
Happy Reading🐭
Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨
〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Zean duduk di kursi ruangan kerja, di sana hanya terdapat dua orang yang tak lain adalah dirinya sendiri bersama si asisten pribadi, setelah Hanny pergi tanpa berbicara sepatah katapun padanya.
Darren menyodorkan ponsel pada pria itu, menunjukkan sebuah rekaman video saat beberapa orang berpakaian serba hitam tengah berdiri di halaman tanah yang akan dibangun di Distrik Markaus.
Nampaknya orang-orang itu terlihat asing, bahkan wajah mereka sampai ditutup menggunakan masker berwarna hitam.
"Sebenarnya siapa wanita bernama Nastya Angel?" tanya Zean serius, wajahnya terlihat panik usai menonton video yang baru saja ditunjukkan oleh Darren.
"Entahlah, tapi aku sudah meminta beberapa orang untuk melacak identitas Angel."
"Baik, akan aku tunggu informasi berikutnya dari mu."
Darren mengangguk, dirinya lantas keluar dari ruangan sang tuan. Siang itu ia benar-benar dibuat sibuk hanya untuk membobol identitas wanita misterius bernama Angel.
*****
Langit berwarna oranye sore itu mengingatkan Alicia akan kenangannya bersama sang mantan suami. Dia melihat tiap jalanan kota penuh dengan kendaraan umum yang berjalan dengan kecepatan sedang.
Di sela indahnya langit sore, Alicia juga melihat burung-burung yang berterbangan mengitari bangunan kota. Udara kotor kendaraan di hirup nya dengan panjang, lalu di hembuskan.
"Itu bukannya …."
"Robin, berhenti!!!" ucap Alicia tiba-tiba, membuat Robin reflek menginjak rem mobil. Akibatnya, beberapa kendaraan lain yang berada di belakang mereka ikut berhenti secara mendadak.
"Ada apa?" tanya Robin panik kalang kabut, dia kira wanita di sebelahnya mengalami sesuatu hingga memintanya untuk menghentikan mobil.
"Aku ingin menghampiri dia," tutur Alicia, tangannya menunjuk seorang wanita yang tampak celingak celinguk di tepi jalan.
Sebelum keluar dari mobil, Robin sempat memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Jika tidak, mungkin para pengendara lain akan merasa kesal.
"Permisi, Bu Mira?" sapa Alicia usai menghampiri seorang wanita yang tadi ditunjuk olehnya.
"Ah? Kau kan yang waktu itu?" sahut Mira, ibu dari Zean si pemilik FWaD Company.
"Kenapa anda di sini? Apa yang sedang anda lakukan?" tanya Alicia heran.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sedang menunggu taxi. Sejak tadi aku sudah menunggu anakku, tapi dia tidak juga datang."
Alicia terdiam sejenak, seketika senyum menyeringai terlintas di wajah cantiknya. Rambut yang tergerai ke belakang membuat Robin iseng menata rambut itu ke depan.
"Bagaimana jika numpang saja?" tawar nya, seketika Mira langsung mengangguk menyetujui ajakan dari wanita muda itu.
Entah mengapa, sifatnya sejak dulu masih belum berubah. Ia selalu mau jika ditawari hal yang menguntungkan bagi diri sendiri, tanpa memperdulikan orang di sekelilingnya.
Selama di perjalanan menuju kediaman Adalrich, Alicia bersama Mira terus mengobrol hingga menciptakan suasana hangat. Mira menceritakan soal keluarga kecilnya, mulai dari sang anak hingga calon menantu. Namun semua cerita yang ia beberkan pada Alicia, Mira sama sekali tidak membahas soal Flor mantan menantunya.
Bukan rasa sakit yang kini tengah dipendam wanita itu, melainkan sebuah rasa dendam yang ingin diberikan pada si mantan ibu mertua sekarang.
Obrolan yang hangat itu membuat perjalanan panjang tak terasa lama, mereka tiba di halaman rumah kediaman Adalrich setelah hampir satu jam. Dari semua yang berada di sana, Alicia sama sekali tidak melihat perubahan.
