Balas Dendam Setelah Dikhianati

Balas Dendam Setelah Dikhianati
30. Kesalahan Alicia


__ADS_3

Happy Reading🐭


Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨


〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎


Ramai orang-orang terlihat berjalan keluar masuk dari rumah sakit. Tampaknya mereka sibuk untuk membeli makanan di luar sana yang berdiri di seberang jalan. 


Namun berbeda dengan suasana di dalam bangunan yang justru damai, banyak di antara mereka sengaja berbicara menggunakan suara pelan agar tidak menganggu para pasien. 


Alicia keluar dari ruangan Zean sebelum membicarakan hal yang penting. Itu karena ponsel miliknya tiba-tiba berbunyi, membuat Zean merasa tidak tenang dan sulit untuk beristirahat. 


Sesaat berjalan menjauh dari area ruangan tersebut, Alicia lantas mengangkat panggilan yang ternyata berasal dari Robin. 


"Ada apa?" tanya Alicia pelan, kepalanya sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan kalau Mira dan Hanny masih duduk di ruang tunggu. 


"Kau dimana? Aku sudah di depan FWaD Company, tapi kau tidak terlihat," balasnya sekaligus bertanya. 


Tentu saja aneh jika seseorang yang sudah lama ditunggu tidak kunjung datang juga. 


"Maaf, aku lupa memberitahu padamu. Sebenarnya aku sekarang ada di rumah sakit," tutur Alicia. Seketika hatinya merasa tidak enak dengan pria di balik telepon tersebut. 


"Lagi-lagi? Baiklah."


Robin langsung mengakhiri panggilannya secara sepihak. Kata-kata yang diucapkan nya tadi membuat Alicia semakin merasa bersalah. 


Tidak ingin mengecawakan orang yang selalu membantunya, wanita itu pun memutuskan untuk langsung pergi dari rumah sakit. Dia akan menemui Robin setelah tiba di apartemen tempat tinggal mereka. 


"Bu Mira, Hanny … maaf aku harus pergi sekarang. Aku akan kembali menjenguk Zean lain waktu," ucapnya pada dua orang wanita yang tengah duduk fokus menatap layar ponsel masing-masing. 


"Kenapa cepat sekali? Sayang, padahal aku berniat mengajakmu dinner bersama," balas Mira menunjukkan raut wajah sedih. 


Sedangkan Hanny malah berekspresi senang lalu berkata, "Baguslah akhirnya kau akan pergi juga."


"Hanny, jangan bicara seperti itu!" lontar Mira. Dia tampak kesal memandang wanita di sebelahnya. 


"Biar saja. Lagipula apa untungnya Alicia ada di sini?"


"Bagaimanapun juga dia adalah karyawan Zean. Bisakah sopan sedikit?"


"Maaf, aku harus pergi. Sampai bertemu lain waktu," sosor Alicia. 


Langkahnya berjalan cepat meninggalkan dua wanita di sana, ia merasa pusing mendengar percakapan yang tidak berguna sama sekali. 

__ADS_1


Saat berada di halaman rumah sakit, Alicia tidak perlu menunggu lama untuk menaiki taxi lantaran mobil umum itu sudah tiba hanya dengan dipesan lewat sebuah aplikasi saja. 


Dia masuk ke dalam mobil tersebut lalu meminta si pengemudi untuk mengantarnya menuju toko serba ada yang terletak di pusat kota. 


Tidak menggunakan waktu lama, Alicia bersama mobil yang ditumpanginya pun tiba di tempat tujuan. Sebuah bangunan besar kini terlihat jelas di depan mata. Di dalam bangunan itu tampak barang-barang lengkap yang dipajang di kaca bangunan. 


Alicia masuk secara perlahan. Kedua bola matanya reflek memandang ke segala arah mencari sesuatu. Yah sebenarnya Author juga tidak tau apa yang akan dilakukan Alicia di tempat yang selama ini belum pernah ia kunjungi. 


***


Sementara itu, Mira yang masih berada di dalam bangunan rumah sakit terlihat kesal dengan sikap Hanny. Padahal selama ini wanita selaku calon menantunya tidak pernah sekalipun mengecewakan ataupun menjengkelkan. 


