
Happy Reading🐭
Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨
〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Alicia keluar dari mobil pria itu, matanya terus memandang sosok Zean yang masih duduk di dalam kursi mobil. Mungkin kali ini pria bersurai hitam legam itu masih belum peka terhadap wanita lain selain Hanny, kekasihnya.
"Terima kasih telah mengantarku, Tuan," ucap Alicia seraya melambaikan sebelah tangannya.
"Jika butuh sesuatu, kau bisa menghubungi ku saja," tutur Zean.
Mobil pun kembali melaju dengan kecepatan tinggi, semakin menjauh dari halaman gedung apartemen G.O.U Big dan seketika orang beserta mobilnya menghilang hanya dalam waktu sekejap.
Alicia membuka pintu rumah apartemen Robin, terlihat ruangan yang masih gelap tanpa cahaya. Begitu memasuki ruang makan, Alicia menghela nafas panjang, lantaran tak ada sedikitpun makanan di atas meja.
Memang, biasanya Robin yang selalu menyiapkan makan malam. Pekerjaannya di kantor mungkin lebih ringan dari Alicia, itulah alasan mengapa Robin bisa pulang lebih awal dan menyiapkan makan malam.
Meskipun sudah merasa lelah, wanita itu terpaksa membuka lemari kulkas untuk menemukan bahan makanan di sana. Dari bawang hingga cabai dan sayur-sayuran semuanya telah tersedia.
Alicia hanya tinggal mengolah semua bahan itu menjadi satu agar bisa di santap. Meskipun selama ini dirinya hidup menjadi orang kaya, namun rasanya tidak berbeda jauh dengan orang miskin. Semua pekerjaan rumah selalu ia kerjakan, demi menghargai sang suami yang sudah bekerja keras di perusahaan. Namun nyatanya, Alicia sendiri telah di khianati oleh Zean.
*****
Awan-awan berjalan mulus di atas langit, menampakkan warna putih yang indah saat mata memandang.
Alicia terbangun dari tidurnya, setelah menghirup aroma sedap dari arah dapur. Tidak perlu ditebak, wanita itu sudah tau siapa pelaku yang menyebabkan aroma sedap ini.
"Benar, ternyata kau," ucap Alicia begitu dirinya tiba di dapur.
Tampak sosok pria berkacamata tengah menyiapkan sarapan lezat. Mungkin hari ini Alicia akan mendapatkan menu baru dari makanan yang telah disiapkan oleh Robin.
"Makanlah, setelah itu kau langsung bekerja saja," tutur nya pelan, seraya meletakkan piring berisi makanan ke atas meja.
"Hmmm, Robin. Apa kau baik-baik saja?" tanya Alicia sedikit ragu. Dia merasa kalau sifat pria itu benar-benar berubah sejak tadi malam.
"Iya, aku baik. Aku hanya sedikit sibuk saja. Pasti kau mengira kalau aku marah padamu, kan?" tebak Robin, bibirnya mengukir senyum lebar yang manis.
"Kau tau saja."
__ADS_1
Setelah mengatahui kalau ternyata Robin tidak ada masalah, Alicia mulai lega. Dia pikir pria berkacamata itu merasa diperdaya karena selama ini Alicia banyak meminjam uang padanya.
*****
Waktu telah menunjukkan pukul 12.13. Dimana matahari mulai memancarkan cahaya panas ke seluruh kota.
Alicia beranjak dari kursi dengan beberapa lembar kertas yang memenuhi tangan kecilnya. Usai setengah hari mengerjakan tugas perusahaan, wanita itu akhirnya selesai. Kini Alicia hanya tinggal menyerahkan saja pada si pemilik perusahaan.
Bagi nya, pergi ke ruangan Zean adalah keberuntungan besar. Mungkin kali ini akan menjadi salah satu rencananya yang berhasil.
Tok … tok … tok …
"Masuk," ucap Zean, pria di dalam ruangan tersebut.
Alicia perlahan masuk, menatap pria yang juga sedang menatapnya. Hari itu, Alicia mengenakan pakaian yang sedikit terbuka. Setiap lekukan badan terlihat jelas hanya dalam sekilas pandangan mata.
"Apa aku baru kali ini melihat wajahmu yang cantik?" ledek Zean.
"Ah, Tuan jarang melihatku," sahut Alicia lembut.
