Balas Dendam Setelah Dikhianati

Balas Dendam Setelah Dikhianati
13. Nyasar


__ADS_3

Happy Reading🐭


Mohon bijak dalam membaca, ya. Dan jangan lupa untuk dukungannya setelah selesai membaca✨


〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎


Suasana seketika berubah hening saat ketiga orang tersebut berkumpul di sebuah meja yang sama. Wajah Robin yang begitu tampan membuat Hanny menjadi salah paham. Dia kira pria di sebelah Alicia adalah kekasihnya.


Karena seseorang membutuhkan keberadaan Hanny secara tiba-tiba, ia pun terpaksa harus pergi di saat ingin mengobrol dengan dua orang kenalan barunya.


Hanny pergi setelah menaiki mobil taxi yang di pesan. Kini hanya tersisa dua orang saja di meja cafe itu.


"Mau minum?" tawar Alicia, bibirnya mengukir senyum lebar yang terlihat ragu. Nampaknya, wanita itu merasa tidak enak usai meninggalkan Robin tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


"Tidak, aku hanya ingin mengajakmu ke satu tempat lagi yang cukup penting," ajak pria di seberang kursinya, ia langsung meraih pergelangan tangan Alicia dan membawanya masuk ke mobil.


Selama di perjalanan, Alicia hanya terdiam bingung menatap setiap jalan yang dilalui. Dia sendiri tidak tau Robin akan membawanya kemana.


Hampir tiga puluh menit lamanya, meraka pun tiba di sebuah bangunan besar. Tertulis jelas di papan bangunan tersebut adalah sebuah toko fashion.


Robin membawa Alicia masuk, dan memintanya untuk memilih beberapa dress yang diinginkan untuk acara pesta perusahaan RAC Grup nanti malam.


"Apa tidak masalah?" tanya Alicia ragu.


"Iya, aku yang akan membayar," sahut Robin seraya menunjukkan sebuah kartu yang hanya dimiliki oleh orang-orang konglomerat saja, atau biasa disebut dengan black card.


Alicia pun langsung memilih dress. Sesekali wanita itu menunjukkannya pada Robin untuk memberi pendapat.


Sampai akhirnya satu jam telah berlalu dengan cepat. Terik matahari mulai memanaskan suhu ruangan, dan siang itu Alicia baru mendapat dress yang benar-benar cocok.


Harganya pun tidak ramah, satu bulan gaji Alicia di perusahaan bahkan bisa habis hanya untuk membeli dress itu saja.


Namun Alicia masih sedikit curiga dengan Robin, pria berkacamata yang hanya bekerja sebagai asisten pribadi bos nya di perusahaan bisa memiliki banyak uang. Alicia takut, jika Robin ternyata suka menggelapkan uang perusahaan.


......................


Malam telah tiba, sebuah hotel dengan ramai orang-orang di dalamnya terlihat begitu megah dengan berbagai berlian yang dipamerkan saat acara pesta berlangsung. Lampu-lampu terlihat menyala terang menyinari tiap ruangan di bangunan tersebut.


Tak jarang para pengendara umum menoleh ke arah hotel, lantaran sorak-sorai orang terdengar keras hingga ke jalanan.


Alicia keluar dari dalam mobil. Kedatangan nya sukses menyita perhatian para tamu undangan, parasnya yang sempurna disertai dress yang tak kalah sempurna nya tentu membuat mereka terpana.

__ADS_1


"Lihat, mereka cocok sekali!" lontar seorang wanita pada rekannya, ia menunjuk ke arah dimana Alicia bersama Robin berjalan melewati kerumunan.


"Tapi, aku merasa wajah pria itu sangat familiar."


"Eh? Benarkah, memangnya dia siapa?"


"Entahlah."


Acara pesta besar yang sudah cukup lama dinanti akhirnya dibuka, seorang pria pembawa acara memberi sambutan pada para tamu undangan sekaligus pada si pemilik perusahaan tersebut.


"Robin, tanganku gemetar," ucap Alicia tepat berada di sebelah telinga pria itu.


Benar, Robin juga bisa merasakan tangan yang ber gemetar dari wanita di sebelahnya.


"Tenang, kau akan baik-baik saja," balas Robin seraya mengelus lembut kepala Alicia.


"Selamat malam semua para tamu undangan, terima kasih atas kehadiran kalian. Di sini, saya adalah sebagai pemilik perusahaan RAC Grup. Jonthan Felipe," ucap Felipe memperkenalkan dirinya.


