
Happy Reading🐭
Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨
〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Alicia berlari menuju lantai dasar untuk menemui seseorang. Langkah kakinya yang cepat membuat beberapa orang di dalam sana menjadi kagum dengan kemampuan cara berlari nya.
Hingga wanita itu pun berhadapan langsung dengan seorang pria, yang tak lain adalah Robin. Wajahnya memasang raut kesal dengan kedua telapak tangan yang di kepal erat.
Flashback on~
"Dan satu lagi, ada seseorang yang menunggumu di luar sana. Sepertinya itu pria yang biasa mengantar mu," tutur Darren seraya menunjuk ke arah luar perusahaan.
Kontan Alicia terkejut, dirinya benar-benar lupa dengan sosok Robin yang sama sekali belum ia temui sejak kemarin malam. Begitu membuka layar ponsel, ternyata pria itu juga sudah mencoba untuk menghubungi nomornya selama beberapa kali.
"Terima kasih sudah memberitahu," balas nya.
Flashback off~
Alicia berjalan mendekati Robin, langsung menarik lengan pria itu dan membawanya ke sebelah bangunan perusahaan. Matanya melirik ke setiap arah memastikan tidak ada siapapun yang melihat mereka.
"Kau mencari ku, kan?" tanya Alicia khawatir, langsung dibalas anggukan oleh Robin.
"Aku khawatir sejak kemarin, apa kau justru hanya bersantai saja?"
Alicia terdiam tak berkutik. Kepalanya menunduk ke bawah dengan perasaan bersalah pada pria di hadapannya saat ini. Karena terlalu fokus dengan rencana, membuat Alicia menjadi lupa dengan sosok orang yang membantu segala hal selama ini.
"Maafkan aku, aku benar-benar lupa. Lalu tadi malam … aku mabuk. Dan saat bangun aku sudah berada di kediaman Adalrich."
"Kediaman Adalrich? Kau yakin tubuhmu masih selamat?"
Seketika sebuah tamparan mendarat di pipi pria itu dengan keras hingga menciptakan bekas merah yang tampak perih.
"Aku tidak mengira kau akan bicara seperti itu," ucap Alicia seraya berjalan pergi meninggalkan Robin.
Alicia kembali masuk ke dalam gedung perusahaan, kedua bola matanya tampak mengeluarkan cairan bening yang tak kunjung reda.
"Tega sekali dia bicara seperti itu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Waktu telah menunjukkan pukul 12.33. Langit yang biasanya terlihat cerah membuktikan bahwa tidak lama lagi akan turun hujan. Siang itu suasana langit terlihat mendung dengan awan berwarna abu gelap membendung air hujan.
Angin terus berhembus mendinginkan atmosfer ruangan, menciptakan hawa dingin yang mampu menusuk hingga ke dalam tubuh.
Alicia membuka layar ponsel begitu mendengar nada dering pada ponselnya, menunjukkan bahwa ada seseorang yang menghubungi. Wanita itu lantas menolak panggilan saat tahu bahwa Robin yang berusaha menghubunginya.
Di sisi lain, Robin merasa cemas dengan keberadaan Alicia. Dirinya yang tak sengaja melontarkan kata-kata tidak masuk akal telah menusuk hati wanita itu.
"Huh … bagaimana cara aku memberitahu padanya?" gumam Robin.
Sementara Felipe yang tengah duduk berseberangan dengannya merasa heran dengan ekspresi wajah Robin. Raut wajah itu sudah lama tidak pernah terlihat sejak terakhir kali sang ibu tiada.
"Apa kau baik?" tanya Felipe, tangannya di ayunkan tepat di depan wajah pria itu.
"Tidak. Aku benar-benar tidak tau bagaimana cara memberitahu Alicia soal data identitas yang kemarin dia berikan padaku. Dia meminta agar aku mencari tau soal kasus pembunuhan yang menimpa keluarga nya dua tahun lalu," tutur Robin pelan.
Kontan pria berwajah monoton itu terkejut hebat, mendengar pernyataan bahwa keluarga Alicia meninggal karena kasus pembunuhan.
"Memangnya kau sudah mendapat informasi mengenai kasus tersebut?" tanya Felipe sedikit ragu, tapi tampaknya Robin mengangguk dengan pasti.
