
Happy Reading🐭
Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨
〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Mentari pagi menyambut Alicia yang baru saja membuka kedua bola matanya. Wanita itu terbangun setelah mendengar suara notifikasi dari ponsel yang berbunyi beberapa kali hingga mampu memekakkan telinganya.
Begitu membuka layar ponsel, Alicia merasa terkejut sekaligus senang dengan sebuah pesan yang di kirimkan oleh Darren bahwa hari ini FWaD Company akan cuti.
Mungkin karena hari ini Zean akan menyiapkan pakaian yang akan digunakan saat datang ke acara pesta perusahaan RAC Grup.
Begitu mengumpulkan seluruh nyawa, Alicia lekas bangkit dari ranjang. Langkah cepatnya berjalan memasuki kamar mandi.
Tidak membutuhkan waktu lama, wanita berambut panjang itu akhirnya telah siap dengan mengenakan pakaian mewah. Pagi ini dia akan pergi mengunjungi salah satu salon di kota nya untuk merias rambut. Tentu saja agar ia bisa tampil elegan di depan khalayak umum nanti malam.
"Robin, kau sudah siap?" tanya Alicia membuka pintu kamar Robin dengan asal.
Kontan pria berkacamata itu terkejut, melihat Alicia sembarang masuk ke dalam kamarnya. Apalagi kondisinya saat itu sedang telanjang tanpa sedikitpun kain yang menempel pada tubuh kekar nya.
Alicia langsung menutup pintu kamar Robin, jantungnya berdetak hebat setelah melihat tubuh pria yang tampaknya cupu ternyata begitu menawan. Setiap otot dan lekukan tubuh begitu menonjol, hingga membuatnya hampir pingsan.
Selang beberapa waktu kemudian, Robin keluar dari kamarnya. Pria itu mengenakan kemeja berwarna putih biasa dengan jas hitam di luarnya. Jarang-jarang Robin memakai pakaian mewah seperti saat ini.
"Wah, kau tampan sekali! Ngomong-ngomong … aku akan membuatmu lebih tampan lagi setelah datang ke salon nanti," puji Alicia, seketika kedua pipi pria itu tampak memerah.
"Sudahlah, jangan banyak memuji. Ayo ke basement." Robin menarik lengan Alicia.
Keduanya masuk ke dalam mobil usai tiba di basement. Seperti biasa, Robin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga akhirnya mereka bergabung dengan kendaraan umum lainnya di jalan pusat kota.
Waktu yang singkat membawa mereka tiba di sebuah salon besar. Jika dilihat dari luarnya, bangunan salon itu tampak tua dan tidak layak dikelola. Namun begitu masuk ke dalam, kalian akan merasakan aura berbeda. Rasanya seperti berkunjung ke Negeri Sakura.
Seorang wanita berjalan mendekati Alicia, wajahnya terlihat cantik dengan rambut berwarna merah muda menawan. Wanita itu mempersilahkan Alicia untuk duduk di sebuah kursi yang telah disediakan.
"Ingin rambut model apa?" tanya wanita itu, dia adalah salah satu pegawai salon tersebut.
"Aku ingin terlihat elegan," sahut nya menurunkan nada bicara.
"Tolong dandani pria itu juga, lepaskan kacamata dari wajah tampannya," Alicia berbisik pada wanita di sebelahnya.
"Baiklah."
Kemudian si wanita berambut merah muda menyuruh pegawai lain untuk melayani Robin. Sontak pria itu terkejut ketika seorang wanita tiba-tiba menarik lengannya dan menyuruhnya duduk di kursi yang bersebelahan dengan Alicia.
"Kenapa aku?" tanya Robin dengan panik.
__ADS_1
"Aku yang akan membayar," timpal Alicia seraya mengedipkan sebelah bola matanya.
"Ah, baiklah."
Tiga jam telah berlalu, jalanan di kota itu semakin padat dengan banyaknya kendaraan umum yang melintas.
Kini Alicia selesai dengan urusan rambut. Ia menatap ke arah cermin, lalu tersenyum menyeringai. Begitu juga dengan Robin yang selesai lebih awal darinya.
Wajah tampan pria itu semakin terlihat usai melepas benda yang menempel dari wajahnya. Rambut yang di buat model poni sukses menyita perhatian para pengunjung salon.