Beberapa lembar kertas itu diletakkan nya ke atas meja. Saat hendak memutar balik badan, Zean tiba-tiba meraih pergelangan tangannya, reflek membuat Alicia langsung menoleh.
Alicia mengangguk, dia duduk di atas pangkuan Zean, sesuai permintaannya tadi. Perlahan Zean mulai menyentuh pinggangnya dengan liar, hingga akhirnya tiba di bagian dua gunung kembar milik Alicia yang begitu menonjol.
Di tengah-tengah adu mesra keduanya, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Kontan mengejutkan tiga orang sekaligus.
Alicia langsung menyingkir dari pangkuan Zean, ia merapihkan pakaian yang sempat terbuka karena ulah si mantan suaminya.
Di sisi lain, Darren pria yang baru saja membuka pintu ruangan masih ter bengong. Ia menatap dua orang di dalam sana dengan perasaan tidak enak.
"Alicia, kau bisa keluar," perintah Zean, langsung di angguki oleh wanita itu.
Alicia pun keluar dari dalam ruangan tersebut. Sedangkan Darren perlahan masuk dan berhadapan langsung dengan tuannya.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Zean sedikit jengkel, namun kedua bola matanya itu tidak menatap ke arah Darren sedikitpun.
"Maaf, sebenarnya saya ingin mengirim surat undangan pesta dari perusahaan RAC Grup," ungkap nya seraya memberikan undangan tersebut.
"Baiklah. Mulai sekarang, kau harus mengetuk pintu sebelum masuk," pinta Zean.
__ADS_1
Sementara dengan Alicia yang baru tiba di meja kerjanya, ia masih terbayang dengan aksi Zean yang begitu liar. Namun wanita itu sama sekali tidak merasa canggung, mungkin karena sebelumnya dia memang sudah pernah melakukan hal itu saat masih menjadi istrinya.
"Untung saja Darren melihatku tadi, mungkin ini akan menjadi berita baik?" gumamnya. Sesekali ia menunjukkan senyum menyeringai.
****
Langit mulai gelap, menampakkan bintang-bintang ber gemerlap serta rembulan yang bersinar terang. Toko-toko di seberang jalan mulai menyalakan lampu, berderet sampai ke sebuah toko dengan bangunan gedung tertinggi, menerangi jalanan kota yang hampir tenggelam terbawa gelapnya malam.
Alicia akhirnya tiba di apartemen tempat tinggalnya bersama Robin. Selama di dalam mobil tadi, wajahnya terus tersenyum lebar yang bahkan tidak Robin ketahui.
Begitu masuk ke dalam rumah, Alicia langsung melemparkan tas kecilnya ke atas meja, ia duduk berseberangan dengan Robin di sofa ruang tamu.
"Alicia, ada yang ingin aku beritahu padamu," tutur Robin pelan, tangannya itu perlahan membelai rambut panjang Alicia.
"Eh, soal apa?" tanya Alicia penasaran.
"Perusahaan RAC Grup mengadakan acara pesta besar besok malam, dan kau menjadi salah satu tamu undangannya."
Alicia tersentak kaget, kedua bola matnya terbelalak serta mulut yang termangap lebar. Ia menatap pria di sebelahnya dengan pandangan heran.
"Kenapa aku tiba-tiba menjadi salah satu tamunya? Bahkan mereka saja tidak mengenalku," papar Alicia.
"Jika perusahaan mengundangmu, sudah pasti mereka mengenalnya. Pasti kau menjadi terkenal setelah bekerja di FWaD Company," ucap Robin cengengesan.
"Tenang saja, besok kau datang bersamaku, ya?" lanjut ucapnya.
"Baiklah, kau berjanji harus membantu ku!"
"Oke oke. Oh ya, tamu undangannya itu rata-rata adalah pengusaha hebat. Apa kau tau, Zean juga di undang dalam acara besok malam," ungkap nya kontan mengejutkan wanita berambut panjang itu.
"Astaga, kau tidak bercanda, kan?" tanya Alicia memastikan, pipinya tampak memerah seperti apel.
"Mungkin, kau ada rencana? Aku yakin pacarnya juga akan datang besok."
"Benar, aku harus merancang rencana untuk bisa meluluhkan hati pria brengsek itu. Jika Hanny dengan mudah bisa masuk ke dalam hubunganku dengan Zean, sudah tentu aku juga bisa."
Bersambung ...
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ
__ADS_1