Balas Dendam Setelah Dikhianati

Balas Dendam Setelah Dikhianati
9. KAC Food


__ADS_3

Happy Reading🐭


Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨


〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎


"Sekarang, biarkan aku membayarkan tanah ini," ucap Zean, menatap pria di depannya dengan cukup serius.


"Maaf, tapi aku tidak bisa menerima uang darimu," sahut nya dengan ketus.


"Kenapa? Bukankah kau juga akan untung? Atau jika tidak … biarkan aku bertemu langsung dengan wanita itu." Zean masih tak mau kalah, dirinya tetap bersikeras untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan nya.


"Pergilah!" bentak Jade.


Tanpa sadar, Alicia langsung menarik lengan pria itu dan membawanya keluar. Kontan membuat si tuan dan asistennya terkejut secara bersamaan.


"Kenapa kau membawa ku keluar? Bahkan urusanku dengan tuan Jade saja belum selesai!" kesal Zean, kedua tangannya di letakkan di pinggang, cocok dengan sifatnya yang angkuh.


"Belum selesai? Tapi … tuan Jade sudah menyuruh kita untuk keluar, kan?" balas Alicia menyeringai.


"Aku ada sedikit saran saja, bagaimana jika kita pergi ke cafe yang dekat?" imbuhnya.


Lantas Darren pun mengangguk setuju, dia yakin kalau Alicia pasti bisa mengatasi masalah ini. Begitu juga dengan Zean yang tiba-tiba ikut setuju dengannya.


Mobil yang mereka tumpangi akhirnya mulai melaju dengan kecepatan tinggi, tujuannya sekarang adalah cafe terdekat.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, kini Alicia bersama dua pria di dalam mobil itu tiba di tempat tujuan. Mereka melihat sebuah bangunan cafe sederhana yang mungkin tidak begitu disukai oleh Zean.


Begitu memasuki bagunan cafe tersebut, Darren yang memiliki sifat peka langsung memesan tiga buah minuman sebagai pendamping obrolan mereka, mengenai tanah yang sudah di Distrik Markaus.


"Jadi, langsung saja. Aku tidak nyaman jika harus lama-lama berada di sini," kata Zean, menatap setiap sudut cafe yang amat sederhana.


"Aku memiliki saran, kalau sebaiknya kita tunggu saja tanah di Distrik Markaus itu akan dibangun perusahaan apa. Setelah itu, kau pasang saham, aku sangat pandai kalau soal saham," papar Alicia dengan penuh rasa percaya diri.


Seketika dua pria di sebelahnya itu tampak memandang Alicia kagum. Zean yang sebelumnya enggan untuk ikut dengannya, kini perlahan mulai percaya kalau wanita itu bukanlah wanita biasa.


"Baiklah, aku serahkan semua ini padamu. Sepertinya kau memang bisa diandalkan," sahutnya bersemangat.


****


Waktu telah menunjukkan pukul 20.13 waktu setempat. Ruangan rapat yang sebelumnya terlihat kosong, kini mulai berdatangan orang-orang. Mereka membawa beberapa lembar kertas yang begitu penting bagi perusahaan.


Setelah semua kursi terisi penuh, Zean pun memulai acara rapat perusahaan yang sempat ditunda nya tadi pagi. Ia memberikan pernyataan sesuai apa yang telah disarankan oleh Alicia.

__ADS_1


Seketika sorak sorai dan tepuk tangan terlontar dari para karyawan lainnya, termasuk Cellyn yang sebelumnya diacuhkan Alicia. Entah mengapa, wajahnya yang cantik selalu ditolak banyak orang.


Usai melaksanakan rapat perusahaan, Alicia akhirnya bisa pulang bersama Robin. Lagi-lagi pria itu membukakan pintu mobil untuknya, membuat Alicia sedikit baper dengan sifat sempurna yang ia miliki.


"Jalan sekarang?" tanya Robin, setelah keduanya siap menggunakan sabuk pengaman.


"Jalan!!" sahut Alicia bersemangat.


"Oh ya, bagaimana rencanamu? Berjalan lancar?" tanya nya lagi.


Wanita itu menoleh ke arah Robin, mengukir senyum lebar yang bahkan jarang ia tebarkan.


