
sikap Dion kepada calista seperti berangkat dan dan pulang kerja di antar, dan juga seperti makanan siang berdua membuat pegawai lainnya mulai membenci calista karena dianggap sebagai perempuan yang suka mencari perhatian dan itu membuat calista merasa risih karena mendapat tatap sinis dari mereka. Bahkan salah satu dari mereka secara terang terangan menunjukkan sikap tidak sukanya dan itu sedikit membuat calista takut jika kejadian di tempat lamanya terulang kembali.
"hey kalian tau gak karyawan baru itu" tanya salah satu karyawan di toko itu
"ohhh itu ya siapa sih namanya, aku lupa" jawab karyawan lain dengan berusaha mengingat ingat nama calista
"aaa aku tau itu calista nama nya ya calista" sambung karyawan lain
"kalian tau gak, belum lama bekerja pak Dion selalu antar jemput dia bahkan makan siang bareng" karyawan itu menggosipkan calista
"benar banget, kita yang udah lama bekerja tidak pernah tuh di perhatikan kayak gitu" mereka tetap melanjutkan obrolan mereka tanpa tau di belakang mereka ada Dion
"iya sok centil an lagi"
"kalian mau bekerja atau menggosipkan orang lain" bentak dion
"eh maaf pak" jawab mereka serempak
"bubar bekerja di tempat nya masing masing" perintah dion dengan datar
tanpa Dion sadari dengan sikap nya tadi makin membuat karyawan itu semakin membenci calista. saat dion sudah pergi salah satu dari mereka melihat calista masuk membawa bunga dan menghampiri calista.
"hey kamu" bentak karyawan itu sambil menarik tangan calista sehingga semua bunga yang di bawa calista jatuh ke lantai
"ada apa ini mba" tanya calista dengan bingung
"Lo karyawan baru di sini, Jangan sok ke centil an deh" sarkas karyawan itu
"maaf mba, maksudnya gimana ya" lagi lagi calista belum menangkap maksud dari karyawan itu
"Lo menggoda pak Dion kan, sehingga pak Dion mau antar jemput Lo" sinis karyawan itu
"maaf ya mba saya tidak pernah menggoda pak Dion, tapi pak Dion sendiri yang mau melakukan itu" jawab calista santai walaupun ia sendiri merasa takut, kejadian dulu dia di hina dan di caci maki terjadi lagi
"dasar tetap mau mengaku" sarkas karyawan itu dan akan menampar calista tapi sebelum karyawan itu berhasil menampar calista, calista lebih dulu menangkis tangan karyawan itu
"maaf mba punya hak apa mba mau menampar saya, jika pak Dion Melakukan hal itu bukan salah saya karena pak Dion sendiri yang mau melakukan itu" penjelasan calista, ia berusaha berani walaupun ada rasa takut, calista melakukan itu ia tidak ingin di tindas lagi
"kurang ajar beraninya kamu" tunjuk karyawan itu
"teman teman seret dia ke gudang" perintah karyawan itu kepada temannya
"kau yakin akan melakukan itu, bagaimana kalau pak Dion tau" jawab salah satu temannya
"kita akan melakukan sebelum pak Dion kembali" jawabnya
lalu mereka bertiga membawa calista ke gudang, sesampainya di gudang, dua karyawan memegangi tangan calista
plak plak
"rasakan itu , Berani sekali kau karyawan baru" caci karyawan itu dan akan menampar calista lagi
bugh
dengan keberanian calista menendang karyawan yang menamparnya, dan mengibaskan dua karyawan yang memegangi nya, calista bersiap keluar dari gudang, namun sebelum calista berhasil keluar dari gudang mereka sudah berhasil mencekal calista dan mengikat nya di kursi
"hey lepaskan, berani sekali kalian mengikat ku" bentak calista
"hahahaha itu balasan jika kau berani bermain main dengan kita" salah satu karyawan itu membentak calista dan menjambak rambutnya
cuih dengan keberanian calista meludahi karyawan itu sebagai membela diri karena tangan dan kakinya di ikat, hanya itu yang bisa ia lakukan, sehingga membuat mereka naik pitam dan menyiksa calista habis habisan
sedangkan dion yang baru sampai di toko melihat bunga yang berantakan di lantai membuat di terkejut, ada kejadian apa saat dia pergi
"pak Dion" teriak Arin sambil menghampiri Dion
"ada Rin, apa ada yang terjadi" tanya Dion
__ADS_1
"itu pak, mereka menyiksa calista di gudang" penjelas Arin membuat Dion langsung berlari menuju gudang dan di ikuti Arin
