Balas Dendam Setelah Dikhianati

Balas Dendam Setelah Dikhianati
22. Pertanggung Jawaban Zean


__ADS_3

Happy Reading🐭


Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨


〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎


Jalanan kota yang padat membuat beberapa orang sulit berkendara dengan kendaraan umum masing-masing. Tak jarang juga dari mereka yang menikmati hawa sejuk malam itu. Lampu yang menyala terang di sepanjang jalan mampu menampakkan pesonanya tersendiri.


Sebuah mobil berwarna merah berhenti tepat di depan apartemen tempat tinggal Alicia. Setelah cukup lama menanti rambu-rambu, ia bersama seorang pria akhirnya tiba di tempat tujuan.


Tentu saja pria itu adalah Zean, dia tampak membuka pintu mobil untuk Alicia bisa keluar. Keduanya berjalan menuju gedung apartemen dan masuk ke dalam lift yang telah ramai dengan orang-orang di dalamnya.


Tiba di lantai dua puluh tiga, ia bersama Zean saling melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan malam mereka. Di sana Alicia langsung berlari masuk ke dalam kamar, dan terlihat sosok Robin tengah memandangnya heran.


"Apa hari ini baik?" tanya Robin seraya melangkah menghampiri Alicia yang masih berdiri di balik pintu yang telah tertutup rapat.


"Aku sangat senang karena Zean mau bertanggung jawab," balas nya tersenyum bangga.


"Memang apa yang terjadi pada Zean?" tanya Robin lagi.


"Sebenarnya …."


Flashback on~


"Tuan, apa yang ingin anda katakan?"


"Aku hanya ingin bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padamu," tutur Zean tanpa memandang ke arahnya sedikitpun.


Kontan kedua bola mata Alicia terbelalak lebar, ia baru mengetahui sisi baik dari pria di hadapannya saat ini. Selama hidup bersama Zean, hal yang dirasakan olehnya adalah kesengsaraan akibat perlakuan sang suami serta ibu mertua.


"A– apa? Apa Tuan sedang bercanda?" tanya Alicia menunjukkan senyum tipis.


Ingin meyakinkan wanita itu, Zean lantas meraih kedua telapak tangannya dan mengelus lembut telapak tangan tersebut.


"Aku … hanya ingin menunjukkan rasa pertanggung jawaban saja. Tidak lebih," ungkapnya pelan.


Seketika cairan bening keluar dari kedua bola mata Alicia lantaran tak kuasa menahan rasa senang dalam hatinya.


"Aku tidak menyangka bisa bertemu pria seperti Tuan."


"Mulai sekarang, khusus untukmu tidak perlu memanggilku dengan sebutan Tuan lagi. Kau bisa memanggil namaku seperti Darren. Satu lagi, aku tidak ingin ada siapapun yang tau mengenai hal ini selain kita bertiga." Alicia mengangguk paham.

__ADS_1


Flashback off~


"Apakah dia serius dengan ucapannya?" tanya Robin masih merasa tidak percaya dengan sebuah kenyataan yang telah terjadi.


"Mungkin. Lagipula ini juga hanya sebuah permainan," sahut nya cengengesan.


"Eh? Tapi bagaimana jika kau tidak hamil? Apakah dia akan membuangmu seperti dulu?"


"Sepertinya aku harus merancang sebuah rencana berikutnya."


Selang beberapa waktu kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari seseorang. Robin lekas bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah pintu.


Pria itu membukakan pintu untuk seseorang di luar sana. Kini terlihat siapa orang yang tengah berdiri.


"Ini pesanan anda, silahkan tanda tangani penerimaan makanan terlebih dahulu," ucap pria itu, tangannya tampak membawa dua buah kotak berisi makanan.


"Ini."


Robin mengulurkan buku kecil yang telah ditanda tangani pada pria pengantar paket makanan di hadapannya.


Usai menerima makanan yang dipesan melalui online, Robin pun berlari menghampiri Alicia yang tengah duduk menonton televisi.


Alicia langsung meraih dua potong pizza yang mampu memenuhi tangan kecilnya. Ia memasukan ke dalam mulutnya dengan lahap, sampai-sampai menghabiskan dua potong pizza hanya dalam hitungan detik.


