Balas Dendam Setelah Dikhianati

Balas Dendam Setelah Dikhianati
23. Siapa Mereka?!!


__ADS_3

Happy Reading🐭


Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨


〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎


Di sebuah ruangan, tampak dua orang saling duduk berhadapan dengan menikmati secangkir coklat panas. Satu orang itu adalah Mira, dan yang satunya lagi adalah seorang pria berpakaian misterius.


Ketika Mira meminta sang pelayan untuk menghidangkan cemilan ringan, pria itu malah menolak dan hanya ingin urusan di antara mereka selesai dengan cepat.


"Baiklah, aku akan mulai langsung ke intinya saja. Tolong selidiki soal latar belakang Alicia, wanita ini," ucap Mira memberikan sebuah foto gambar ketika Alicia tengah berkunjung ke rumahnya beberapa waktu lalu.


"Oke, tunggu aku menyampaikan informasinya nanti sore."


Pria itu berjalan menuju pintu utama kediaman Adalrich, lalu menghilang dalam sesaat setelah masuk ke dalam mobil berwarna putih miliknya.


Sementara di tempat lain, Zean bersama Darren tengah berada di dalam mobil. Keduanya akan pergi menemui Jade untuk membahas persoalan tanah yang telah terjual dengan harga tawaran tinggi.


Tidak menggunakan waktu lama, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Zean mampu melihat sebuah pondasi besar yang dikata akan dibangun sebuah perusahaan. Di sana dirinya juga melihat beberapa orang yang sempat terekam video oleh Darren si asisten pribadinya beberapa waktu lalu.


Ketika hendak berjalan menuju kediaman Jade, mereka justru malah melihat sebuah gerbang yang tertutup rapat. Tidak ada penjaga yang biasanya menjaga gerbang kediaman tersebut.


Tidak hanya itu, gerbang itu juga tampak ter gembok dengan sebuah gembok kunci besar.


"Ada apa dengan tempat ini?" tanya Zean pada pria yang berdiri di sebelahnya.


"Eeee … sebentar, akan aku tanyakan pada orang-orang di sana," balas Darren. Ia kemudian menghampiri beberapa orang ber jas hitam yang berdiri di setiap sudut pondasi.


"Permisi, apa ada yang tau dimana pemilik tempat ini?" tanya Darren. Tangannya tampak ber gemetar hebat ketika berhadapan langsung dengan para monster itu.


"Kenapa bertanya pada kami? Apa tidak ada orang lain yang bisa kau tanyai?" sahut pria bersambut merah.


"Karena hanya ada kalian di sini."


"Jika kau tidak pergi, aku akan memukulmu!" timpal pria ber jas lainnya, kontan membuat Darren langsung pergi dan kembali berdiri di sebelah sang tuan.


"Apa mereka tau?" tanya Zean cemas.


"Ah, mereka mengusir ku, Tuan."


Karena gelap mata, Zean pun angkat kaki sendiri untuk mendekati para kaki tangan orang yang tak ia kenal.


"Hei, apa lagi maumu?!!" tanya pria berambut merah itu, jari telunjuknya tampak di todongkan pada Zean.

__ADS_1


"Akan aku bayar, dan katakan dimana tuan Jade berada."


Zean meraih sesuatu dari dalam saku jas yang dikenakan. Belum sempat mengeluarkan benda dari dalamnya, salah seorang dari mereka tiba-tiba mendekati Zean dan langsung memukul wajahnya dengan keras.


Kejadian itu sukses menyita perhatian orang di sekitar. Lantas Darren yang mengetahui bahwa sang tuan terluka pun menghampirinya.


Dia meraih pergelangan tangan Zean kemudian menyeretnya masuk ke dalam mobil. Yah, meskipun cukup sulit saat menyeret lantaran pria itu terlihat emosi.


"Jangan kembali lagi!!!"


Darren menancapkan gas mobil, seketika mobil mulai melaju dengan kecepatan tinggi hingga meninggalkan halaman tanah Distrik Markaus.


Selama di dalam mobil, terlihat wajah Zean yang tak kunjung reda. Raut emosinya benar-benar masih menghantui pria itu, hingga membuatnya nekat beberapa kali memukul pintu mobil dengan keras.


"Huh, aku harus sabar menghadapai tuanku ini," gumam Darren seraya mengela nafas panjang.


