
Happy Reading🐭
Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨
〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Alicia membuka kedua bola matanya, rasa lelah masih ia rasakan usai mengunjungi pesta perusahaan RAC Grup semalam. Kini dirinya bangkit dari ranjang dan berjalan pelan menuju kamar mandi.
Selang beberapa waktu kemudian, Alicia telah duduk di kursi dalam mobil bersama Robin. Pria itu memakaikan sabuk pengaman pada Alicia, lalu memasang sabuk pengaman miliknya.
Padahal selama ini, Robin tidak pernah melakukan hal itu. Meskipun sifatnya yang ramah dan selalu tersenyum, Robin sebenarnya memiliki kepribadian lain.
Dua puluh menit mereka habiskan di dalam perjalan, dan akhirnya tiba di sebuah perusahaan dimana Alicia bekerja. Wanita itu keluar dari mobil dan perlahan mulai memasuki gedung perusahaan.
Tiba di meja kerja, ia langsung membuka layar komputer untuk memulai pekerjaan di pagi yang sejuk.
Belum lama memulainya, Darren tiba-tiba datang dan menghampiri Alicia. Pria itu meminta Alicia untuk menyelesaikan beberapa tugas yang cukup penting, yang hanya bisa diselesaikan oleh orang-orang jenius saja.
"Tolong selesaikan sampai siang nanti, lalu Nona letakkan di atas meja tuan Zean," tutur Darren langsung di angguki olehnya.
Setelah urusannya dengan wanita itu selesai, Darren lantas pergi dari sana. Tugas seorang asisten pribadi memang lebih berat dibandingkan dengan karyawan lain.
"Sepertinya ini mudah," gumam Alicia menyeringai.
Tanpa ia sadari ternyata ekspresi wajahnya tak sengaja dilihat oleh Cellyn, wanita yang duduk di meja paling ujung dari pintu ruangan.
Alicia mulai membuka lembaran kertas penting yang diberikan oleh Darren tadi. Nampaknya dia sama sekali tidak merasa kesulitan dalam menyelesaikan tugas itu. Benar-benar sosok wanita yang jenius.
***
Sementara di perusahaan RAC Grup, terlihat Robin tengah duduk di kursi utama saat acara rapat perusahaan dimulai. Dia menunjukkan sebuah gambar bangunan di Distrik Markaus yang sedang dilakukan pembangunan menggunakan layar lebar. Pembangunan tersebut dimulai sejak dua hari yang lalu ketika Alicia meminta tanah itu untuk dibangun sebuah perusahaan.
"Tolong rancang sebaik mungkin," ucapnya pada beberapa orang di dalam ruangan rapat.
Mereka mengangguk secara bersamaan dan mulai menyentuh keyboard komputer masing-masing.
"Permisi." Seorang wanita mengangkat tangan, lalu berdiri dan menatap ke arah pria di depan sana.
__ADS_1
"Tapi … sejak kapan kita melaksanakan pembangunan di Distrik Markaus?" tanya wanita itu, ia adalah orang yang paling dekat dengan Felipe, Audrey.
"Itu adalah perusahaan pribadi, aku tidak bisa memberitahu siapapun, aku hanya ingin kalian rancang sebaik mungkin untuk pembangunannya" sahut Robin ketus.
"Ahmmm, baiklah." Audrey duduk kembali, membuat beberapa orang di sana menatap ke arahnya.
****
Suasana di kota itu semakin panas setelah matahari berada tepat di atas bayang-bayang. Berberapa orang mulai kelelahan saat menjalankan aktivitas mereka, bahkan ada juga yang memutuskan untuk beristirahat sejenak menikmati minuman dingin.
Alicia masuk ke dalam ruangan Zean begitu tiba di lantai ujung. Tangannya penuh dengan beberapa lembar kertas yang sebelumnya ia selesaikan untuk diserahkan pada si pemilik perusahaan.
"Selamat siang Tuan," sapa Alicia seraya tersenyum.
Namun sepertinya ruangan itu tampak kosong, tak ada satupun orang di dalamnya. Alicia nekat duduk di kursi Zean untuk menunggu pria itu.
