Balas Dendam Setelah Dikhianati

Balas Dendam Setelah Dikhianati
20. Jebakan


__ADS_3

Happy Reading🐭


Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨


〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎


Tidak menggunakan waktu lama, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Tempat yang cukup tersembunyi karena terletak di tengah-tengah antara dua gedung bangunan besar.


Alicia turun setelah Robin membukakan pintu mobil untuknya. Tak jauh dari tempat parkir mobil, terlihat dua orang pria berpakaian serba hitam duduk di sebuah kursi, keduanya tampak menatap kedatangan Alicia bersama Robin.


"Selamat malam Tuan," sapa kedua pria dari kejauhan, tangannya melambai ke atas menandakan bahwa mereka telah tiba.


Dengan langkah cepat, Robin berjalan mendekati dua pria itu. Salah seorang dari mereka memberikan tas berwarna hitam pada Robin yang berisikan sebuah informasi mengenai kasus kematian orang tua Alicia dua tahun lalu.


Sebagai bayaran, Robin lantas memberi kedua pria tersebut dengan sekoper uang penuh. Lalu kembali berjalan mendekati mobil.


Bersamaan dengan perginya dua pria itu, Robin dan Alicia juga pergi membawa mobil mereka. Tempat tujuan selanjutnya adalah apartemen G.O.U Big.


*****


Di sebuah ruangan tampak dua orang pria tengah menatap layar komputer masing-masing. Tangan mereka begerak cepat mengetik huruf pada keyboard komputer.


"Natasya Angel tidak ditemukan," ucap Darren serius, ia menunjukkan sebuah tulisan pada layar komputernya.


"Sudah kuduga, seseorang yang membeli tanah di Distrik Markaus telah menyamarkan nama pembelinya. Kita harus bertemu tuan Jade sekarang."


Zean mengangkat kaki dari ruangannya, berjalan menuju basement bersama sang asisten pribadi. Keduanya memasuki mobil berwarna merah usai tiba di basement.


Seorang pria selaku sopir pribadi Zean menginjak gas mobil, membuat mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.


*****


Selang beberapa waktu kemudian, Alicia bersama Robin akhirnya tiba di apartemen tempat tinggal mereka.


Alicia mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat pada pria itu. Merasa curiga, Robin langsung membuka amplop pemberian Alicia. Tak disangka ternyata Alicia memberinya uang senilai $100.


"Ini untuk apa??" tanya Robin, matanya di sipit kan saat menatap wanita itu.


"Imbalan karena kau sudah membantuku mencari informasi mengenai kasus kematian orang tuaku," jawab Alicia ketus.


Mungkin sekarang ini Alicia masih duduk berhadapan dengan Robin, namun hatinya masih saja terasa sakit akibat perkataan pria itu tadi pagi.

__ADS_1


Tidak mau menerima uang dengan jumlah besar, Robin pun mengembalikannya. Ia memberikan tas berwarna hitam yang sebelumnya diberikan oleh dua pria di tempat tadi pada Alicia.


Tas hitam tersebut berisi sebuah informasi penting mengenai hasil penyelidikan soal kasus pembunuhan.


"Kenapa dikembalikan?" tanya Alicia setelah Robin mengembalikan uang pemberiannya.


"Aku dengan senang hati bisa membantumu kapan saja. Soal tadi pagi … aku benar-benar minta maaf. Aku tidak berniat mengatakan hal itu padamu," ungkapnya seraya menunjukkan senyum tipis.


Mendengar permintaan maaf dari pria itu, lantas membuatnya terdiam cukup lama. Jika dilihat dari raut wajahnya, Robin memang bersungguh-sungguh dalam meminta maaf.


"Baiklah, aku memaafkan mu. Mungkin aku saja yang terlalu sensitif," sahut Alicia.


Robin lekas memeluk wanita di hadapannya dengan erat, seketika senyum lebar terpampang di wajah tampannya tanpa menggunakan sebuah kacamata.


"Terima kasih."


Setelah Alicia siap, ia pun mulai membaca lembaran demi lembaran kertas yang diambil dari dalam tas hitam tersebut.


Tangannya langsung ber gemetar hebat dengan jantung yang berdetak kencang, mengetahui fakta kematian kedua orang tuanya. Tak terasa cairan bening mulai membasahi wajah cantik itu, hingga membuat kedua bola matanya tampak memerah.