"Tentu saja, aku menyuruhnya memasang saham setelah tanah itu dibangun perusahaan. Lalu, dengan bodohnya dia bisa percaya padaku begitu saja!" terang Alicia.


"Kau mau bangun perusahaan apa di tanah itu? Mungkin aku bisa membantu mu agar prosesnya lebih cepat," saran pria berkacamata di sebelahnya.


"KAC Food? Bagaimana?"


"Eh, mau membangun perusahaan makanan siap saji?"


Alicia mengangguk.


"Tapi, KAC itu apa?" tanya Robin merasa heran, ia menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


"Lancar sekali otak mu, kalau aku punya perusahaan sendiri … aku ingin memungut mu menjadi manager," ucapnya bergurau.


Tak lama berselang, mereka akhirnya tiba di depan sebuah bangunan besar yang dirasa cukup asing bagi Alicia. Matanya menatap ke segala arah, berusaha mengamati orang-orang yang ramai berada di halaman depan bangunan tersebut.


Begitu mendapati sosok pelayan wanita, Alicia mengerti kalau ternyata Robin membawanya ke restoran bintang lima, yang bahkan hanya bisa dikunjungi orang-orang konglomerat saja.


"Kau yakin?" tanya Alicia ragu, namun tampaknya pria berkacamata itu tidak sedang bercanda.


"Turunlah."


Alicia melangkah masuk ke dalam restoran itu bersama Robin. Jika diamati, pakaian Robin juga terlihat lebih rapih dari biasanya, yang hanya mengenakan kemeja tanpa jas.


"Tuan dan Nona ingin memesan apa?" tanya seorang pelayan restoran, tangannya menggenggam sebuah pulpen langsung dengan buku.


"_______"


"Baiklah, silahkan ditunggu pesanannya."


Wanita itu berjalan meninggalkan meja mereka. Membuat Alicia bingung lantaran dirinya belum sempat mengatakan makanan apa yang akan ia pesan.

__ADS_1


"Kenapa dia pergi begitu saja? Aku kira pelayan di sini ramah," cakap nya merasa kesal dengan menunjukkan raut wajah murung.


"Aku sudah memberitahu makanan yang akan kita pesan," tutur Robin seraya tersenyum lebar.


"Eh? Ku– ku kira."


Dua puluh menit telah berlalu, makanan yang sebelumnya dipesan akhirnya dihidangkan. Menu dinner saat itu adalah sup udang dengan kepiting bakar super pedas, serta jus jeruk yang pastinya cocok dengan makanannya.


"Kau … benar-benar, ya!" Alicia menarik sehelai rambut pria yang duduk berhadapan dengannya.


"A– aduh, lepas! Ini sakit, tahu!" lontar nya kesakitan.


"Huh, menyebalkan!"


"Jangan begitu juga, dong."


Tidak ingin membuang waktu sia-sia, Alicia pun langsung meraih kepiting lezat di depannya. Menyantap dengan lahap tanpa memberi sedikit celah untuk Robin bisa ikut mencicipi nya.


"Dia, imut sekali," gumam Robin.


*****


Robin membaringkan tubuh Alicia di atas ranjang, setelah keduanya tiba di apartemen tempat tinggal.


Mungkin karena terlalu letih, membuat wanita itu sampai tertidur di dalam mobil saat perjalanan pulang.


Wajahnya yang cantik membuat Robin merasa nyaman untuk menatapnya, ditambah dengan sifat yang dirasa cukup kasihan.


Pria itu meraih ponsel di dalam saku celananya, setelah mendengar nada dering yang terus berbunyi.


Ia keluar dari kamar, lalu mengangkat panggilan yang ternyata dari Felipe, bos nya di perusahaan.


"Ada apa?" tanya Robin membuka pembicaraan.


"Uang darimu sudah ku terima, sesuai janji. Ibumu pasti bangga, kan?" ledek pria dari seberang telepon di sana.


"Ah, sudah ku bilang jangan bawa-bawa ibuku lagi."


Robin mengakhiri panggilannya secara sepihak. Menghela nafas dengan kasar, lalu beralih menatap sosok wanita di dalam kamar di balik tubuhnya.


"Semoga rencana balas dendam mu berjalan lancar, aku akan selalu mendukung dan membantumu, Flor."


Bersambung ...

__ADS_1


Mohon dukungannya untuk karya ini~ (๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ


__ADS_2