"Baiklah, mungkin aku bisa membantu Tuan ku ini … " ujar nya cengengesan.
...----------------...
Melihat seorang wanita tengah membawa nampan berisi minuman, Alicia pun merebut nampak tersebut dari tangannya.
"Eh? Apa yang Nona lakukan?" tanya wanita itu dengan tatapan mata heran.
"Maaf, biar aku saja? Kebetulan aku akan ke ruangan tuan Zean," jawab Alicia berbohong.
Namun wanita itu seketika mengangguk, langsung percaya dengan kebohongan Alicia bahwa dirinya memang akan ke ruangan Zean.
Tok … tok … tok …
Alicia perlahan mengetuk pintu ruangan, ia masuk begitu pintu dibuka oleh Darren yang juga sedang berada di dalam sana.
Melihat kalau Alicia membawa nampan berisi minuman tentu membuat dua pria itu keheranan.
"Kebetulan aku lewat sini, jadi wanita pengantar minuman memintaku untuk langsung mengantarnya ke ruangan Tuan," ujar Alicia seraya meletakkan nampan tersebut ke atas meja.
"Baiklah."
__ADS_1
"Tuan, aku permisi."
Darren keluar dari ruangan, namun dirinya tak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang bisa mengetahui apa saja.
Wanita itu masuk tepat saat Darren keluar. Benar, dia adalah Cellyn si karyawan perusahaan. Matanya terbuka lebar melihat dua orang tengah beradu mesra di dalam ruangan.
Posisi Zean saat itu tengah membelai rambut Alicia, dengan posisi Alicia yang duduk di atas meja miliknya.
"Maaf, apakah saya menganggu?" kata Cellyn, langkah kakinya terlihat menjauh dari pintu masuk.
"Ti– tidak, kau boleh masuk," lontar Alicia.
Wanita itu berjalan keluar dari ruangan Zean, lalu bergantian dengan Cellyn yang masuk ke dalam ruangan untuk menyerahkan beberapa laporan perusahaan.
Di sana Alicia masih belum pergi, matanya menatap ke dalam ruangan seraya tersenyum menyeringai. Barulah Alicia pergi setelah berekspresi tadi.
......................
Malam telah ralut, membuat Alicia beranjak keluar dari gedung perusahaan. Namun seseorang yang tak ingin ditemuinya saat itu tiba-tiba muncul di hadapan nya.
Pria ber jas hitam yang menempel pada tubuh kekar nya, serta mobil hitam mewah yang terparkir di belakang pria itu sukses menyita perhatian banyak orang.
Langkahnya semakin mendekat dimana Alicia tengah berdiri tegak. Robin, dia adalah Robin. Pria yang biasa mengenakan sebuah kacamata tiba-tiba melepas kacamatanya.
Wajah tampan yang selama ini disembunyikan langsung terlihat banyak orang.
"Aku ingin melaporkan soal kasus kematian keluarga mu. Apa kau masih mau menghindar?" tanya Robin, tangannya perlahan meraih pergelangan tangan Alicia.
"Besok saja, malam ini aku benar-benar lelah," balasnya cuek.
"Kau yakin?"
Alicia menghembus nafas pasrah. Rasa kesal sejak tadi pagi masih mengganjal dalam lubuk hatinya, namun begitu mendengar kalau Robin sudah mendapatkan informasi mengenai kasus kematian keluarganya dua tahun lalu, membuat Alicia tidak bisa lagi marah.
"Baiklah, aku ikut dengan mu."
Robin tersenyum. Kini mobil yang ia bawa langsung melaju menggunakan kecepetan sedang. Tak ada satupun dari mereka yang saling mengobrol selama perjalanan menuju suatu tempat.
Di tengah perjalanan, Alicia tak sengaja melihat sosok Hanny tampak berdiri bersama sekumpulan pria berpakaian bak gangster, tak jauh berbeda seperti dulu ketika dirinya dibunuh oleh mereka.
Namun kali ini sedikit berbeda. Bukan para pria itu yang memukuli Hanny, tapi justru Hanny yang tampak memarahi mereka.
__ADS_1
Bersambung ...
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