Balas Dendam Setelah Dikhianati

Balas Dendam Setelah Dikhianati
29. Ada Apa Sebenarnya?


__ADS_3

Happy Reading🐭


Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨


〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎


Warna pelangi indah tampak berada di langit. Suasana panas yang dibarengi hujan rintik-rintik membawa pemandangan indah di pagi itu. Banyak orang mulai beraktivitas menjalankan tugas mereka masing-masing. Ruangan kantor yang dipenuhi dengan orang-orang menjadikan atmosfer menjadi lebih hangat.


Alicia berjalan menuju lantai paling ujung, dimana terdapat sebuah ruangan si pemilik perusahaan. Tangannya terlihat membawa sebuah cup berisi minuman dingin rasa coklat.


Tiba di lantai tujuan, wanita itu lantas mengetuk pintu ruangan dengan keras hingga terdengar oleh seseorang di dalamnya.


"Alicia?" Darren terkejut melihat sosok Alicia membawa minuman ke ruangan itu.


Dia berpikir mungkin saja Alicia mengira Zean telah pulih dan berangkat ke kantor pagi ini. Tapi nyatanya tidak lantaran Zean masih berbaring di ranjang rumah sakit.


"Aku membeli dua, sebenarnya ingin ku berikan pada Cellyn. Eh, ternyata dia tidak bisa minum minuman dingin sekarang," ucap Alicia seraya memberikan satu minuman tersebut pada pria di hadapannya.


"O-- oh, begitu?"


Darren menerima pemberian dari Alicia lalu meminumnya secara langsung. Sensasi yang dirasakan mampu membulatkan kedua bola matanya. Selama ini Darren belum pernah sekalipun mencoba minuman seenak itu.


"Dimana kau membelinya?" tanya Darren penasaran. Feeling mengatakan kalau Alicia sempat membelinya di kantin. Minuman baru yang dijual khusus untuk para pekerja perusahaan.


Sesaat mendapat jawaban dari Alicia yang menggelengkan kepalanya, Darren pun memikirkannya kembali. Pria itu memang suka menebak, dan apabila tebakannya salah maka ia akan berusaha lebih keras lagi sampai berhasil.


"Sebenarnya aku membuat sendiri, hehe ... " ungkap Alicia.


Seketika Darren langsung memiliki ide yang tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya.


"Kenapa kau tidak menjual minuman itu saja untuk penghasilan lebih?" usul Darren.


Meskipun di depan pria itu Alicia tampak menunjukkan wajah setuju, namun sebenarnya tidak dalam hati.


"Terima kasih atas saranmu, aku permisi dulu untuk melanjutkan pekerjaan," pamit Alicia lalu berjalan pergi menuju lift yang terlihat kosong dari orang-orang.


Saat berada di lantai ruang kerjanya, Alicia tiba-tiba saja mendapat sebuah panggilan dari seseorang. Namun seseorang dari dalam telepon itu tidak terlalu penting menurutnya, membuat Alicia merasa enggan untuk mengangkat.


"Alicia, ponselmu berbunyi terus. Apa kau tidak dengar?" lontar Emery, rekan kerja Alicia yang duduk tak jauh dari meja kerja miliknya.


"Aku tau. Lagipula ini bukan urusanmu, kenapa harus ikut campur?" celoteh nya.

__ADS_1


"Toh, aku hanya berbicara."


**


Hari berjalan dengan cepat, bahkan langit sudah terlihat semakin gelap dengan burung-burung yang berterbangan mengelilingi tiap bangunan kota.


Saat tengah berdiri di depan bangunan perusahaan, Alicia dipertemukan dengan sosok Mira ibu Zean.


Bukannya menghindar, ia justru malah berusaha agar wanita itu menghampiri ataupun memanggil namanya dari arah yang cukup jauh.


Tidak perlu menarik perhatian, wanita berwajah muda bernama Mira lantas menghampiri Alicia. Tepat sesuai keinginannya.


"Ah? Bu Mira, selamat sore," sapa Alicia saat berhadapan langsung dengan Mira.


"Untung saja kau belum pergi. Apa mau menemaniku?" tanya Mira berharap, wajahnya menampakkan raut iba.


"Ke-- kemana?"


"Ke rumah sakit untuk menjenguk Zean."


"Lalu bagaimana dengan Hanny? Dia pasti akan marah."


