
Happy Reading🐭
Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨
〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Angin bersiul mendinginkan atmosfer ruangan, disertai dengan turunnya hujan gerimis yang mulai membasahi kota tersebut. Alicia membuka kedua bola matanya setelah mendengar nada dering yang berbunyi pada ponsel.
Begitu dilihat, ternyata tidak ada nama seseorang di dalamnya, sudah jelas bahwa nomor itu tidak ia kenali.
Di waktu yang sudah cukup mendesak, membuat Alicia langsung bergegas melompat dari ranjang untuk membersihkan tubuhnya. Wanita itu tidak memikirkan seseorang yang meneleponnya sepagi ini.
Tiga puluh menit telah berlalu, dan kini Alicia sudah duduk di dalam mobil bersama pria berkacamata. Mobil mulai melaju dengan perlahan dan memasuki area jalan raya.
Di tengah-tengah keramaian pusat kota, ponsel Alicia kembali berdering. Memekakkan telinga kecilnya itu. Merasa kesal, iapun mematikan ponselnya dan kembali fokus memandang jalan pusat kota yang ramai dengan kendaraan seperti biasanya.
"Robin, setelah mengantarku ... kau mau kemana?" tanya Alicia, menatap pria yang duduk berseberangan dengannya.
"Tentu saja ke perusahaan untuk melayani bos ku," sahut nya cengengesan.
"Apa ada yang kau perlukan?" tanya Robin.
"Mmmm, tidak kok."
Tak terasa kini mereka akhirnya tiba di FWaD Company dalam waktu yang cukup singkat, mungkin berkat lalu lintas yang tidak sepadat di hari-hari biasa.
Mobil yang di kemudi oleh pria berkacamata itu pun kembali melaju, bergabung dengan banyaknya kendaraan lain yang tengah berjalan memenuhi lalu lintas.
Begitu masuk ke dalam perusahaan, Alicia langsung dikejutkan dengan sosok Darren, asisten pribadi Zean. Pria itu tampak berlari seraya berteriak memanggil namanya beberapa kali.
"Kenapa No-- Nona tidak bisa di hubungi?" tanya Darren dengan suara nafas berantakan.
"A-- ah, maaf. Habisnya ada nomor anonymous yang lagi-lagi menelepon, aku jadi geram dan mematikan ponselku," ujar Alicia gugup.
"Astaga, mungkin itu nomorku!"
Kontan kedua bola matanya terbelalak lebar, ia benar-benar tidak berpikir kalau mungkin saja nomor yang meneleponnya sejak pagi adalah Darren.
__ADS_1
"Memangnya, ada masalah apa sampai menghubungi saya?" tanya Alicia penasaran.
"Tuan Zean mengajak beberapa karyawan untuk mengikuti rapat, Nona Alicia adalah salah satunya."
Wanita itu mengangguk paham, kini keduanya jalan beriringan menuju lift. Selang beberapa saat, akhirnya mereka tiba di lantai dua puluh, memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya sudah ramai dengan orang-orang.
Alicia duduk di kursi yang tersisa, jaraknya begitu dekat dengan Zean. Karena tidak ada kursi lain yang menjadi penghalang antara dirinya dengan pria di seberang kursi itu, membuat Alicia cukup bersemangat.
Zean menaikkan kepalanya, menatap angka jarum jam yang telah menunjukkan pukul delapan tepat. Acara rapat yang sudah disiapkan sejak semalam pun dimulai, tak ada satupun dari mereka yang berani berkata sebelum diperintah oleh si pemilik perusahaan.
"Jadi, alasanku memanggil kalian semua ke tempat ini adalah karena tanah yang telah kita rencanakan untuk dibeli pekan lalu, sudah dibeli oleh seseorang," ucap Zean memberitahu, sukses mengejutkan beberapa karyawannya.
Namun tidak dengan Alicia, dia justru merasa senang jika bisa membuat pria di sebelahnya itu merasa panik dan kebingungan.
"Aku memang belum menghubungi tuan Jade, namun aku ingin agar kalian semua memberi pendapat bagaimana cara untuk mengambil tanah itu kembali," lanjut ucapnya.
