BAD BOY Pura-Pura Amnesia

BAD BOY Pura-Pura Amnesia
Bab 28


__ADS_3

"Tunggu dulu, kepala kamu kenapa, Galang?" tanya Mami Laras di sela ledekan antara Galih dan Galang. Mami Laras menyentuh dahi Galang secara pelan-pelan. Warna merah kebiruan itu membuat Mami Laras khawatir. Galang hanya tersenyum tipis.


"Sok putus asa dia semalam, Mam. Gaya banget mukul tembok dan gedotin kepalanya, padahal tembok nggak salah apa-apa," jawab Galih masih dengan nada meledek seraya melanjutkan sarapannya. Airin segera menoleh menatap Galang yang kemudian matanya pun tertuju pada tangan Galang dengan ruas jari yang juga memar.


"Kak Galang, tangan juga memar? Kenapa, Kak? Beneran abis berantem sama dinding?" tanya Airin ikut khawatir dan sangat ingin menyentuh tangan juga dahi Galang untuk memastikan lukanya itu.


"Nggak kok, Dek. Ini cuma luka kecil aja. Nggak perlu khawatir. Mami juga nggak perlu khawatir karena semalam luka ini udah diobatin dengan tulusnya oleh Kak Galih aku ya sangat baik hati," jawab Galang melirik Galih yang sibuk mengunyah makanannya.


"Bukannya Allah nggak suka hamba yang menyakiti dirinya sendiri. Kamu tau pasti kan, Nak ? Kenapa kamu menyakiti dirimu, Galang? Sampe kayak gini loh lukanya." Mami Laras hanya bisa menghela napas sambil mengusap pelan ruas jari Galang.


"Iya, Kak. Tau gitu semalam Airin nggak ikut Mami pulang dan nemenin Kak Galang disini," kata Airin ikut menyesal.


"Iya, Mam. Nggak kok, Dek. Bukan salah kamu. Maaf ya, Mam. Galang hanya terlalu larut dalam kesedihan aja baca lesan dari Mama. Untung Galang punya Kakak yang peduli sama Galang semalam." Jawaban Galang tidak membuat Galih terharu ataupun menatapnya.


"Mau Mami suapin? Pasti ini sakit banget," usul Mami Laras. Galang menggeleng pelan.


"Nggak perlu, Mam. Kak Galih mungkin mau disuapin sama Mami. Dia yang udah ngobatin Galang, loh," jawab Galang masih tidak hentinya memuji sang Kakak. Terpancar jelas bahwa Galang benar-benar menyayangi Galih saat ini.


"Galih, kenapa kamu diem aja sih dari tadi adik kamu muji kamu," ujar Mami Laras lagi dan lagi memukul bahu Galih bahkan sampai sendok yang berisi sosis yang akan masuk ke mulut kembali jatuh ke kotak makan.

__ADS_1


"Astaghfirullah ... masih sepagi ini udah dapet 5x pukulan. Sepertinya saat Papa bangun, aku harus ngadu supaya orang yang mukul aku dihukum dengan sangat berat," ucap Galih dengan nada kesal dan kembali mengambil sosis yang jatuh tadi untuk dia makan.


Galang dan Mami Laras hanya tersenyum menanggapi keluhan Galih.


Setelah sarapan selesai dengan penuh canda tawa, Galang mengajak sang Mami untuk menemui dokter karena pagi itu dokter belum memeriksa kembali keadaan Papa Baskoro. Galang ingin tahu kapan sang Papa bisa dijenguk.


"Dek, tunggu disini dulu ya? Saya mau ke ruangan dokter dulu sama Mami. Ngobrol aja sama calon Kakak Ipar. Dia baik kok!" kata Galang pada Airin yang kemudian melirik Galih.


"Apaan sih lo!" jawab Galih kemudian meraih ponselnya yang ada di saku celana. Sejak Galang datang, Galih sama sekali belum menatap ataupun melihat Airin dengan waktu lama.


"Iya, Kak. Airin juga mau telpon Uma sama Abati dulu." Galang hanya mengangguk kemudian pergi bersama Mami Laras.