Baru duduk di sana, Alicia merasa geram lantaran meja milik tuannya penuh dengan kertas yang berserakan, bahkan sampai berserakan di lantai.
Dengan perlahan, ia mulai meraih lembaran itu dan menatanya menjadi satu. Di bagian lembaran yang terakhir, Alicia terkejut melihat data pribadi keluarganya yang telah meninggal dua tahun lalu karena kasus pembunuhan.
Brugh!!!
Alicia tak sengaja menabrak tubuh kekar seorang pria saat hendak melangkah keluar. Ia mulai membenarkan pandangannya, dan kini melihat sosok pria yang baru saja ditabrak.
"Tu– Tuan?'
Pria yang baru saja ditabrak nya adalah Zean, si pemilik perusahaan yang angkuh. Pria itu menepuk jas yang tengah dipakai, merasa kalau wajah Alicia telah mengotori jas kemeja miliknya.
"Lihat saja, sampai kapan kau akan berlagak sombong pada orang yang lebih rendah."
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Zean, matanya menatap sinis pada wanita di hadapannya.
"Itu, saya hanya ingin menyerahkan kertas yang tadi pagi Darren berikan padaku," jawab Alicia seraya menunjuk tumpukan kertas di atas meja Zean.
"Aku ingin berbicara sedikit denganmu, bisa duduk?"
Zean berjalan mendekat ke arah kursi, kaki kanannya di letakkan di atas kaki kiri, serta kedua tangan yang dilipat pada dada bidangnya.
__ADS_1
"Bukankah ini … milik mu?" tanya Zean, ia menunjukkan sebuah liptint yang semalam sempat ditemukan oleh Hanny.
"Eh? Kenapa ada pada Tuan?" Alicia mendekati pria itu, lalu menempelkan dua gunung kembarnya pada lengan Zean, reflek menciptakan sensai empuk yang membuatnya nyaman terus berada di posisi itu.
"Ini, semalam Hanny yang menemukannya di dalam mobil. Dia kesal padamu, karena sempat masuk ke kamar nomor dua puluh saat kami berhubungan. Lalu, dia tambah kesal saat melihat liptint milik mu di dalam mobil," ungkap Zean, dia meletakkan liptint milik Alicia ke dalam saku kemeja wanita itu.
Modusnya, dia ingin menyentuh bagian tubuh yang selalu ingin dirasakan.
Kriet …
Pintu ruangan terbuka, dan menampakkan sosok Hanny yang berdiri sana. Matanya dibuka lebar tak menyangka bisa melihat dua orang tengah beradu mesra, apalagi bersama pria kekasihnya.
"Hei!!! Alicia?!!" teriak Hanny langsung menampar pipi wanita itu dengan keras, menciptakan bekas merah di wajahnya.
"A– apa?" tanya Alicia lembut, tak menunjukkan wajah kesal sedikitpun.
"Apa yang kau lakukan dengan Zean? Kau mau merebutnya?" lontar Hanny kesal.
Dua wanita yang tengah ribut membuat Zean merasa pusing. Dia melerai pertengkaran dengan mendorong tubuh mereka.
"Oh, jadi kau lebih membela Alicia?" tanya Hanny menatap pria itu.
"Bukan, tapi ini demi perusahaan. Memang kau mau membuat ribut di perusahaan ku? Mau merusak perusahaan ku, begitu?" papar Zean, ia menarik lengan sang kekasih dan membawanya keluar dari ruangan.
"Hmmm, menarik," gumam Alicia.
Di luar sana, Hanny benar-benar tidak mau menatap Zean. Kedua tangannya ia letakkan di pinggang dengan kedua bola mata yang mulai mengeluarkan cairan bening.
"Aku mohon, jangan membuat keributan lagi. Tenang, aku hanya mencintaimu. Di dunia ini, tak ada siapapun yang lebih spesial dari pada sosok wajahmu, Hanny."
"Tapi itu benar liptint milik Alicia, kan??" tanya Hanny memastikan.
Belum sempat menjawab, terlihat Darren yang keluar dari dalam lift. Kedatangannya yang secara tiba-tiba membuat sepasang kekasih itu kontan terkejut dan seketika saling terdiam.
Bersambung ...
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ
__ADS_1