
Happy Reading🐭
Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨
〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Episode sebelumnya~
"Ada apa kau kemari?" tanya Hanny ketus. Perlahan kakinya mulai berjalan menghampiri wanita itu.
"Hanny, jangan seperti itu. Kau pasti akan menjenguk Zean, kan?" timpal Mira. Dia juga ikut menghampiri Alicia.
"Benar, aku membawa kue ini untuknya."
"Kau selalu sok perhatian dengan calon suami dan calon ibu mertua ku! Apa yang sebenarnya kau inginkan?" Hanny mendorong pundak Alicia hingga membuatnya terpojok.
"Jika bukan karenamu, Zean tidak akan masuk rumah sakit, bukan?"
Mira terdiam setelah mendengar ucapan tidak masuk akal dan membingungkan keluar dari mulut wanita itu.
"Apa maksudmu, Alicia?" tanya Mira.
"I– ibu, lupakan saja. Dia selalu berbicara tidak jelas, jangan perdulikan."
...----------------...
Awan gelap telah menyelimuti langit malam. Hiasan lampu yang berjajar di sepanjang jalan mampu menyinari situasi gelapnya kota. Ditambah dengan berbagai kendaraan umum yang melintas sambil menyalakan lampu kendaraan. Kini suasana menjadi ramai dengan para penghuni.
Alicia duduk berhadapan langsung dengan dua orang wanita. Mereka tampak menikmati indahnya tempat di sebuah restoran yang cukup dekat dengan rumah sakit.
Sepertinya malam itu Mira merasa bersenang-senang lantaran Alicia akan mentraktir makan malam.
"Apa boleh aku menambah?" tanya wanita berwajah muda yang duduk di sebelah Hanny. Tangannya hendak meraih buku menu, dan langsung di angguki oleh Alicia.
"Kau benar-benar baik, pasti kau sangat bekerja keras di perusahaan, kan?" ucapnya fokus menatap buku menu.
"Ah, tidak kok. Aku hanya bekerja sesuai tugas saja," balas Alicia tersenyum.
Setelah beberapa saat berlalu, makanan serta minuman yang sebelumnya mereka pesan akhirnya di hidangkan. Terlihat seorang pria membawa nampan penuh berisi makanan, lalu meletakkannya di atas meja.
"Silahkan menikmati," ucap pria tersebut, lalu pergi untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.
__ADS_1
"Jika ada yang kurang bisa pesan makanan lagi … " ujar Alicia.
Seketika ketiga wanita di sana langsung sibuk melahap makanan masing-masing. Tak ada satupun dari mereka yang membuka pembicaraan. Hanya ada suara sendok dan garpu yang saling berperang memperebutkan makanan di atas piring.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di perusahaan RAC Grup, Robin tengah memandang layar komputernya dengan tatapan serius. Jarang ia menatap layar komputer seperti saat ini, kecuali ada hal yang benar-benar penting.
"Robin, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Felipe tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerja miliknya.
"Aku sedang melihat statistik kenaikan tanah yang sedang dibangun perusahaan," jawabnya ketus.
"Eh? Serius sekali, aku lihat ya?" Felipe berlari menghampiri pria itu yang masih duduk di atas kursinya.
Benar saja, Felipe melihat statistik kenaikan tanah yang sedang dibangun sebuah perusahaan. Tentu itu adalah perusahaan KAC Food milik Alicia. Mungkin hanya membutuhkan dua sampai tiga minggu lagi hingga bangunan tersebut benar-benar bisa digunakan sepenuhnya.
"Aku membawakan makanan untuk kita. Mau dimakan dulu?" tawar Felipe seraya menunjukkan sebuah plastik kantong berwarna hitam berisi makanan di dalamnya.
Kontan Robin menjadi teringat dengan sosok Alicia yang masih berada di perusahaan. Ia sampai lupa untuk menjemput wanita itu lantaran hanya fokus pada urusan perusahaan sejak tadi sore.
Robin bergegas meraih ponsel dari dalam saku celana, lalu segera menghubungi Alicia. Setelah beberapa saat mencoba untuk menghubungi wanita itu, Robin masih belum mendapat jawaban.
"Alicia belum memintaku untuk menjemputnya. Apakah dia masih sibuk di perusahaan?" tebak nya.
