
Galang masih setia di depan ruang operasi Papa Baskoro dan sudah hampir tiga jam operasi itu berjalan. Sedangkan Mami Laras, Pak Romi juga Airin diminta untuk pulang beristirahat.
Beberapa kali Galang mencoba menghubungi Galih, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Pastilah Galih masih marah pada Galang atas apa yang telah terjadi sebelumnya. Padahal Galang ingin minta maaf pada Kakaknya tersebut.
"Ma ... maafin Galang," gumam Galang kembali menitikkan air mata. Namun dia ingat dengan barang satu-satunya yang ditinggalkan sang Mama tersebut.
Galang tidak pernah mengotak-atik kotak itu. Akhirnya Galang pun mengambil kotak yang ditinggalkan oleh Mama Sarah di dalam tas ransel karena penasaran dengan isinya selain perhiasan. Mungkin saja ada sesuatu yang akan dia dapatkan.
Benar saja, setelah kotak itu di buka, dibagian bawah beberapa perhiasan peninggalan sang Mama, ada secarik kertas yang mulai usang. Tentu saja, sebab sudah lima tahun lamanya kertas itu ada di dalam kotak.
"Apa ini ...." Galang segera membuka kertas tersebut dan membacanya perlahan.
Dear Galang tersayang.
Galang, saat kamu membaca surat ini, pasti Mama udah meninggal. Tapi Mama mohon, Galang harus tetap dekat dengan Allah dan doain Mama ya, Nak!
Galang, setelah Mama pergi, Galang akan kedatangan sahabat Mama yang bernama Laras. Dia adalah istri pertama Papa kamu, Nak. Mama udah ambil Papa kamu dari orang lain, tapi suatu saat kamu pasti akan mengerti kenapa Mama melakukan itu.
Tolong ... bersikap baiklah dengan Mami Laras karena Mami Laras udah banyak membantu Mama bahkan dia adalah satu-satunya sahabat Mama, teman Mama yang tulus tanpa melihat harta Mama. Tolong jangan salahkan siapapun atau bahkan menyalahkan diri sendiri ya, Nak, atas kepergian Mama ini.
Galang, Mama mohon sama Galang, jangan terlalu lama bersedih ya, Nak. Mama nggak kemana-mana kok, Mama selalu ada di hati Galang. Mama harap Galang bisa menjalani hari-hari Galang seperti biasa sebagai anak sholeh, anak kebanggaan Mama.
Mama berdoa semoga kelak Galang mendapatkan istri yang Sholehah dan kita bisa kumpul bersama di tempat terbaik di sisi Allah. Aamiin.
Mama pergi dulu ya, Nak. Jaga sholat dan kesehatan Galang ya. Mama sangat sayang sama Galang. I Miss you, Galang.
Membaca surat peninggalan sang Mama, air mata Galang kembali mengalir deras. Bahkan sampai menetes di kertas usang tersebut.
__ADS_1
"Ma ... kenapa ... kenapa Galang harus tau sekarang, Ma? Kenapa, Ma?" ucap Galang dengan berat hati. Galang meremas surat itu dan memukul dinding beberapa kali dengan cukup keras hingga ruas jarinya berdarah.
Tidak puas menerima kenyataan, Galang kini membenturkan kepalanya ke dinding. Bahkan dahinya pun memerah. Namun rasa sakit itu pasti tidak sebanding dengan apa yang dia rasakan di dalam dada.
"Galang, gila, lo? Cukup!" seru Galih melihat betapa frustasinya sang adik.
Mami Laras memberitahu Galih kalau Galang di rumah sakit sendirian dan khawatir dengan kondisinya. Akhirnya Galih memutuskan untuk kembali ke rumah sakit walaupun terpaksa dan sebenarnya dia berat hati karena pada dasarnya yang diutamakan oleh Mami laras adalah Galang.
Galang menatap Galih dengan mata memerah karena tangisnya. Lidahnya benar-benar Kelu dan cukup sulit untuk memanggil Galih dengan sebutan Kakak.
"Elo harus diobati. Ayo, ikut gue!" kata Galih lagi seraya menarik tangan Galang. Namun Galang menahan tarikan tangan tersebut.
