BAD BOY Pura-Pura Amnesia

BAD BOY Pura-Pura Amnesia
Bab 38


__ADS_3

"Mecca, ini Tante Laras yang tadi angkat telepon kamu," kata Airin memperkenalkan Mami Laras. Mecca dengan sopannya menyapa dan mencium punggung tangan Mami Laras lalu mengucap salam.


"Assalamu'alaikum, Tante. Salam kenal, saya Mecca, sepupunya Teh Airin dari kampung," kata Mecca dengan nada yang begitu lembut sampai Mami Laras lupa dengan nada bicara dia dalam panggilan telepon tadi. Tentu tidak jauh berbeda dengan Airin pastinya. Bahkan Mecca juga memakai gamis hitam seperti Airin, tetapi memakai pasmina berwarna lilac.


"Wa'alaikumsalam. Kok beda sama yang di telpon tadi ya?" jawab Mami Laras membuat Mecca bingung. "Eh, nggak kok! Ayo Mecca, duduk sini!" sambung Mami Laras menepuk kursi kosong disebelahnya. Airin sedikit menahan tawa melihat perubahan sikap Mami Laras.


"Nah, Mecca, yang itu anaknya Tante Laras, namanya Kak Galang. Kalau yang ketemu tadi juga anaknya, namanya Kak Galih," lanjut Airin. Mecca menoleh menatap Galang sesaat dengan sebuah anggukan dan senyuman yang dipaksakan.


"Dek, saya ke luar dulu ya," pamit Galang karena tahu pasti Mecca tidak nyaman ada dirinya.


"Eh, kenapa nggak pamit juga sama Mami?" tanya Mami Laras, tetapi Galang hanya mengangkat satu tangannya sebagai tanda berpamitan. "Punya anak dua kok aneh semua. Untungnya calon mantu nggak ada yang aneh-aneh," gumam Mami Laras yang kembali fokus pada Airin dan Mecca.


Mereka bercerita panjang lebar bahkan dari tempat asal, kuliah, kehidupan sehari-hari Mecca dan Mami Laras begitu menyukai Mecca bahkan dia benar-benar lupa bagaimana sikap Mecca saat pertama kali bicara dengannya.


Sampai akhirnya waktu magrib tiba, Airin dan Mecca pamit untuk ke mushola terlebih dahulu dan bergantian duduk di depan ruang rawat Papa Baskoro.


Mecca bahkan tidak sabar untuk segera tiba di mushola sampai berjalan sambil menarik tangan Airin supaya mempercepat langkah kakinya.


"Gila, Teh! Sumpah Mecca nggak nyangka banget Teteh tuh mau dapet suami di ibu kota. Kok bisa sih, Teh? Ya ampun ... ya ampun Mecca bener-bener nggak tahan harus jaga image di depan Tante Laras tadi. Astaghfirullah ... sampe kayak orang nahan kentut tau nggak? Pokoknya Mecca minta penjelasan nanti!" cerocos Mecca saat keduanya tiba di tempat wudhu. Airin sendiri nyaris membekap mulut Mecca dengan tangannya.


"Pst ... pelan-pelan, Mecca!" ucap Airin dengan jari telunjuk ditempelkan ke bibir sebagai tanda jika dia sedang ada di tempat umum.


"Mecca nggak tahan, Teh. Rasanya malah pengen jingkrak-jingkrak. Pokoknya nanti Teh Airin harus kasih Mecca penjelasan sejelas mungkin dari hal kecil sampai hal sebesar ini. Duh ... kalau Mikka tau, pasti lebih heboh lagi dia," ujar Mecca lalu melepaskan jilbabnya dan mengambil air wudhu. Airin hanya bisa menghela napas seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat betapa bahagianya Mecca saat mengetahui di akan segera menikah dengan Galang.

__ADS_1


"Kamu berarti setuju kalau Teteh menikah dengan Kak Galang?" tanya Airin penasaran. Mecca yang baru mencuci tangan segera menutup kembali keran air tersebut.


"Ya jelas atuh! Ganteng dan pasti kayak raya, iya kan?" ledek Mecca seraya memercikkan air ke wajah Airin.


"Ish, serius! Em kalau Kak Galih, gimana?" tanya Airin lagi sebab penasaran apakah perjodohan mereka akan berhasil atau tidak. Namun Airin tentu berharap Mecca menyukai Galih.