Sejak terakhir kalinya berada di rumah itu, Alicia masih melihat sebuah benda berwarna hitam berada di dekat tombol bel. Benda itulah yang membuatnya masih bertanya-tanya hingga saat ini.
"Alicia, apa kau mau mampir?" tawar Mira, ia mempersilahkan wanita itu untuk masuk.
Tanpa pikir panjang, Alicia lantas menyetujui ajakan Mira seperti dirinya yang sempat mengajak Mira masuk ke dalam mobil tadi.
Alicia bersama Robin melangkah pelan memasuki kediaman Adalrich, kemudian duduk di sebuah sofa ruang tamu yang begitu megah.
Ketika melihat ada tamu, seorang pelayan rumah langsung berlari ke sofa dimana dua orang tengah duduk santai.
"Apa saja," balas Robin.
Usai kepergian si pelayan rumah, Mira pun duduk berhadapan dengan mereka. Ia menampilkan beberapa benda mewah yang pernah dibeli dari luar negeri. Tentu, sikapnya membuat Alicia merasa jijik.
"Oh ya, apa aku boleh meminta sesuatu dari mu?" tanya Mira seraya meraih pergelangan tangan Alicia, kontan membuat dua orang terkejut sekaligus heran.
"I– iya?"
"Jika mau, panggil saja aku Ibu. Sudah lama menantuku pergi entah kemana, aku jadi kangen dipanggil dengan sebutan Ibu," tutur nya.
Meskipun di depan wanita itu Alicia tampak terdiam, namun sebenarnya ia berdecit kesal dalam hati. Bisa-bisanya orang yang sudah jahat ingin dipanggil dengan sebutan ibu oleh orang yang telah dijahati nya.
"Ah, maaf. Tapi aku akan menikah dengan pria di luar sana sebentar lagi," sahut Alicia lembut, sengaja tersenyum meskipun hatinya merasa hancur.
"Baiklah, tidak masalah. Kalau aku boleh tau, dimana kau bekerja?"
"Aku bekerja di FWaD Company, kenapa?"
__ADS_1
Mira menaikkan sebelah alisnya, terkejut begitu mendengar kalau wanita di hadapannya saat ini ternyata bekerja di perusahaan milik sang anak.
"Wahhh, apakah ini sebuah keajaiban? Kau bekerja di perusahaan anakku," ungkap nya dengan wajah berseri.
"Hah? Benarkah? Ahaha, aku baru tau."
"Bagaimana jika– "
Drrttt …
Di tengah perbincangan itu, seseorang tiba-tiba menelepon Alicia, membuatnya terpaksa harus menjauh untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, siapa ini?" tanya Alicia sekaligus membuka pembicaraan.
Ia bingung lantaran nomor yang menghubunginya adalah nomor asing, atau nomor yang tidak ada dalam ponsel.
"Aku Cellyn, halo Alicia," sahut orang dari balik telepon itu, sukses mengejutkan Alicia saat tahu kalau Cellyn tengah mengobrol bersamanya sekarang.
"Maaf, aku sibuk."
Alicia mengakhiri panggilan secara sepihak, lalu berjalan mendekati dua orang di sofa itu.
"Maaf Bu Mira, aku harus pergi karena ada urusan. Lain kali aku akan berkunjung lagi dan kita bisa mengobrol," papar nya seraya menarik lengan Robin.
Ia langsung pergi masuk ke dalam mobil tanpa menunggu jawaban dari wanita berwajah muda itu.
Di perjalanan, Robin merasa heran dengan perangai Alicia. Wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat usai mengangkat panggilan dari seseorang.
"Ada apa denganmu?" tanya Robin, dia benar-benar tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Aku ingin kau … menyelidiki kasus kematian orang tuaku dua tahun lalu."
Alicia mengeluarkan sebuah kertas yang sebelumnya ditemukan di dalam ruangan Zean. Dia menunjukkan kertas identitas keluarganya yang sudah tiada pada pria itu.
"Eh? Apa ini?" tanya Robin masih dengan rasa penasarannya.
"Aku menemukan ini di ruangan Zean."
Robin mengangguk, ia mengerti maksud dari perkataan Alicia.
Bersambung ...
__ADS_1
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