Mereka melihat sosok pria berwajah tampan dengan kedua bola mata berwarna coklat berkilau, sama dengan warna rambutnya.
"Benar kan, kau jauh lebih tampan dari sebelumnya," ujar Alicia.
"Hmmm, mungkin."
Ketika hendak membayar uang tagihan salon, Alicia tak sengaja melihat Hanny tengah memasuki pintu masuk salon tersebut. Tidak ingin hilang kesempatan, ia pun langsung menyuruh Robin untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
Alicia berpapasan tepat dengan Hanny, wanita dengan poni rambut yang cukup panjang hingga menutupi kedua bola matanya.
"Pasti dia akan berdandan untuk acara nanti malam, kan?" gumam Alicia.
Hanny duduk di sebuah kursi yang sebelumnya di duduki oleh Alicia. Ia terlihat meminta pegawai salon itu untuk memotong poninya.
"Nona, apa ada yang lihat liptint saya?" tanya Alicia, menatap beberapa pegawai salon itu.
"Sepertinya tidak ada liptint di sini," sahut salah seorang dari mereka.
"Waw, poni mu sangat indah. Biarkan begini saja, jika dipotong mungkin akan terlihat sedikit jelek," ungkap nya menatap Hanny, poni miliknya itu hampir saja di potong oleh pegawai salon.
"A– apa? Benarkah?" tanya Hanny sedikit ragu.
"Benar, anda sangat cantik!"
"Baiklah kalau begitu. Maaf, aku tidak jadi potong poni," ujar Hanny pada pegawai salon itu.
"Jika kau bukan langganan, mungkin aku sudah marah," cibir nya, namun Hanny hanya merespon dengan tersenyum tipis.
Dua wanita itu melangkah ke luar bangunan salon secara bersamaan. Jika dilihat dari perangainya, Hanny seperti ingin akrab dengan Alicia.
"Apa kau ada waktu? Aku ingin mengobrol sebentar denganmu," ucap Hanny, wajahnya terlihat bersemangat.
"Memang keberuntungan."
"Boleh, ingin mengobrol di cafe itu?" saran Alicia seraya menunjuk sebuah cafe yang tak jauh di seberang jalan.
__ADS_1
"Oke."
Sementara dengan Robin, dirinya merasa heran melihat Alicia pergi bersama seorang wanita. Padahal, Robin sudah kepanasan menunggunya di dalam mobil, tapi Alicia malah pergi entah kemana.
Setibanya di sebuah cafe, Alicia langsung memesan dua buah minuman dingin. Benar, dia yang akan membayarkan Hanny sebagai salam pertemuan pertama mereka.
"Ngomong-ngomong … apa aku benar-benar cantik dengan poni ini?" tanya Hanny tiba-tiba, kontan mengejutkan wanita di depannya.
"I– iya, sangat cantik. Oh ya, apa aku boleh bertanya?" Alicia tersenyum, lalu dibalas anggukan olehnya.
"Kau datang bersama siapa?"
"Aku datang sendirian. Biasanya pacarku yang mengantar, tapi sepertinya dia sibuk untuk acara nanti malam."
"Oh, begitu?"
"He'em."
"Hei, apa kau tau … aku sangat sedih karena kemarin malam aku putus dengan pacarku," tutur Alicia pelan. Seketika wajah Hanny berubah seratus delapan puluh derajat.
"Ke–kenapa?" tanya nya khawatir.
"Aku memiliki seorang sahabat, tapi ternyata dia menusuk dari belakang. Aku tidak percaya begitu tau pacarku selingkuh dengan sahabatku sendiri."
Hanny terdiam, bibirnya pucat tak dapat berkata apa-apa.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Alicia reflek meraih dagu Hanny.
"Ti– tidak apa. Aku ingin ke toilet sebentar."
Wanita itu langsung berlari menuju toilet di cafe itu. Langkahnya yang begitu cepat membuat Alicia hanya memandang heran.
"Oh ya, Robin."
Alicia meraih ponselnya dari dalam saku rok, mencoba untuk menghubungi pria berkacamata itu.
"Halo, Robin?" sapa Alicia setelah Robin mengangkat panggilan darinya.
"Hai, kau mau meninggalkan ku?"
Alicia terkejut, melihat wajah Robin tepat berada di sebelahnya.
Bersambung ...
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ
__ADS_1