Tanpa harus berpikir panjang, Alicia bersama Mira pun langsung menuju rumah sakit dimana Zean masih dirawat.


Selama berada di dalam mobil, tak banyak obrolan yang dibicarakan lantaran Mira hanya fokus menatap layar ponsel saja. Meskipun sedikit kesal, namun Alicia berusaha untuk bisa tetap bertahan demi keberhasilan dalam misinya.


Hampir setengah jam memakan waktu, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Langit malam itu membuat halaman rumah sakit cukup sepi, bahkan hanya ada beberapa bola lampu saja yang menyala.


Sang sopir pribadi keluarga Adalrich itu memarkirkan mobilnya di area parkir yang telah disediakan. Sedangkan Mira bersama Alicia hanya perlu masuk ke dalam bangunan rumah sakit tersebut.


Meskipun nampaknya Alicia cuek dengan si sopir, tapi sebenarnya dia sangat dekat dengan sosok pria itu. Saat dirinya masih menjadi Flor, orang yang selalu ada dan paling dekat dengannya adalah sang sopir pribadi.


-


-


-


Deg?!! Hanny terkejut. Jantungnya berdetak hebat dengan tangan ber gemetar melihat dua orang wanita berjalan mendekat ke arahnya.


Setengah dari rasa takut itu justru menimbulkan rasa kebencian pada Alicia. Kedatangannya tentu membuat Hanny semakin geram karena berpikir Alicia akan merebut Zean kekasihnya.

__ADS_1


"Kenapa kamari lagi?" tanya Hanny menghampiri dua wanita yang masih berada di arah yang cukup jauh.


"Kenapa? Ibu yang mengajaknya. Jangan banyak bicara," sahut Mira kontan mengejutkan dua orang sekaligus.


Alicia sendiri tidak percaya dengan sikap dan perilaku sang mantan ibu mertua pada Hanny, calon menantu kedua setelah Flor.


"Kenapa Ibu jadi begini, sih? Aku sangat yakin karena wanita ini!" lontar nya menunjuk Alicia.


Bukannya memasang raut wajah takut, Alicia justru sengaja menampakkan raut bahagianya. Dia menyeringai lebar dengan sebelah tangan yang merangkul pada lengan Mira.


"Ayo masuk," ajak Mira langsung menarik lengan wanita di sebelahnya.


...----------------...


"Alicia? Kenapa kau ada di sini?" tanya Zean terkejut melihat kedatangan si karyawan perusahaan.


"Iya, Ibu yang mengajak dia. Sudahlah, dia itu baik dan cerdas juga perhatian. Apa kau tidak tertarik?" beber Mira.


Alicia yang terus menjadi bahan pembicaraan merasa senang lantaran terus dipuji dan dibanggakan. Dia tidak merasa tersinggung sedikitpun.


"Iya Zean, maaf jika aku datang secara tiba-tiba," timpal Alicia tersenyum.


"O-- oh, tidak masalah."


"Emmm, Bu Mira ... apa Ibu bisa keluar sebentar? Aku ingin bicara berdua dengan Zean," tuturnya pelan, langsung dibalas anggukan oleh Mira meskipun hatinya merasakan sesuatu yang janggal.


"Ada apa?" tanya Zean usai sang ibu keluar dari ruangan tersebut.


Alicia berjalan mendekati pria yang berbaring di atas ranjang dengan tatapan mata tajam. Senyum lebar terukir pada wajah cantik nan elegan itu.


"Ugh, katakan saja."


Hati Zean mulai tidak tenang. Satu persatu bayangan aneh mulai terlintas dalam benaknya. Ditambah lagi dalam kondisi yang tidak memungkinkan saat ini membuatnya khawatir akan sesuatu yang terjadi pada Alicia, tentu hal yang sudah lama ia takut kan.


Sementara itu, di depan ruangan terlihat dua wanita yang saling duduk bersebelahan. Tatapan Hanny sesekali main mata pada wanita di sebelahnya, yang tak lain adalah Mira.


Selama duduk, Mira sama sekali tidak mengajak dirinya mengobrol. Berbeda jauh dengan waktu-waktu sebelumnya ketika mereka sering mengobrol dan bercanda gurau seperti keluarga.


Bersambung ...


Mohon dukungannya untuk karya ini~ (๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ

__ADS_1


__ADS_2