Berbeda jauh sejak beberapa hari lalu ketika Hanny mulai bersikap aneh. Itu terjadi karena kehadiran Alicia dalam hubungannya bersama Zean, yang gosipnya akan segera melaksanakan acara pernikahan di sebuah hotel terbesar di kota mereka. 


"Kau sangat tidak berguna! Jika bisa, masakkan makanan untukku, agar calon Ibu mertuamu ini bisa makan buatan menantu nya!" lontar Mira kesal. Keduanya saling berhadapan dan berdiri. 


Suara keributan yang berasal dari sepasang wanita di tempat itu sukses menyita perhatian banyak orang disekitar. Bukannya mengecilkan suara, mereka justru malah semakin ribut. 


"Bukannya selama ini Ibu sendiri yang setuju jika aku menikah dengan Zean meskipun aku tidak bisa memasak?" ungkap Hanny dengan suara keras. 


"Tapi setidaknya kau belajarlah memasak. Apa kau tau? Alicia jauh lebih baik daripada dirimu."


Mendengar kata-kata yang begitu melekat di hati, Hanny lantas berlari meninggalkan tempat itu. Cairan bening mulai keluar dari kedua bola matanya hingga mampu membasahi pipi wajah. 


***


Beberapa waktu berselang, terlihat sebuah mobil taxi berhenti tepat di halaman apartemen G.O.U Big. Seorang wanita berambut panjang keluar dari dalam mobil tersebut, lalu berjalan memasuki gedung apartemen. 


Wanita itu adalah Alicia. Tangannya penuh membawa beberapa barang yang sempat dibeli dari toko serba ada tadi. 


Kini langkahnya semakin mendekati lantai rumah Robin. Sampai akhirnya tiba di depan pintu rumah apartemen tersebut. 


Alicia perlahan mengetuk pintu, menimbulkan suara yang tak asing lagi bagi sebagian orang. Setelah beberapa saat, Alicia masih juga belum mendapat jawaban dari seseorang yang tak lain adalah Robin. 


Dia pun memasuki rumah itu dengan asal. Hingga Alicia melihat sebuah ruangan kosong tak berpenghuni. 


Merasa kalau Robin mungkin berada di perusahaan tempat bekerjanya, wanita itu lantas kembali menuju halaman apartemen untuk menunggu mobil taxi. 


***


"Selamat malam Nona, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita yang tengah berjaga dilantai dasar. 


Wanita itu bertugas sebagai pengantar surat suara maupun penyampai pesan pada para karyawan perusahaan. Tak terkecuali juga pada si bos besar. 

__ADS_1


"Aku ingin bertemu Robin. Apa dia ada disini?" tanya Alicia kontan mengejutkan wanita di hadapannya itu. 


"Ro– Robin siapa?" Bukannya menjawab, ia justru malah bertanya. 


"Robin. Bukankah dia bekerja di sini?" ucap Alicia memastikan. 


"Di sini tidak ada karyawan yang bernama Robin. Adanya Tuan Robin Carlen."


Alicia terdiam sejenak, dia masih belum mengerti maksud dari wanita itu. 


"Nona? Sebenarnya Nona sedang mencari siapa?" tanya nya lagi. 


"E– ee … iya Tuan Robin," balas Alicia. 


Wanita itu pun mengangguk, lalu meraih telepon perusahaan yang tergeletak di atas meja. Dia menghubungi seseorang sesuai keinginan Alicia. 


"Halo, ada apa?" tanya seorang pria usai mengangkat panggilan tersebut. 


"Ada yang ingin bertemu dengan anda, Tuan."


"Aku sedang sibuk. Bilang padanya jangan bertemu sekarang."


"Baiklah."


Panggilan diakhir olehnya. 


"Bagaimana?" tanya Alicia tidak sabar. 


"Tuan Robin bilang, beliau sedang sibuk dan tidak bisa bertemu sekarang."


Seketika Alicia menjadi geram. Bukannya langsung bertemu justru malah memperlambat waktu. 


"Katakan saja padaku dimana ruangan dia."


"Ta– tapi Nona."


"Tidak apa, lagipula Robin bukanlah orang penting kan? Untuk apa menuruti omongannya," celetuk Alicia. 


Wanita itu hanya bisa terdiam dengan ekspresi wajah heran. 


Bersambung ... 


Mohon dukungannya untuk karya ini~ (๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ

__ADS_1


__ADS_2