
Happy Reading🐭
Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨
〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎
Suasana di sebuah ruangan terlihat ramai dengan orang-orang yang saling menatap layar komputer masing-masing. Beberapa dari mereka merasa khawatir dengan sosok si pemilik perusahaan yang belum kunjung datang dalam acara rapat perusahaan.
Darren membuka layar ponsel untuk menghubungi Zean, tuannya. Sudah beberapa kali dia berusaha namun hasilnya tetaplah nihil lantaran Zean masih tidak mengangkat panggil darinya.
Pria itu lantas berjalan menuju sebuah lift yang di dalamnya terlihat kosong. Sampai akhirnya Darren tiba di lantai ujung dimana terlihat sebuah ruangan milik sang tuan yang tertutup rapat oleh pintu.
Darren mengetuk pintu beberapa kali, tapi tak ada yang membukakan pintu untuknya. Sedikit nekat, ia pun membuka pintu ruangan tersebut.
Darren terkejut usai melihat dua orang dengan setengah badan telanjang di atas kursi. Merasa syok, dia reflek berteriak. Teriakannya sukses menyita perhatian beberapa orang di lantai yang sama.
"Ada apa Darren?" tanya salah seorang karyawan biasa, ia berjalan menghampiri pria itu yang tengah mematung di tengah pintu ruangan.
"Ja– jangan kemari!!" lontar nya, tapi sudah terlambat. Pria itu melihat dua lawan jenis di dalam sana sama seperti saat Darren melihatnya.
"Gila!! Sedang apa mereka?" kaget Heric, pria yang berada di sebelahnya.
"Aku akan mengurus ini. Kau pergi saja," ucap Darren seraya mendorong tubuh Heric sampai menjauh dari tempat tersebut.
Waktu menunjukkan pukul 10.12. Acara rapat yang sebelumnya digelar kini telah usai meskipun tanpa kehadiran sang pemilik perusahaan.
Di sebuah ruangan, terlihat dua orang pria bersama seorang wanita saling bertatapan. Mereka terdiam sampai salah seorang pria membuka mulutnya. Barulah saat itu mereka saling berbicara.
"Aku merasa pusing dan … entah kenapa … " tutur Zean masih belum mengerti apa yang telah terjadi antara dirinya bersama Alicia tadi pagi.
"Aku merasakan hal yang sama seperti Tuan Zean," timpal nya.
"Mungkin ada sesuatu yang sebelumnya terjadi?" tanya Darren serius.
"Aku tidak ingat apa-apa! Sudahlah, aku tidak ingin memperpanjang masalah ini dengan Alicia!"
Zean berjalan keluar dari dalam ruangan, langkahnya semakin cepat sampai tak terlihat sebatang hidung pun.
Kini hanya tersisa dua orang saja di dalam sana. Alicia menunduk dengan tangannya yang tampak ber gemetar hebat. Lantas Darren yang melihat hal itu menjadi prihatin dengan kejadian yang telah terjadi.
"Tenang Nona, aku akan berbicara baik-baik pada tuan Zean nanti," papar nya seraya mengusap lembut lengan wanita itu.
__ADS_1
"Terima kasih."
"Berkat kamera keamanan yang rusak, aku jadi bisa memanfaatkan keadaan ini. Hehehe … "
*****
Sore itu seluruh karyawan perusahaan di kumpulkan oleh Darren. Ia menanyai satu-persatu dari mereka menyangkut kejadian tadi pagi. Yah, meksipun Darren sendiri tidak memberitahu pada mereka soal kejadian yang telah menimpa Zean dengan pekerjanya.
"Apa tadi pagi ada yang mengirimkan minuman atau makanan pada tuan Zean?" tanya Darren menunjuk seluruh orang di depannya.
Matanya berkeliaran menatap orang-orang itu, bahkan tak ada satupun dari mereka yang terlewat dari pandangan Darren.
"Mmmm, tidak. Aku belum mengirim apapaun pada tuan Zean," sahut Lisia, wanita yang biasa mengantar minuman pada orang-orang yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan.
"Oke, apa tidak ada lagi?"
Semuanya menggeleng, memandangan pria itu dengan tatapan mata heran. Mereka sendiri tidak tau alasan mengapa Darren bertanya hal yang dirasa sepele.