sesampainya di gudang hati Dion merasa teriris melihat keadaan calista
"APA YANG KALIAN LAKUKAN" bentak dion
Mereke bertiga terkejut dengan kedatangan Dion
"KALIAN SAYA PECAT, CEPAT PERGI DARI SINI ATAU SAYA LAPOR POLISI" Dion menekan setiap kata yang di lontarkan nya, karena membendung kemarahannya, kemudian mereka bertiga pergi dari gudang dan toko itu
Dion menghampiri calista dan melepaskan ikatan calista dan tanpa mikir panjang Dion
cup
cup
cup
mencium dahi, pipi kiri dan kanan calista yang terluka ia berharap dengan ciuman tersebut dapat mengurangi rasa sakit sedangkan Arin yang Melihat itu tutup mata
"calista kita ke rumah sakit saja ya" tanya Dion dengan khawatir
"tidak perlu Dion, luka ini nanti bisa sembuh sendiri setalah di obati" jawab calista dengan senyuman
"tapi ini...." sebelum Dion menyelesaikan ucapannya Calista lebih dulu memotong nya
"sudah aku tidak papa, beneran" Dion menatap sendu calista
"baiklah, kalau begitu biar saya yang mengobati luka ini" dion berharap kali ini calista mau mengikuti perintah nya, dan calista menganggukan kepalanya sebagai persetujuan, Dion tersenyum melihat calista menurut kepadanya
"Arin ambilkan kotak obat di mobil saya dan bawa ke ruangan saya" perintah Dion kepada Arin
"baik pak" jawab Arin dengan sopan dan pergi untuk mengambil kotak obat itu
Dion membawa calista keruangan, untuk mengobati lukanya
di ruangan Dion mendudukkan calista di kursi panjang yang ada di ruangan tersebut
"apa terlalu sakit" tanya Dion hati hati dengan mengusap halus luka di pipi calista
"sedikit sakit tapi tidak papa" calista memberi tahu Dion dengan bohong agar tidak terlalu khawatir dan yang sebenarnya lukanya cukup sakit
ceklek
Arin masuk ke ruangan Dion tanpa permisi karena terlalu khawatir dengan calista
"eh maaf pak, saya langsung masuk saja tanpa permisi karena terlalu khawatir dengan keadaan calista" Arin merasa malu saat melihat Dion dan calista begitu mesra
" tidak apa apa, mana kota obat Rin"
"ini pak" Arin memberikan kotak obat tersebut dan Dion menerima kotak tersebut
"maaf pak kalau begitu saya lanjut kerja ya" pamit Arin
"iya silahkan" balas Dion
kemudian Dion mengobati luka calista
"ishhhh" calista meringis merasakan perih di lukanya
"perih ya" tanya Dion sembari meniup niup pada luka yang sedang di obati, calista terdiam saat merasakan hembusan nafas Dion saat meniup lukanya
"pelan pelan pak sedikit perih luka di pipi" calista meringis kenapa luka begitu perih apa terlalu dalam lukanya
Dion sangat hati hati mengobati luka calista takut menyakiti orang yang dia sukai, Dion tidak habis pikir kenapa ketiga karyawan nya melakukan hal itu kepada calista, Dion akan memberi pelajaran kepada mereka
"nah sudah selesai, jangan terkena air dulu ya, biar lukanya cepat kering" Dion menjelaskan kn
__ADS_1
"terima kasih
kruk kruk kruk
calista memegangi perutnya yang berbunyi karena merasa lapar karena tadi pagi dia belum sempat sarapan pagi, calista merasa kepada Dion karena perutnya bunyi terlalu keras
"hahahaha" tawa Dion lepas saat mendengar perut calista bunyi, pipi calista memerah karena malu
"kau lapar" calista hanya mengangguk kan kepalanya sambil mengigit bibirnya
"sudah tidak perlu malu, ini ada makanan ayok kita makan, aku tau kau belum sarapan tadi, sekarang sudah siang cepat makan" sambung dion, calista mengambil makanan yang di berikan Dion karena memang ia merasa sangat lapar
saat makan calista diam diam melihat kearah Dion
"kenapa kau begitu baik kepada ku Dio, boleh kah aku berharap lebih, boleh kah aku berdo'a bisa bersama mu" monolog calista, karena sebelumnya dia tidak pernah mendapat perlakuan manis seperti ini dari laki laki "aku berharap kebahagiaan yang aku rasakan ini tidak hanya sementara" sambung calista di dalam hati
mereka berdua menikmati makanan dengan diam
kring kring
Dion segera mengangkat telfon tersebut
"iya ada apa ma" jawab Dion dengan sopan karena ibunya yang menelfon
"............."
