
"Mecca, kamu mau makan malam sama apa?" tanya Mami Laras dengan lembutnya setelah selesai solat dan kembali duduk di ruang tunggu di sisi Mecca. Tentu saja Mecca bengong ditanya perihal ingin makan malam dengan apa, sebab dia merasa orang lain, bukan orang terdekat Mami Laras.
"Eh, itu ... em anu, Tante ... em apa aja, saya suka semua makanan," jawab Mecca sedikit gugup dan masih canggung walaupun sebelumnya mereka sudah mengobrol cukup lama. Apalagi pertanyaan itu terlalu aneh baginya sebabnya seharusnya Airin yang lebih berhak mendapatkan pertanyaan ingin makan malam dengan apa karena dia calon menantu, bukan Mecca.
"Udah Tante bilang kan kalau panggil aja Mami, sama seperti Airin. Lagian kamu kan sebentar lagi jadi menantu Mami," sahut Mami Laras seraya menahan tawa.
Mecca yang tadinya bingung semakin bingung dengan tutur kata itu. Kenapa dia bisa jadi calon menantu juga?
"Maksudnya ... apa, Tan?" tanya Mecca menatap aneh Mami Laras yang masih menahan tawa dengan sesekali melirik Airin.
Tentu saja Mami Laras keceplosan dan malah bingung lalu kembali melirik Airin untuk membantu menjelaskan rencana mereka sebelumnya.
"Mam, gimana kalau makan nasi padang aja?" usul Airin yang sebenarnya tahu maksud dari Mami Laras.
"Boleh, Mecca suka nasi padang?" tanya Mami mengalihkan pembicaraan yang sebelumnya.
"Suka banget, Tan. Tapi, Teh, Mecca lagi pengen mie ayam nih," keluh Mecca menggoyang-goyangkan tangan Airin.
"Boleh juga tuh, Mami udah lama nggak makan mie ayam. Oiya sekalian aja deh telpon Galang sama Galih, katanya tadi nggak jadi pulang." Mami Laras segera mengambil ponselnya di tas. Namun ternyata Galih dan Galang tiba sebelum Mami Laras melakukan panggilan telepon.
"Mam, makan dulu yuk!" ajak Galang begitu dia sampai.
"Kebetulan banget sih, baru aja Mami mau telpon, eh udah nongol. Ini Mecca ngajak makan mie ayam, kita cari di depan aja yuk!" sahut Mami Laras beranjak dan menghampiri kedua anaknya. Mecca kembali bengong. Nama dia kembali disebut dan seolah ada unsur kesengajaan.
__ADS_1
"Teh, itu calon mertua Teteh teh kenapa, Teh?" bisik Mecca pada Airin. Namun Airin hanya mengangkat kedua bahunya. "Ish, si Teteh nih gimana sih!" bisik Mecca lagi seraya mencubit pelan pinggang Airin.
"Boleh juga, Mam. Kalau nggak salah Kak Galih suka banget sama mie ayam," ledek Galang yang padahal tidak tahu sama sekali apa makanan kesukaan Galih. Seketika itu Galih yang memasang wajah jutek berubah semakin jutek.
"Mana ada!" seru Galih lalu memukul bahu Galang.
"Ya adain aja, Kak!" jawab Galang masih cengengesan.
"Teh, yakin mau masuk ke keluarga aneh ini?" bisik Mecca yang hanya di tanggapi dengan tawa yang tertahan oleh Airin.
"Elo ...." Galih tidak meneruskan bicaranya saat tiba-tiba Mecca terlihat gelisah. Wajah yang cukup imut itu membuat Galih yang ingin memukul Galang menjadi enggan.
"Udah, jangan bertengkar! Mecca, ayo kita makan mie ayam," ajak Mami Laras dengan menarik tangan Mecca dan memeluk lengannya lalu berjalan beriringan. Mecca benar-benar merasa aneh saat Airin malah diam saja dengan sudut bibir yang terus tersenyum.
"Baru kali ini ada orang kaya makan mie ayam di pinggir jalan begini, Teh," bisik Mecca lagi saat mereka semua telah duduk di sebuah tenda biru yang tak jauh dari rumah sakit.
Mecca benar-benar tidak menyangka dan tidak habis pikir bagaimana bisa dia terjebak di tengah-tengah calon suami dan mertua Airin. Ditambah lagi, melihat wajah arogan Galih, Mecca jadi malas makan walaupun dia lapar dan sangat ini mie ayam.
"Mecca, mie ayam nya mau dikasih ceker, nggak?" tanya Mami Laras yang begitu peduli. Mecca lagi-lagi salah tingkah. Untungnya kursi yang didudukinya berbeda dengan kursi Galih juga Galang.
"Eh, em iya, Tan," jawab Mecca.
"Kalau Airin mau ceker juga?" tanya Mami menoleh pada Airin yang duduk di sisi Mecca.
__ADS_1
"Nggak, Mam. Airin nggak suka ceker dan daun bawang. Nggak pake timun juga ya, Mam," jawab Airin langsung mendapatkan lirikan manis dari Galang yang duduk bersebrangan.
"Minumnya?"
"Airin sama Mecca es jeruk aja,"
"Mang, mie ayam bakso dua, mie ayam ceker satu, mie ayam biasa dua, satunya nggak pake daun bawang sama timun ya. Minumnya es jeruk dua sama es teh tiga," kata Mami Laras memesan pada penjual mie yang langsung mendapatkan anggukan. Setelah itu Mami Laras duduk di depan Mecca.
Merasa tubuh Galih tidak terlihat lagi karena terhalang oleh Mami Laras, Mecca tiba-tiba menghela napas. Entah kenapa dia merasa aneh setiap melihat wajah Galih.
"Kenapa kayak kenal ya setelah liat beberapa kali? Tapi dimana?" batin Mecca.
"Loh, Mecca kok kayak melamun? Mikirin tugas kuliah ya? Kalau bingung dan butuh bantuan tentang skripsi, bisa tanya sama anak Mami yang namanya Galih tuh," ujar Mami Laras seraya menggeser tubuhnya menoleh ke belakang karena disana tepat Galih duduk.
"Apaan sih, Mam!" protes Galih tanpa membalikkan badan sama sekali.
"Ya bantulah, Kak! Kasian kan kalau nggak lulus dan nilainya jelek," sahut Galang ikut mengompori.
"Eh, nggak kok! Mecca nggak pa-pa, Tan." Mecca benar-benar canggung setengah mati. Namun melihat sikap Airin, Mecca merasa ingin sekali menggelitiki Airin.
"Kan udah dibilang, panggil aja Mami, kayak Airin. Jangan sungkan ya! Pokoknya harus panggil Mami," tegas Mami Laras yang hanya mendapatkan senyuman terpaksa dari Mecca. Entah dengan cara apa dia bertanya pada Airin sebab Airin bersikap cukup aneh bagi Mecca.
........
__ADS_1