"Kak Galih, maafin aku!" lirih Galang. Tersentak perasaan Galih mendengar Galang untuk pertama kalinya memanggil dia dengan sebutan Kakak.
"A-apa? Gue ... nggak denger," ujar Galih ingin memastikan kalau telinganya tidak salah dengar.
Belum Galang selesai bicara, Galih segera memeluk Galang. Bahkan Galih benar-benar terharu dengan apa yang baru saja diucapkan adiknya tersebut.
Galang membalas pelukan Galih. Keduanya pun sama-sama menitikkan air mata dalam pelukan. Rasa yang tidak akan pernah tergambarkan bahkan dengan kata apa pun itu. Galang dan Galih kini mengakui kalau mereka adalah Kakak Beradik satu Ayah.
"Nggak, elo nggak salah apa-apa. Ah ... maksudnya kamu nggak salah, Dik. Tapi ... tapi Kakak maafin kamu karena kamu minta maaf. Terima kasih, Dik. Terima kasih udah mau panggil gu ... maksudnya panggi aku Kakak. Terima kasih," kata Galih begitu tulusnya seraya menepuk-nepuk punggung Galang.
"Aku ... aku banyak salah, Kak. Aku banyak salah sama kamu, Kak. Maafin aku, Kak!"
"Iya ... iya, Dik. Kakak maafin semua kesalahan kamu. Sekarang ... sekarang kita obati luka kamu, hm?" Galang pun mengangguk dan keduanya pun melepaskan pelukannya.
Galih mengusap air mata di pipi Galang. Begitu pun sebaliknya, Galang juga mengusap air mata di pipi Galih.
__ADS_1
"Jangan begini lagi ya? Kakak takut kita ini pasangan nggak bener," ledek Galih dan Galang langsung tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Seharusnya Kakak datang lebih awal supaya kamu nggak nyakitin tubuh kamu sendiri. Kamu udah besar, kenapa masih kayak anak kecil begini, sih? Ayo, buruan kita obati luka kamu," lanjut Galih merengkuh bahu Galang dan keduanya berjalan beriringan untuk mengobati dahi juga ruas jari Galang.
...***...
"Silahkan masuk, Nak. Kamu langsung istirahat aja di kamar ya? Tadi Mami udah minta Bibik buat siapin kamar kamu," kata Mami Laras pada Airin yang baru saja menginjakkan kaki di sebuah rumah mewah milik keluarga Galang.
Kedatangan mereka disambut oleh dua asisten rumah tangga yang langsung merebut tas dan ransel yang dibawa oleh Airin.
"Terima kasih, Bik," ujar Airin pada dua asisten rumah tangga tersebut.
"Kamar kamu sebelah sana ya, Nak. Em ... Mami belum tau nama kamu, loh."
"Nama saya, Airin."
"Ya udah kalau gitu Airin langsung aja ya istirahat. Biar di anter sama Bibik."
"Terima kasih, Tante," jawab Airin dengan sopannya.
"Loh, kok Tante, sih? Bukannya kamu calon istrinya Galang? Nggak mungkin Galang bawa kamu kalau kamu bukan calon istrinya, kan? Panggil Mami dong, kamu kan mau jadi menantu Mami," sahut mami Laras seraya mengusap bahu Airin diiringi senyuman manis.
"Eh, em ... iya, Mam! Terima kasih," ralat Airin ragu juga malu. Padahal dia belum dikenalkan secara resmi, tetapi Mami Laras sudah bisa menebak dengan benar.
"Ya udah, sekarang kamu istirahat aja. Kamu juga habis perjalanan jauh, besok kita bicara lagi ya? Em, besok kita bangun pagi buat siapin sarapan dan antar ke rumah sakit untuk Galang juga Galih," ujar Mami Laras sebelum benar-benar pergi menaiki anak tangga.
Airin tersenyum lebar. Dia tentu tidak menyangka jika kedatangannya disambut hangat oleh ibu tiri Galang. Padahal sepanjang perjalanan dia begitu bingung merangkai kata untuk menyapanya.
........
__ADS_1