Balas Dendam Setelah Dikhianati

Balas Dendam Setelah Dikhianati
7. Distrik Markaus


__ADS_3

Happy Reading🐭


Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨


〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎


Ramai orang-orang memenuhi seisi ruangan toko, setelah Mira berteriak kehilangan dompet miliknya. Begitupun dengan Alicia, dirinya ikut berjalan mendekati keramaian tersebut.


"Ada apa ini?" tanya Alicia menerobos masuk ke dalam keramaian.


"Ah, aku kehilangan dompet. Sungguh sial sekali," sahut Mira dengan panik, keringat dinginnya terus mengalir membasahi wajahnya yang masih tampak muda.


"Bagaimana jika aku saja yang membayarkan nya? Jadi Bibi tidak perlu khawatir. Kalau mau, Bibi bisa ambil semua yang Bibi inginkan," ucap Alicia lembut.


"Be– benarkah? Apa ini tidak masalah?"


"Tentu saja."


Satu persatu orang yang sebelumnya berkerumun mulai pergi, mereka melanjutkan untuk membeli belanjaan yang diperlukan.


Usai membayar beberapa tas yang dibeli, Alicia, Mira serta Robin pun keluar dari toko tersebut.


"Terima kasih banyak, kau sangat baik. Sepertinya wajah cantikmu itu tidak sia-sia," ungkap Mira sembari membelai rambut panjang wanita di depannya.


"Ini bukan apa-apa. Jika Bibi membutuhkan ku, bisa hubungi saja nomor ini."


Alicia memberikan sebuah kertas berisi nomor telepon miliknya pada Mira.


"Lain kali Bibi akan menghubungi mu. Kalau begitu, Bibi harus pulang dulu. Kau juga, jangan pulang terlalu malam."


"Ah, iya."


"Apa itu suamimu?" tanya Mira, menunjuk seorang pria yang tengah berdiri di sebelah Alicia.


"Ro– Robin? Dia hanya– "


"Asisten pribadi Nona Alicia," timpal Robin seraya tersenyum lebar.


"Maaf, aku salah menebak."


Wanita itu kemudian berjalan pergi meninggalkan Alicia bersama Robin. Seketika Alicia menunjukkan wajah yang begitu puas, setelah berhasil membuat mantan mertuanya panik kelabakan.


"Apa kau senang?" tanya Robin, ia mendekatkan wajahnya pada Alicia.

__ADS_1


"Ya! Tentu saja."


Setelah tak ada lagi yang akan dilakukan, keduanya pun memutuskan untuk kembali ke apartemen tempat tinggal mereka sekarang. Apalagi malam yang telah menunjukkan pukul 23.11, tentu tidak baik untuk Alicia.


Di dalam mobil, terlihat wajah Alicia yang terus menyeringai, sampai-sampai membuat pria di sebelahnya erinding habis.


"Kau melakukan apa saja hari ini di perusahaan?" tanya Robin, sukses membuyarkan senyum mengerikan wanita itu.


"Ah, ini … aku sempat dipanggil ke ruangan Zean. Dan setelah itu aku hanya bisa mengerjakan tugas. Aku akan membalas dendam pada Zean perlahan saja, agar dia tidak curiga."


"Zean? Dia memanggilmu untuk apa?"


"Untuk …."


~Flashback on~


Saat Alicia berhadapan langsung dengan Zean, tangannya itu terus ber gemetar. Rasa dendamnya seketika hilang jika mengingat masa-masa romantis ketika mereka menjadi pengantin baru.


Wajahnya yang tampan bersurai hitam legam itu membuatnya terpana. Jarang sekali pria di kotanya memiliki wajah tampan, dengan harta kekayaan yang begitu melimpah.


Namun sayang, kekuasan yang ia miliki hanya digunakan untuk kepuasan nafsunya saja, hingga membuat Alicia menjadi jijik jika melihat sosoknya yang sekarang.


"Alicia, kan?" Zean mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Alicia, kontan membuatnya terkejut.


"Iya, apa ada yang ingin Tuan bicarakan dengan saya?" tanya Alicia, menunjukkan wajah elegan pada pria itu adalah prioritas utama mulai sekarang.


"Oh, hanya ini?"


"Ya, mungkin."


