
Happy Reading🐭
Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨
〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Angin malam tampak meliuk kan tubuhnya dan membawa terbang dedaunan. Suasana dingin dengan di hiasi padangnya rembulan membuat seisi kota menjadi ramai dengan kendaraan umum.
Robin menghentikan laju mobilnya sesaat Alicia meminta untuk berhenti di tepi jalan. Wanita itu turun dan mendekati sebuah mobil pick up berwarna merah mengkilat yang terparkir di depan bangunan gedung bar.
Tanpa harus berpikir, Alicia lantas mengunjungi bar tersebut dan menyuruh Robin untuk pulang terlebih dahulu.
Bola mata Alicia berkeliaran menatap tiap sudut ruangan setelah masuk ke dalam gedung bar. Sekarang ini dirinya tengah mencari seseorang dari pemilik mobil merah yang terparkir di depan sana.
Kakinya berjalan mengelilingi tiap kursi yang di duduki oleh orang-orang, ia tatap satu persatu wajah mereka hingga akhirnya menemukan seseorang yang tengah di cari.
"Tuan Zean?" sapa Alicia pada seorang pria bersurai hitam legam, tampak duduk di depan meja kotak yang tak jauh dari tempat penyajian minuman.
Alicia duduk berseberangan dengan pria itu, tersenyum kecil lalu meminta satu minuman pada seorang bartender di depan sana.
"Sedang apa kemari?" tanya Zean, kepalanya menunduk ke bawah dengan tangan yang dibuat sebagai penyangga.
"Aku hanya ingin mencari kebebasan, untuk malam ini."
Zean menoleh, menatap mata wanita di sebelahnya dengan pandangan heran.
"Baru kali ini?" tanya Zean lagi, langsung di angguki oleh Alicia.
Seorang bartender berjalan mendekati mereka, menghidangkan segelas minuman yang sebelumnya diminta oleh Alicia.
Ketika wanita itu hendak meneguk air wine ke dalam tenggorokannya, Zean tiba-tiba langsung merebut.
"Eh? Kenapa?" tanya Alicia bingung, ia meraih gelas nya lagi namun dilarang oleh Zean.
"Maaf Tuan, boleh aku minum?"
"Kau bilang ini yang pertama, memangnya kemarin malam saat acara pesta perusahaan RAC Grup kau tidak minum?"
Kontan Alicia terdiam, pikirannya buyar kemana-mana hanya untuk menjawab pertanyaan dari pria di sebelahnya. Dia benar-benar tidak berpikir kalau sang mantan suami akan curiga dengan pesta kemarin malam.
__ADS_1
"Oh, kemarin aku tidak minum. Aku takut mabuk," balas Alicia setelah cukup lama terdiam hanya untuk mencari jawaban.
"Begitu? Lanjutkan."
Zean menyerahkan gelas milik Alicia, mampu dihabiskan hanya dalam seteguk.
Beberapa waktu berlalu, dan tampaknya Alicia mulai mabuk usai meminum empat gelas wine. Bahkan Zean pria di sebelahnya yang sudah memesan sepuluh gelas masih belum mabuk.
"Tuan, apakah biasanya kau kemari?" tanya Alicia di tengah-tengah kesadarannya yang mulai menghilang.
"Tidak. Aku kemari karena merasa pusing dengan Hanny," sahut Zean.
"Kau … masih bertengkar?"
Pria itu reflek menoleh ke arah kanan, melihat Alicia dengan wajah merah berantakan. Ia terkejut mendengar karyawan perusahaam menyebut dirinya dengan sebutan 'kau'.
"Sampai akhir saja kau menyebutku tanpa kata Tuan," ujar Zean sedikit jengkel, langsung di angguki oleh wanita di sebelahnya.
"Dia benar-benar …."
"Zean, jangan terlalu memikirkan Hanny. Menurutku, dia pasti membutuhkan waktu untuk bisa menerima mu kembali. Jika aku menjadi Hanny juga mungkin akan merasa kesal. Tenang, dia akan baik-baik saja dengan seiring berjalannya waktu," tutur Alicia pelan, membuat pria itu kagum dengan penuturan yang memang ada benarnya.