Sementara itu, Zean tengah duduk di sebuah restoran besar di kota nya bersama dua orang wanita. Sudah jelas kalau wanita itu adalah Hanny dan Mira ibunya.
Mereka terlihat senang melahap makanan yang telah dihidangkan. Tentu saja bukan makanan kaleng kaleng, melainkan makanan untuk orang-orang berkelas tinggi saja.
Namun tampak wajah Zean yang tidak bersemangat seperti biasa, hal itu membuat Hanny merasa kalau sang kekasih telah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Baiklah, Ibu akan di sini," ucap Mira melihat anak bersama calon menantunya berjalan pergi menuju toilet.
Tiba di toilet, Hanny langsung mendorong tubuh Zean hingga terpojok. Ia mengangkat dagu pria di hadapannya menggunakan ujung jari tangan.
"Apa yang kau sembunyikan?" tanya Hanny polos, mencoba untuk merayu pria itu agar mau mengaku.
Yah, Hanny memang biasa melakukan hal itu jika ingin mengungkap sesuatu yang di sembunyikan oleh Zean.
"Lepaskan!"
Zean menangkis tangan Hanny, membuat wanita itu semakin heran dengan ekspresi pria di hadapannya. Padahal selama ini jika Hanny merayu, Zean pasti akan terjerumus dalam rayuannya.
"Jujurlah, kau selalu menyembunyikan masalah mu! Kau tidak mau aku bantu?" tanya Hanny ketus, wajahnya seketika berubah murung.
"Memang selama ini kau selalu membantuku? Sudah jelas kau selalu saja menyusahkan ku dalam posisi apapun! Berhentilah merayu!"
Zean pergi meninggalkan Hanny di dalam sana. Mungkin karena suasana hati yang sedang buruk membuatnya ikut merasa kesal.
__ADS_1
Kembali menuju meja dimana sebelumnya mereka makan, Hanny tak melihat sosok sang kekasih. Ia mencoba melirik ke setiap sudut restoran, namun tidak juga melihat sosoknya.
"Kau mencari siapa?" tanya Mira tiba-tiba, kontan mengejutkan Hanny yang tengah melamun.
"Zean? Dia dimana?"
"Dia pergi, katanya ingin menyelesaikan urusan perusahaan. Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Mira lagi, rasa penasaran itu masih mengganjal dalam benaknya.
"Yah, bisa dibilang seperti itu."
****
Waktu telah menunjukkan pukul 17.22. Suasana di halaman perusahaan sudah tampak sepi, berbeda jauh dengan suasana tadi pagi ketika para karyawan perusahaan terlihat bersemangat memulai awal hari mereka.
Alicia membuka layar ponsel, sesekali senyum lebar ia tunjukkan pada ponsel di genggamannya. Bagaimana tidak senang, melihat ekspresi wajah sang mantan suami tampak kebingungan.
"Alicia!" teriak seseorang dari balik tubuhnya, reflek membuat wanita berambut panjang itu langsung menoleh ke belakang.
"Darren? Ada apa?" tanya Alicia bingung.
"Tuan Zean ingin bertemu denganmu," tutur Darren, dia berjalan mendekati Alicia yang masih duduk di kursi kerjanya.
"Untuk masalah tadi pagi?" tanya Alicia lagi, langsung dibalas anggukan oleh Darren.
Langkah demi langkah menaiki tangga, dan kini Alicia tiba di sebuah ruangan yang hanya ada seorang pria di dalamnya.
Wanita itu berhadapan langsung dengan Zean. Mereka saling duduk berhadapan dengan Darren yang duduk di kursi paling ujung.
"Ada apa Tuan?" tanya Alicia pura-pura polos, padahal dalam hati ia sangat bersemangat bisa bertemu dengan sosok pria angkuh.
"Aku ingin …."
Zean menghentikan ucapannya, dia menoleh ke arah Darren yang tengah menatapnya dari jarak yang tidak terlalu dekat.
"Aku harus bagaimana?" tanya Zean lirih pada pria itu.
"Katakan saja."
"Tuan? Apa yang ingin anda katakan?" tanya Alicia.
Bersambung ...
__ADS_1
Mohon dukungannya untuk karya ini~ (๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