"A– ada apa?" tanya Robin khawatir, dia melihat kedua telapak tangan Alicia mengepal erat.


"Aku akan menghabisinya, setelah misi balas dendam ku selesai."


*****


Matahari terbit dari arah timur. Burung-burung bersenandung mengeluarkan suara merdu seraya mengelilingi tiap bangunan kota. Tampak kendaraan yang telah padat memenuhi jalanan, hingga menyebabkan udara kotor di pagi hari.


Namun berkat hujan yang turun cukup deras, mampu memadamkan sedikitnya asap kendaraan tersebut.


Alicia berjalan memasuki gedung perusahaan. Wanita itu menatap sekeliling tengah mencari keberadaan Zean si pemilik perusahaan.


Suasana pagi itu cukup sepi dari orang-orang yang berkeliaran di dalam gedung, mungkin beberapa dari mereka masih menunggu sampai hujan reda untuk berangkat ke perusahaan.


Melihat kalau pria itu hampir memasuki lift, Alicia lantas berlari seraya berteriak keras memanggil namanya. Tak seperti biasa, pagi itu Alicia terlihat membawa sebuah kotak berisi makanan di dalam tas miliknya.


"Eh? Pagi sekali," ucap Zean begitu melihat si karyawan hendak memasuki lift bersamanya.


"Iya, aku melihat langit yang sudah hampir menurunkan air hujan, makanya aku datang lebih pagi," balas Alicia tersenyum.


"Apa Tuan sudah sarapan?" tanya nya menunjukkan ekspresi wajah iba, seketika membuat jantung pria di sebelahnya berdegup kencang.

__ADS_1


"Ah … aku tidak biasa sarapan."


"Bagaimana jika makan bersama? Aku membawa bekal untuk sarapan." Alicia menunjukkan kotak makannya.


"Boleh juga."


Lift tiba di lantai ujung yang di dalamnya terdapat ruangan milik Zean. Mereka masuk ke dalam ruangan tersebut, lalu saling duduk berhadapan.


Alicia membuka tiap tutup kotak makan itu, dan terlihat lauk daging babi. Itu adalah makanan kesukaan Zean sejak dulu, tentu Alicia mengerti apa makanan kesukaannya.


"Kau yang masak?" tanya Zean, tangannya meraih daging babi dan langsung melahap.


"Iya." Alicia mengangguk.


Sesaat mengunyah daging babi buatan wanita itu, Zean merasa dirinya berada di sebuah peternakan babi. Bumbu yang dicampurkan dengan daging itu benar-benar terasa, sangat enak.


"Mau lagi?" tawar Alicia, langsung di lahap habis olehnya.


"Bagus, habiskan."


Lantaran terlalu cepat melahap, pria itu akhirnya tersedak. Alicia langsung mengeluarkan air minum yang ia bawa dan memberikannya pada Zean.


"Ah, terima kasih. Pagi ini aku bisa menyantap makanan enak setelah hampir beberapa minggu tidak pernah," ucapnya terkikik tawa.


Benar, Hanny adalah sosok wanita yang tidak bisa memasak bahkan sampai tidak pernah menghidangkan sedikitpun makanan untuk Zean. Berbeda jauh dengan Flor yang selalu rajin memasak, lebih tepatnya dia adalah juru masak yang handal.


"Darimana kau belajar cara memasak daging babi? Rasanya mirip seperti buatan seseorang … " tanya Zean lirih.


"Dari ibuku."


"Oh, begiti? Pasti ibumu lebih jago memasak."


Tak lama berselang, rasa kantuk tiba-tiba menghantui mata Zean. Rasanya kedua bola mata itu tidak bisa terbuka. Perlahan matanya mulai tertutup dan terlelap pergi ke alam mimpi.


"Wahh, dia sudah tidur?"


Alicia beranjak dari kursi, lalu membereskan kotak makan yang sempat berantakan di atas meja.


Alicia membuka kancing kemeja bagian atas. Tak hanya sampai di situ saja, dia juga membuka setengah rok yang tampak pendek dan bergegas duduk kembali di kursinya. Ia juga melakukan hal yang sama pada pria itu.


Kini hanya perlu menunggu seseorang untuk melihat kondisi tubuhnya yang hampir telanjang di dalam satu ruangan bersama sang pemilik perusahaan.

__ADS_1


Bersambung ...


Mohon dukungannya untuk karya ini~ (๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ


__ADS_2