Tangan Alicia mulai mengepal erat, lalu bangkit dari kursinya untuk memberi pendapat. Yah, meskipun belum memiliki pengalaman bekerja di kantor, namun wanita itu sudah mengetahui bagaimana cara kerjanya.
Alicia belajar semua itu ketika dirinya masih menjadi istri sah Zean, sering mengunjungi suaminya di perusahaan dan melihat bagaimana caranya bekerja seperti orang-orang hebat di dalam sana.
"Menurutku, lebih baik jika Tuan menanyakan dulu pada tuan Jade, siapa orang yang telah membeli tanah di Distrik Markaus. Jika sudah jelas semuanya, kita baru mengadakan rapat," usulnya.
Seketika beberapa orang di dalam sana menatap Alicia dengan kagum. Pekerja newbie seperti dia ternyata bisa lebih bijak mengambil keputusan dibandingkan dengan pemiliknya.
"Tidak kusangka, prestasi hasil belajar nya di Amerika ternyata sebaik ini," gumam Zean merasa kagum.
"Sepertinya bagus juga usulan dari mu. Kalau begitu, acara rapat pagi ini ditunda saja, kita akan memulai rapat nanti malam setelah aku mendapat jawaban dari tuan Jade," paparnya.
Merekapun mulai keluar dari dalam ruangan rapat satu-persatu, namun tidak dengan Alicia yang tiba-tiba mendapat perintah untuk tetap berada di dalam sana bersama Zean dan si asistennya.
"Kau ikut denganku menemui tuan Jade," perintah Zean.
"Baik."
Tidak menggunakan waktu lama, kini Alicia bersama dua pria di depannya berjalan menuju basement. Seorang pria dengan sebuah kacamata serta jas kemeja berwarna hitam itu membukakan pintu mobil untuk mereka.
Mobil yang ditumpangi Alicia mulai melaju dengan perlahan. Melewati gedung-gedung besar di kota tersebut, dengan ramainya kendaraan yang memenuhi lalu lintas.
__ADS_1
Selama diperjalanan, tak ada satupun dari mereka yang membuka mulut. Auranya terasa sangat berbeda jika dibandingkan dengan naik mobil bersama Robin.
Waktu yang cukup lama diperjalanan membawa mereka tiba di depan sebuah rumah. Halaman dan rumah yang begitu besar, membuat wanita itu menjadi penasaran siapa pemilik dari rumah tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hoho, siapa kalian? Toh, aku baru melihatnya," tanya seorang pria yang nampak tengah duduk di sebuah sofa lebar.
Di depannya terlihat sebuah meja yang terbuat dari keramik penuh dengan cemilan lezat.
"Aku Zean Adalrich, pemilik FWaD Company, dan mereka pekerja ku," ungkapnya seraya menunjuk Alicia dan Darren.
"Oh, cabang perusahaan milikmu banyak, kan?"
Zean mengernyitkan dahi, tujuannya ke tempat itu bukanlah untuk membahas perusahaan miliknya yang memiliki banyak cabang, melainkan membahas sebuah tanah di Distrik Markaus.
"Aku tidak ingin basa-basi, aku hanya ingin tau siapa yang sudah membeli tanah di Distrik Markaus itu? Bukankah kau tidak menyebarkannya pada orang lain, selain aku?" tanya Zean menaikkan nada bicaranya.
Sikapnya sejak dulu, tidak pernah berubah. Sosok Flor yang mengenalnya bahkan sudah merasa bosan, sifat angkuh yang ia miliki benar-benar membuat wanita itu ingin sekali membuangnya dari dunia ini.
"Apa kau sangat ingin tau?"
Brak!!! Kontan semua orang di dalam ruangan itu terdiam, begitu Zean memukul meja dengan keras.
"Apa tidak bisa langsung menjawab saja? Aku paling tidak suka orang yang berbelit-belit seperti mu!"
"Baiklah baiklah ... aku akan menjawabnya. Orang yang membeli tanah itu adalah Natasya Angel. Wanita bedarah China Amerika."
"Ha-- hah? Sejak kapan ada orang seperti itu di sini?" tanya Zean bingung.
"Tapi memang begitu kenyataannya."
"Robin benar-benar yang terbaik!"
*Bersambung ... *
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ
__ADS_1