"Dion lagi di toko ma, pulangnya sore nanti
"........."
"iya Dion tidak lupa, mama tenang saja"
"......."
"baiklah ma, Dion tutup ya telfon nya"
Dion segera mematikan telfon nya
"kamu sangat menyayangi ibumu ya" calista bangga terhadap Dion saat melihat cara bicaranya dengan ia ibunya
"aku sangat sayang dengan ibuku, aku akan melakukan apapun untuknya" Dion menjawab pertanyaan calista
"kamu beruntung masih punya ibu, sedangkan aku tidak punya siapa siapa lagi" sambungan calista dengan sendu, Dion yang mendengar ikut merasakan kesedihan calista
"kenapa cuacanya mendung ya, eh ternyata matahari yang ada di depan saya tidak tersenyum" gombal Dion
"hahahaha, gombal kamu Dion" calista tertawa dengan gombalan receh Dion
"nah begitu dong, senyum" dion mengusap kepala calista
"terima kasih, sudah menghibur ku, ya sudah kalau begitu aku kembali bekerja, tidak enak dengan karyawan lainnya"
"baiklah, jika ada apa katakan kepada ku
calista menganggukan kepalanya dan kemudian meninggalkan ruangan Dion.
.............
setelah pulang dari toko Dion sengaja membawa calista ke pantai, karena mengingat calista yang sempat sedih, Dion mengajak calista melihat matahari tenggelam, disini mereka berdua berada di sebuah pantai dengan pemandangan yang indah, mereka duduk di atas mobil
"Dion aku sangat berterima kasih dengan mu, walau baru beberapa bulan kamu kenal Dengan ku , kamu begitu baik pada ku, dan terima kasih sudah memberikan pekerjaan untuk Ku yang hanya lulus SMA saja, Dion boleh aku minta sesuatu padamu" Dion menyimak apa yang di katakan Calista
"memang kamu ingin minta apa, kalau saya bisa mengabulkan maka akan aku kabul kan" Dion menjawab pertanyaan calista dengan sedikit was was dia takut kejadian tadi pagi membuat calista jauh darinya
"aku ingin saat di toko kamu jangan terlalu baik padaku, aku tidak ingin kejadian tadi pagi terjadi lagi, kejadian tadi terjadi karena mereka iri padaku, karena aku belum bekerja lama di toko mu ,tapi aku mendapatkan keistimewaan dari mu, bisa kan" calista menjelaskan asal muasal kejadian tadi pagi
"bisa , hanya di toko saja kan, kalau di luar toko jangan melarang ku untuk memberikan perhatian untuk mu" jawab Dion dengan sedikit kecewa karena ia merasa akan ada jarak di Antara mereka, calista membalas dengan senyum.
__ADS_1
mereka menikmati sejuknya angin pantai cukup lama setelah lama dan hari semakin gelap Dion memutuskan untuk mengantar calista pulang ke kontrakan, bagi Dion sudah cukup untuk hari ini ia menghabiskan waktu bersama calista, masih ada hari selanjutnya akan ia habis bersama calista.