Alicia memasang kartu nama itu pada kemejanya. Terlihat seperti pegawai lain yang mengenakan kartu itu tepat di bagian dada.


"Ah, Tuan … pulpen hitam anda terjatuh," ucap Alicia, tangannya menunjuk ke arah pulpen yang tergeletak jatuh di lantai.


Zean menatap ke bawah, dan mendapati sebuah pulpen miliknya yang terjatuh, seperti yang dikatakan oleh wanita itu barusan.


~Flashback off~


"Hanya itu saja?" tanya Robin sedikit kecewa, ia kira Alicia telah melakukan sesuatu di hari pertamanya bekerja.


"No no no … kau masih belum tau satu hal lagi."


Alicia menunjukkan sebuah alat yang terlihat mirip seperti sebuah pulpen. Namun tampaknya, alat itu memang benar mirip dengan pulpen.

__ADS_1


"Apa itu?" Robin menyipitkan kedua bola matanya, melihat dengan seksama alat yang tengah digenggam oleh Alicia.


"Nanti juga kau tau."


"Ah, ayolah … aku ingin tau! Apa kau akan membiarkan aku mati penasaran?" rengek nya, membuat Alicia menjadi geli dengan tingkah aneh pria itu sekarang.


Sebuah ruangan terdengar bising dengan keributan orang-orang. Terlihat Zean yang tengah memegangi keningnya, menunduk ke bawah dengan tubuh yang bersandar di kursi.


Di depannya terdapat beberapa orang berdiri, semuanya menunduk tak berani menatap sang pemilik perusahaan.


Setelah dimarahi habis-habisan, tak ada lagi diantara mereka yang berani berkata-kata. Apalagi sudah diancam akan di keluarkan dari perusahaan karena masalah yang sudah terjadi akibat kelalaian mereka.


Diantara delapan orang di sana, hanya ada satu orang wanita. Wanita itu memiliki rambut pirang, yang sebelumnya sempat mengajak Alicia pergi makan siang bersama.


"Tapi, seharusnya tidak ada orang lain yang tau kalau tanah di Distrik Markaus dijual," tutur Cellyn, si wanita berambut pirang.


"Apa maksudmu? Sudah jelas jika ada yang membelinya, pasti sudah ada yang tau selain kita!" lontar Zean menaikkan nada bicara nya.


Di tengah-tengah keributan itu, seseorang tiba-tiba membuka pintu ruangan. Kontan membuat semua orang di dalamnya menoleh ke arah pintu secara bersamaan.


"Hanny? Kenapa kau kemari? Ini kan sudah larut."


Zean berjalan mendekati sosok wanita yang baru saja masuk. Tidak biasanya wanita itu berkunjung ke perusahaan.


"Apa kau lupa dengan janjimu? Aku bahkan sudah menantinya sejak sore tadi," tutur Hanny, wajahnya terlihat murung dan nampak kesal.


Seketika Zean terdiam, setelah ingat bahwa dirinya memang sudah berjanji akan mengajak Hanny jalan-jalan sore mengelilingi kota.


"Maaf sayang, aku benar-benar lupa. Kalau begitu, bagaimana jika kita pergi ke hotel saja?" Zean melirih kan suaranya pada kata 'hotel'.


Kini senyum manis pun terukir pada wajah sang kekasih. Wanita itu keluar dari dalam ruangan Zean dengan bersemangat, berharap akan menjadi malam menyenangkan setelah janjinya teringkari.


"Kita adakan rapat untuk besok membahas masalah ini," ujar Zean menatap sinis pada para pegawainya.


Usai kepergian si pemilik perusahaan bersama kekasihnya, Cellyn pun menghembuskan nafas lega. Akhirnya ia bisa selamat di situasi yang begitu mencekam tadi.


"Siapa saja yang akan diajak rapat? Apa hanya kita?" tanya nya pada Darren.


"Aku belum tau. Mungkin nanti tuan Zean akan memberitahu padaku siapa saja yang akan diajak rapat untuk besok pagi."


Satu persatu dari mereka ikut keluar. Tentu saja karena ingin segera pulang ke rumah dan beristirahat, setelah seharian penuh bekerja di perusahaan.


Bersambung ...

__ADS_1


Mohon dukungannya untuk karya ini~


(๑`✪̤◡✪̤)◞ᲦԵՀⱭՂƘՏᲦ


__ADS_2