anak yang nggak berguna, Ma."
"Nggak, Galang! Kamu anak kebanggaan Mama juga Mami. Kamu bisa kembali seperti sebelum kehilangan Mama kamu aja, Mami dan Papa udah sangat bahagia. Kamu harus tetap jadi Galang kebanggaan Mama, Papa dan Mami, hm?"
Galang tak kuasa untuk tidak memeluk Mami Laras. Galang sangat dan amat menyesal karena tidak pernah bersikap baik pada sahabat sang Mama yang padahal sudah berusaha berperan menjadi Ibu yang baik untuknya.
"Maafin Galang, Mi. Tolong ... maafin Galang," ucap Galang di sela isak tangisnya dalam pelukan Mami Laras.
"Nggak, Nak. Kamu nggak salah. Kamu hanya tersesat sebentar aja. Tapi Mami akan terima permintaan maaf kamu, Nak." Galang mengangguk dalam pelukan Mami Laras.
Beberapa saat kemudian setelah saling berpelukan, Galang berhenti menangis dan ingin mendengar lebih banyak lagi apa yang tidak dia tahu selama ini. Galang kembali menatap Mami Laras yang bahkan matanya sudah mulai bengkak karena menangis.
"Lalu jantung Papa, gimana?"
"Jantung Papa kamu juga adalah jantung Mama kamu, Galang. Beberapa bulan sebelum Mama kamu meninggal, pemeriksaan jantung dan semuanya udah dilakukan dan udah dipersiapkan secara matang. Kamu pasti nggak tau Papa kamu operasi setelah Mama kamu dimakamkan. Papa kamu juga sempat drop karena awalnya ada penolakan. Kamu hanya berdiam diri di kamar dan membuat Papa kamu khawatir. Tapi akhirnya Papa kamu bisa melewati masa kritisnya."
Galang benar-benar menyesali apa yang telah dia lewati selama ini. Dia sangat menyesal karena tidak paham dengan kondisi kedua orang tuanya.
"Beberapa bulan terakhir ini Papa kamu sering keluar masuk rumah sakit. Dia sangat khawatir dengan kondisi kamu dan akhirnya memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan anak Tuan Aji yang kebetulan saat itu Tuan Aji sendiri yang meminta perjodohan itu bahkan memberikan banyak keuntungan untuk masa depanmu. Papa kamu ingin ada wanita yang mencintaimu dan menemanimu setelah dia meninggal. Dia ingin hidup Kamu terjamin walaupun pembagian harta antara Kamu dan Galih lebih besar kamu. Tapi Papa kamu ragu Kamu bisa mengelola perusahaan, makanya selama ini Galih yang mengambil alih perusahaan. Kamu juga pasti tau pasti gadis itu sangat mencintai kamu, Galang. Jadi Papa kamu setuju dengan perjodohan itu dan berharap anaknya Galang bisa menjadi lebih baik seperti sebelumnya."
__ADS_1
Lagi dan lagi, Galang tidak bisa berkata apa-apa karena sebenarnya Papa Baskoro begitu perhatian juga terhadap Galang, bukan hanya pada Galih seorang, tetapi Galang tidak pernah mengerti dengan maksud dan tujuan sang Papa dan hanya menyalahkan saja bisanya. Galang dirundung pilu.
........