"Sudahlah, kau tidak perlu mengkhawatirkan dia terus. Alicia sudah dewasa dan bahkan sudah bekerja, apa dimatamu dia adalah anak kecil yang masih bersekolah?" celetuk Felipe.
"Jika bukan karena orang tuanya, aku mungkin tidak akan mengkhawatirkan dia sampai seperti ini."
"E– eh? Apa katamu barusan? Apa kau ada kaitannya dengan keluarga dia?"
Robin mengangguk, langkahnya berjalan mendekati sebuah jendela besar yang memperlihatkan bangunan kota di luar sana. Sebuah cahaya lampu yang bersinar terang dari dalam ruangan membuatnya menjadi mengingat masa lalu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usai kelar dengan acara dinnernya, Alicia lantas berjalan mendekati kasir restoran. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang bernilai besar dari dalam tas kecil. Tak hanya itu, di dalam tas juga terdapat sebuah kartu berwarna hitam atau biasa disebut black card yang sempat diberikan oleh Robin beberapa waktu lalu.
Belum sempat menyerahkan uang tersebut pada si kasir, Hanny dengan langkah cepat tiba-tiba menghampiri wanita itu. Dia menangkis tangan Alicia yang hendak membayar. Sontak kejadian itu sukses menyita perhatian orang disekitar.
"Tidak perlu sok baik, kau pikir aku rendahan sampai tidak bisa membayar?" ucap Hanny.
Ia mengulurkan uang pada si kasir. Setelah uang tagihan keluar dari dalam mesin dan memperlihatkan struk jumlah makanan, kedua bola mata Hanny langsung terbelalak lebar.
__ADS_1
Tidak tau kalau sekarang dirinya berada di sebuah restoran mahal yang bahkan uang miliknya saja kurang untuk membayar.
"Uangnya masih kurang," ucap si wanita penjaga kasir.
"Masih mau membayar sendiri?" Alicia tersenyum. Tangannya menodongkan sebuah black card dan lagi-lagi sukses mengejutkan Hanny.
"Sial! Apakah dia benar wanita tajir? Apa perlu aku peralat saja ya?"
Ketiga wanita tersebut masuk ke dalam sebuah mobil taxi. Mereka kembali menuju rumah sakit dimana Zean masih di rawat di dalam rumah sakit itu.
Di tengah perjalanan, Mira tiba-tiba mendapat sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. Merasa kalau itu adalah nomor penting, ia lantas mengangkat panggilannya.
"Halo, siapa?" sapa Mira sekaligus bertanya.
"Aku pria tadi pagi, apa kau masih ingat dengan kesepakatan kita?"
Seorang pria bersuara berat berbicara dari balik telepon tersebut. Mungkin karena sang anak yang mendadak mengalami musibah membuatnya lupa akan tujuan awal yang telah dinanti seharian penuh.
"Oke, aku mengerti. Kita bertemu di Green Argo."
Mira mengakhiri panggilan secara sepihak. Dirinya yang tiba-tiba meminta turun di jalan itu sempat membuat dua wanita lainnya menjadi keheranan.
"Ibu mau kemana?" tanya Hanny meraih lengan si calon ibu mertua.
"Aku ada urusan, tolong jangan ikut campur. Okey?"
Hanny menganggukkan kepalanya secara perlahan. Mira turun dari mobil dan langsung berjalan menuju arah yang berbeda. Mereka tak tau kalau Mira akan menunggu taxi lain di seberang jalan.
Beberapa saat setelah taxi kembali melaju, giliran Hanny yang mendapat sebuah panggilan dari seseorang.
"Halo selamat malam, siapa ini?" tanya Hanny pelan.
"Saya suster dari rumah sakit. Mengenai keadaan tuan Zean, beliau sudah sadar," jawab wanita dari balik telepon itu.
Ternyata dia mendapat sebuah panggilan dari pihak rumah sakit yang ingin memberi kabar mengenai keadaan Zean yang kian membaik. Seketika cairan bening tanda bahagia keluar dari kedua bola matanya, membasahi wajah cantik natural dengan rambut berwarna merah muda berkilau yang dimiliki.
"Terima kasih atas informasinya, Suster."
Bersambung ...
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ
__ADS_1