****


Alicia menatap angka jarum jam di tangannya. Waktu masih menunjukkan pukul 10.22 setempat. Ia berjalan menuruni tangga hingga tak sengaja bertemu seorang pria rekan kerjanya.


Dia adalah Heric, pria yang sempat melihat Alicia setengah telanjang bersama sang tuan dan di ruangan tuannya kemarin.


"Alicia, ada yang memanggilmu," tutur Heric memberitahu.


"Eh? Siapa?" tanya Alicia heran. Padahal dia sama sekali tidak mendengar seseorang memanggilnya barusan.


"Baik, terima kasih atas informasinya."


Alicia melanjutkan turun dari tangga hingga akhirnya tiba di lantai dasar. Matanya berkeliaran menatap sekeliling, namun yang didapat hanyalah dedaunan serta pasir-pasir yang berhamburan.


Masih ditempat yang sama, Alicia tiba-tiba mendapat panggilan anonymous lantas mengangkatnya. Dia mendengar suara berat seorang pria dari dalam telepon.


"Selamat pagi, bisa tolong Nona menemui saya di sebelah gedung perusahaan untuk menerima paket," ucap pria tersebut.


"Tapi aku tidak memesan apapun?" balas Alicia heran.


"Ini titipan dari seseorang."


"Ah, o– oke."


Obrolan langsung berakhir saat pria di dalam telepon mengakhiri panggilannya.


Tak lama berselang, sebuah mobil milik Darren tiba di halaman perusahaan. Pria itu sudah tentu membawa penumpang, yang tak lain adalah Zean sang mantan kekasih.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, Alicia pun langsung berlari menghampiri Zean yang baru saja keluar dari dalam mobil.


Penampilannya yang mewah dengan tatanan gaya rambut elegan sukses menyita perhatiannya. Pagi ini Zean seperti melihat sosok bidadari cantik.


"Ada apa?" tanya Zean, bola matanya hanya fokus menatap wanita di hadapannya.


"Tadi aku melihat orang di sebelah gedung melambaikan tangan kemari, apakah dia orang penting bagimu?" tanya Alicia seraya menunjuk ke arah sisi perusahaan.


"Ah, mungkin saja."


"Apa perlu aku temani?" tanya Alicia dengan senyum manis yang terukir di wajahnya.


"Tidak perlu. Aku bisa ke sana sendiri."


Zean angkat kaki dari tempat itu. Kini hanya tersisa dua orang yang saling terdiam memandang kepergian sang pemilik perusahaan.


"Ayo kita masuk, Nona," ajak Darren.


Alicia mengangguk dan keduanya masuk ke dalam gedung perusahaan.


Sementara itu, Zean yang baru saja berjalan beberapa langkah akhirnya tiba di sebelah bangunan gedung.


Dia melihat sekumpulan pria bak gangster tengah memandangnya heran, sama seperti Zean yang juga memandang mereka dengan tatapan mata heran.


Perlahan kakinya mundur ketika para pria itu mendekat ke arahnya. Wajah mereka menyeringai lebar, dengan sebuah benda tajam berada di genggaman mereka.


"Siapa kalian?!!" tanya Zean sambil berteriak, sebenarnya dia sedang mencari bantuan dengan cara tersembunyi.


"Siapa kami? Tentu anak buah seseorang."


Salah seorang pria gangster itu langsung menarik lengan Zean dan membuatnya terkapar di lantai. Tak ada siapapun yang melihat kejadian itu lantaran suasana di tempat begitu sepi.


"Mati kau!!!"


"Tunggu!!!"


Seorang wanita tiba-tiba berteriak dari belakang, reflek membuat orang-orang menoleh ke arahnya secara bersamaan. Zean melihat sosok wanita yang paling dekat dengannya, sampai tak bisa berkata-kata sesaat pria itu menusuk tubuh Zean menggunakan benda tajam.


"Kau, ke– kenapa kau??"


Kesadaran menghilang, kini Zean sudah memejamkan matanya. Wanita yang sempat berteriak itu langsung memukul pria gangster yang baru saja menusuk bagian tubuh Zean.


Cairan bening keluar dari dua bola matanya tanpa henti. Merasa masih ada kesempatan, ia lantas membuka layar ponsel untuk menghubungi pihak rumah sakit.

__ADS_1


Bersambung ...


Mohon dukungannya untuk karya ini~ (๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ


__ADS_2