Seketika tepuk tangan terlontar dari banyaknya orang di sana. Selama ini, sosok si pemilik perusahaan RAC Grup memang jarang diketahui keberadaannya, termasuk para pengusaha besar yang juga jarang melihatnya.


Felipe adalah sosok yang cukup misterius di kalangan publik, dirinya yang begitu sibuk sampai jarang berkunjung ke perusahaannya sendiri. Terkadang, ia mengelola perusahaan miliknya yang berada di luar negeri.


Karena hal itu, membuat sebagian lebih dari karyawan di perusahaan tidak pernah mengetahui sosok bos.


Namun tidak dengan Alicia yang sengaja menjaga diri untuk rencana yang akan dilakukan pada Zean. Tapi sudah sejauh ini, Alicia masih belum mengetahui keberadaan Zean.


Wanita itu bahkan sudah menyewa dua pria untuk menyelinap secara ilegal ke dalam acara pesta. Mereka diberi tugas untuk memata-matai keberadaan Zean.


Beberapa waktu berselang, sebuah panggilan masuk ke ponsel Alicia. Dengan cepat, Alicia langsung mengangkat panggilan tersebut. Tentu panggilan yang begitu penting baginya.


"Halo, apa kalian sudah tau?" tanya Alicia dengan lirih, ia tak ingin banyak orang yang melihat ke arahnya hanya karena suara yang keras.


"Dia ada di kamar hotel nomor dua puluh lantai tiga bersama seorang wanita, tapi aku tidak tau siapa wanita yang bersama nya," tutur pria dari balik telepon.


"Oke, terima kasih."


Alicia langsung mengakhiri panggilannya. Dia bergegas menarik lengan Robin untuk ikut bersamanya menuju lantai yang telah diberi tahu oleh pria itu.


Tidak menggunakan waktu lama, Alicia akhirnya tiba di lantai tiga. Dia menyuruh Robin untuk masuk ke dalam kamar nomor sembilan belas, yang terletak berhadapan dengan kamar nomor dua puluh.


"Mulai?" tanya Robin, lantas di angguki oleh wanita itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alicia berlari dari arah tangga, langkahnya yang semakin cepat membawa dirinya masuk ke dalam kamar nomor dua puluh.


"Sayang!! Aku da– "


Kontan sepasang kekasih itu terkejut melihat kedatangannya. Di saat yang tepat, Alicia melihat dua orang tengah berada di atas ranjang dengan tubuh tanpa terbalut kain.


"Alicia?!!" kejut Zean.


Pria itu memakai pakaiannya dan langsung beranjak mendekati dimana Alicia berdiri di tengah pintu. Namun tidak dengan Hayan yang justru menutup tubuhnya dengan selimut tebal.


Zean menarik lengan Alicia, membawanya jauh-jauh dari sana.


"Apa yang kau lakukan? Tidak sopan!!" kesal Zean, matanya terlihat mengerikan seperti saat beberapa hari lalu membunuh nyawa Flor.


"Maaf, tapi aku kira itu kamar pacarku, apa aku salah kamar?" balas Alicia berbohong.


Dia kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, dan menunjukkan pesan obrolan antara dirinya dengan sang kekasih palsu.


Di dalam pesan tersebut jelas terlihat kalau kekasihnya menyebutkan nomor kamar dua puluh.


"Jelas jelas yang ada di kamar itu adalah aku," papar Zean ketus.


"Sebentar."


Alicia menghubungi pria yang dianggap sebagai kekasihnya.


"Halo, sayang?" sapa seseorang dari balik telepon itu.


"Hai, kau ada di kamar nomor berapa? Aku sudah ke kamar nomor dua puluh sesuai katamu, tapi aku malah bertemu dengan pasangan lain!" cakap Alicia dengan nada kesal.


"Maaf, aku salah ketik dan lupa untuk menggantinya. Aku ada di kamar dua puluh sembilan."


"Ahh, baiklah. Aku ke sana."


"Maaf Tuan, ternyata ada di kamar dua puluh sembilan," ucap Alicia setelah mengakhiri obrolan dengan pria asing.


"Ya, tidak masalah. Ini hanya salah paham, kan?"


Zean berjalan meninggalkan Alicia, langkahnya terseret masuk ke dalam kamar dua puluh. Dimana terlihat seorang wanita yang sudah mengenakan busana.

__ADS_1


Bersambung ...


Mohon dukungannya untuk karya ini~ (๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ


__ADS_2