"Kau lapar, ya?" tebak Robin, lantas Alicia mengangguk sebagai respon. Ternyata tebakan Robin memang benar sesuai kenyataan.


*****


Angin berhembus hebat menerbangkan dedaunan hingga menusuk tubuh. Cahaya matahari tampak tertutup awan mendung di atas langit.


Alicia bangun dari tidurnya usai mendengar sebuah alarm yang berbunyi nyaring tepat di sebelah telinganya.


Wanita itu bergegas bangkit dari ranjang dan berjalan cepat menuju sebuah ruangan yang penuh dengan air. Apalagi kalau bukan kamar mandi?


Ia menuangkan sabun beraroma vanilla ke dalam bak mandinya, lalu menyalakan shower hingga mampu membasahi tubuh yang terasa lengket, bahkan sampai memenuhi isi bak mandi tersebut.


Cukup lama menghabiskan waktu di dalam sana, Alicia pun keluar dan membuka lemari pakaiannya untuk memilih pakaian yang akan dikenakan menuju perusahaan tempat ia bekerja.


Namun sepanjang hitungan menit, Alicia masih belum menemukan pakaian yang dirasa cocok untuk keluar saat suhu dingin. Benar, pagi itu suasana kota benar-benar dingin, jalanan sampai dipenuhi oleh tetesan air yang membeku.


"Alicia!!! Apakah masih lama?" teriak Robin dari balik pintu kamarnya. Nampaknya pria itu sudah menunggu Alicia hampir satu jam.

__ADS_1


"Belum, aku masih mencari pakaian!!" balas Alicia yang juga sama berteriak.


Beberapa saat berlalu, dan wanita itu akhirnya keluar dari dalam kamar. Pakaian yang dikenakan memiliki panjang minim. Lebih tepatnya mengenakan rok pendek dengan sebuah mantel yang menutupi setengah badannya.


"Apa kau yakin akan mengenakan pakaian seperti itu?" tanya Robin sedikit ragu.


"Mungkin." Alicia menaikkan kedua bahunya. Jika harus jujur, dia juga sebenarnya merasa ragu dengan pakaian yang tengah dikenakan.


"Biar aku bantu," ucap Robin langsung menarik lengan Alicia dan membawanya masuk ke dalam kamar wanita itu.


Di sana Alicia hanya duduk di atas ranjang sambil menatap sosok pria yang sibuk mengacak lemari pakaiannya.


Sampai pada akhirnya, Robin pun menarik sebuah pakaian dari dalam lemari yang mungkin cocok dikenakan saat musim dingin seperti pagi ini.


Dia memberikannya pada Alicia, dan tanpa sadar langsung membuka pakaian wanita itu dari belakang. Itu karena pakaiannya menggunakan resleting di bagian belakang.


"Maaf, aku izin membuka," tuturnya pelan.


Setelah beberapa saat, Alicia pun bisa mengenakan sebuah pakaian yang begitu tertutup.


Ia memakai rok panjang melebihi lutut serta atasan tebal yang cenderung mirip dengan sebuah mantel, namun jauh lebih nyaman jika dipakai.


"Cocok?"


"Mungkin."


Keduanya masuk ke dalam mobil secara bersamaan. Seperti biasa, mengenakan sabuk pengaman terlebih dahulu dan barulah mobil mulai melaju.


Di perjalanan menuju perusahaan, Alicia melihat tiap gedung besar di kota seperti kosong dari para penghuni. Bahkan jalanan yang biasanya padat dipenuhi kendaraan umum, tidak dengan pagi itu yang tampaknya sepi hampir tidak ada makhluk hidup menetap.


Tiba di perusahaan, Alicia terkejut sekaligus heran ketika melihat sosok Hanny tengah berbicara empat mata dengan Cellyn si karyawan perusahaan. Mereka saling bertemu di sebelah gedung, mungkin karena tidak ingin ada yang melihat.


Meskipun cukup penasaran untuk mengetahui apa yang tengah mereka bicarakan, namun Alicia bukanlah tipe orang yang akan nekat mengetahui sesuatu dengan mengorbankan identitasnya.


"Semoga harimu menyenangkan!" lontar Robin dari dalam mobil yang perlahan mulai melaju meninggalkan halaman perusahaan.


"Iya, kau juga."


Bersambung ...


Mohon dukungannya untuk karya ini~ (๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ

__ADS_1


__ADS_2