Galih sendiri fokus dan sibuk dengan ponsel. Seharusnya dia ada meeting cukup penting hari ini, tetapi tentu harus dia cancel dan dialihkan pada sekretarisnya demi menunggu keadaan Papa Baskoro. Galih hanya memantau dari ponsel saja.


Namun ditengah kesibukannya mengetik pesan, Galih melihat seseorang berdiri tepat di depannya yang dia tahu jelas itu bukanlah Airin. Galih pun segera mendongak melihat siapa yang sedang berdiri di depannya.


"Serly?" gumam Galih langsung disambut senyuman masam.


"Gue denger Tuan Baskoro sakit, jadi gue sengaja datang jauh-jauh kesini buat jenguk. Ini gue juga bawa kue kesukaan keluarga Cendana. Tiramisu cake dari toko langganan kantor," ujar Serly seraya mengulurkan tangan dengan paper bag khusus toko yang dimaksud.

__ADS_1


"Ck, nggak perlu repot-repot. Papa juga belum bisa dijenguk. Tapi thanks cake nya," jawab Galih terpaksa menerima paper bag yang disodorkan Serly dan meletakkannya di sisi tempat dia duduk.


"Gue liat tadi kalian bahagia banget. Apa kalian bahagia karena Papa kalian sakit, atau kalian bahagia karena elo mau segera kawin?" tanya Serly membuat Galih mengangkat satu alisnya. Tentu saja heran dengan apa yang diucapkan Serly. "Loh, kenapa?" lanjut Serly yang kemudian duduk memangku kaki dan menatap Airin yang sedang sibuk bicara di telepon.


"Maksud pertanyaan elo apa?" Galih ikut menatap Airin yang sedang tersenyum begitu manis.


"Bukannya itu calon istri, elo? Dia cantik banget. CEO ganteng kayak elo jelas cocok dan pasti elo banyak dipuji oleh klien nantinya," ucap Serly masih dengan posisi yang sama.


Galih yang memang sejak tadi cuek dengan Airin pun tiba-tiba terpesona dengan penampilan Airin dari ujung kepala hingga ujung kaki. Apalagi gaya Airin yang terlihat sangat sopan dan senyum yang begitu menawan dengan bibir pink alami dan wajah tanpa make up yang putih mulus tanpa ada satu jerawat pun. Cantik yang sungguh natural.


"Dia adalah calon istri Galang," sahut Galih segera mengalihkan pandangannya. Dia pun kembali tertunduk dengan fokus pada layar ponselnya.


"Ck, munafik banget sih. Gue yakin elo juga suka sama tu cewek. Gue yakin dia itu tipe-tipe ideal elo. Elo lebih pantes dengan cewek itu daripada Galang. Gue bisa bantu elo dapetin dia kalau elo juga bisa bantu gue dapetin Galang," usul Serly membuat Galih terkejut. Bahkan hampir saja menjatuhkan ponselnya.


"Gila ya elo, Ser?" ungkap Galih menatap sinis Serly. Namun matanya sempat melirik Airin yang masih memancarkan aura kecantikan yang menawan. Dia takut Airin mendengar percakapan mereka.


"Galih ... Galih ... jangan kira gue nggak tau isi otak elo. Kita akan saling menguntungkan satu sama lain. Kalau gue nikah sama Galang, bahkan perusahaan yang elo kelola saat ini nggak akan pernah direbut oleh Galang karena dia akan ngelola perusahaan bokap gue. Elo nggak usah mikirin cewek itu cinta siapa. Sama kayak gue yang nggak mikirin Galang cinta sama siapa karena cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Semakin kita menunjukkan rasa cinta kita, pasangan kita juga lambat laun akan cinta. Sebaiknya elo pikirin ide gue. Setelah itu gue bakal jadi adik ipar elo, Galih. Gue cabut dulu dan sebaiknya elo bener-bener pikirin baik-baik ide brilian gue tadi. Semoga Tuan Baskoro segera sembuh."


Serly segera beranjak setelah memberikan senyuman pada Galih yang bahkan belum menjawab apa pun. Ingin protes, tetapi hatinya memang tidak bisa dibohongi kalau kedua matanya kagum pada Airin yang begitu anggun.

__ADS_1


........


__ADS_2