Zean beranjak dari kursi bar, dia menarik lengan Alicia dan membawanya keluar dari bangunan tersebut.
Wanita yang sudah mabuk berat tidak mungkin Zean tinggalkan seorang diri di dalam sana. Ia membawa masuk Alicia ke dalam mobilnya, dan mobil mulai melaju dengan kecepatan tinggi.
Tak lama berselang, Zean bersama mobil miliknya tiba di depan sebuah gedung apartemen tempat tinggal Alicia. Apartemen yang terkenal dengan kemewahan di dalamnya, G.O.U Big.
"Dimana kamarmu?" tanya Zean usai keduanya berada di lantai dasar.
Alicia menunjuk sebuah lift, meminta agar pria itu membawanya ke sana. Zean pun berjalan memasuki lift bersama Alicia yang masih bertopang pada tubuh kekar nya.
"Lantai?"
"Lantai dua puluh tiga, kamar tiga ratus empat belas."
Sontak Zean terkejut, mendengar lantai dan nomor kamar yang baru saja disebutkan oleh wanita di sebelahnya. Tidak menyangka jika Alicia tinggal di lantai yang cukup jauh.
Setelah beberapa menit berada di dalam lift hanya berdua, mereka akhirnya di lantai tujuan. Zean berjalan secara perlahan seraya menatap papan nomor di pintu tiap kamar, dan berhasil menemukan kamar dimana Alicia tinggal.
__ADS_1
"Berapa kode kamarmu?" tanya Zean lagi.
Namun tampaknya Alicia hanya terdiam, matanya tertutup rapat dengan kondisi tubuh yang semakin lemah.
Karena hal itu, Zean lantas menjadi panik. Dia menggoyangkan tubuh Alicia beberapa kali, hingga membuat wanita itu terbangun.
"Berapa kode kamar? Aku bertanya!" tanya Zean dengan suara lantang.
"Ahh, aku lupa."
Yah, pria itu hanya bisa menghembuskan nafas pasrah. Mau bagaimanapun, hanya Alicia yang tau kode kamar tempat tinggalnya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Burung di atas pohon bersenandung riang dengan merdu selepas cahaya matahari menampakkan sosoknya. Ruangan mulai panas dengan berjalannya waktu yang semakin siang.
Alicia membuka kedua bola mata yang masih terasa berat, dirinya kontan terkejut melihat tiap sudut ruangan yang tidak begitu asing.
Dengan cepat, Alicia lekas bangkit dari ranjang. Ia menoleh ke arah jendela tanpa hordeng, menatap halaman rumah yang begitu luas.
Kini Alicia tau dimana keberadaannya sekarang. Langkah demi langkah terseret melewati tangga menuju sebuah ruangan tak terkunci.
Dengan pelan, Alicia membuka pintu ruangan tersebut dan mendapati sosok pria tanpa busana. Merasa terkejut dengan kedatangan Alicia, Zean lantas berteriak. Ini adalah kali kedua bagi Zean menunjukkan tubuh telanjang pada wanita yang bukan istrinya setelah Hanny.
Teriakan keras yang diciptakan membuat Mira ibunya langsung berlari menuju kamar sang anak.
"Maaf!!!" lontar Alicia seraya menutup pintu kamar Zean dengan keras.
Tiba di lantai itu, Mira heran melihat Alicia tengah berdiri di depan pintu kamar. Ia berjalan mendekati wanita itu dan bertanya, "Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
"A– aku, aku kira ini adalah kamar mandi," balas nya gugup.
Tidak salah jika Alicia mengira kalau itu adalah kamar mandi, lantaran kamar dimana ia tidur dengan kamar milik Zean terletak bersebelahan. Yah, meskipun sebenarnya Alicia tau kalau itu adalah kamar sang mantan suami.
"Ah, benar. Ngomong-ngomong … kamar mandinya ada di sebelah sana."
Mira menunjuk sebuah pintu lebar yang terletak di sisi kanan ruang kamar. Alicia langsung mengangguk dan berjalan mendekati pintu tersebut.
Bersambung ...
__ADS_1
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