"Galih? Oh, yang galak tadi? Dih, jangan sama dia Teh, Mecca nggak akan setuju kalau sama dia," jawab Mecca dengan raut wajah berbeda.


"Maksudnya itu, kamu suka nggak sama Kak Galih? Kalau suka, Teteh bantu pedekate sama dia, gimana?" selidik Airin membuat Mecca membulatkan matanya dengan sempurna saking terkejutnya.


"Astaghfirullah ... nggak! Amit-amit nikah sama cowok galak begitu. Gimana kalau Papi Dzakir sama Mami Misella tau, berabe hidup Mecca. Udah, ah! Jangan bahas cowok arogan itu, Teh! Keburu komat nanti," sahut Mecca kemudian beralih mengambil air wudhu.


Airin pun menghela napas berat. Dia harus bicara dengan Galang masalah Mecca yang tidak suka dengan kesan pertama pertemuan dia dengan Galih. Namun Airin yakin jika Mecca dan Galih akan cocok.


........


Sejak kepergiannya dari hadapan Mecca, Galih tidak serta merta pergi begitu saja dari rumah sakit. Ternyata dia duduk di taman rumah sakit yang saat itu ada beberapa pasien yang sedang bersantai juga sedang belajar berjalan.


Galang yang saat itu menyusul kepergian Galih ikut duduk di taman, tetapi tidak langsung bertanya masalah Mecca. Galang melihat Galih seperti sedang memikirkan sesuatu dan akhirnya baru bisa ditanyakan setelah solat magrib.


"Kenapa tanya begitu, sih!" seru Galih seraya memakai sepatu pantofel dan segera mengalihkan perhatiannya pada lampu-lampu jalanan yang terlihat cukup indah.


"Ya kan cuma tanya, Kak. Emang nggak suka sama Mecca, dia cantik kok. Mirip Airin juga, iya kan? Gimana kalau ...," ledek Galang lalu merangkul bahu Galih. Namun sebelum Galang menyelesaikan kalimatnya, Galih segera menepis kasar tangan Galang sampai Galang merasa Galih berbeda.

__ADS_1


"Dia bukan tipeku dan nggak akan pernah jadi tipeku, titik!" tegas Galih menatap sinis Galang. Sayangnya Galang malah tertawa terbahak-bahak. "Kenapa, lo?" tanya Galih heran.


"Kak, benci dan cinta itu katanya beda tipis. Setipis jembatan Sidratul Muntaha yang bagai rambut dibelah tujuh,"


"Terus apa hubungannya sama gue, hah? Ngajak ribut?"


"Ya ada dong. Nih ya kalau Kak Galih berhasil melewati jembatan itu, maka Kak Galih bakal nemuin keindahan," jelas Galang dengan penuh penghayatan.


"Kalau, nggak? Masuk api neraka?" tanya Galih yang terlihat masuk ke dalam perangkap ucapan Galang.


"Ya nggaklah, kan ini aku cuma kasih perumpamaan."


"Ya terus kalau nggak bisa ngelewatin jembatan Sidratul Muntaha dan nggak masuk ke api neraka, gue jatuh kemana, Brengsekk!" Galih mulai kesal. Namun malah semakin terjebak dalam kata-kata Galang.


"Ya masuk ke dalam ... api asmara, haha!" Galang buru-buru pergi meninggalkan Galih karena bisa jadi dia akan mendapatkan hadiah bogem dari Kakaknya tersebut.


"Galang!" seru Galih sedikit geram.


"Ayo, Kak! Mami pasti nunggu buat makan malam," teriak Galang yang tidak mengehentikan langkah kakinya.


Sayangnya Galih tidak langsung menyusul Galang. Entah kenapa tiba-tiba otaknya memberikan lintasan ingatan tentang seorang gadis yang melemparkan sepatu kets ke kaca mobilnya dan berteriak tanpa minta maaf setelah mengambil kembali sepatunya tersebut.


"Sial, gadis itu ... ternyata wanita nggak sopan itu, kamu? Oh ya ya, sekarang aku ingat. Pantas aja aku nggak asing sama wajah dia, ck!" Entah kenapa Galih tiba-tiba tersenyum.

__ADS_1


........


__ADS_2