Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku

Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku
Mobil Penyelamat


__ADS_3

***Sebelum membaca, jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya.***


.


.


Lalu aku mengucapkan terimakasih kepada Pak Gutomo. Ternyata beliau perhatian kepada saya. Hal itu karena dari 3 penanya, hanya aku yang di datangi oleh beliau. Acara selanjutnya adalah makan siang. Kami seluruh peserta diberikan nasi dus. Ada yang dipersilahkan untuk sholat. Bagi yang tidak sholat bisa langsung menikmati hidangan itu.


Setelah makan siang, maka akan dilanjutkan dengan sesi 2. Kalau sesuai jadwal maka materi nya berkaitan dengan Kerajaan Mataram.


**


Sesi dua pun dimulai. Kali ini pembicaraannya adalah seorang Arkeolog. Beliau juga seorang dosen di UGM. Namanya ibu Dra. D.S Nugrahani. Setelah perkenalan, ternyata beliau adalah istri Pak Gutomo.


Materi yang Bu Nia (panggilan Bu Nugrahani) adalah tentang Sejarah Kerajaan Mataram. Beliau menjelaskan kebesaran Mataram Hindu yang sangat luar biasa. Termasuk beliau membahas tentang temuan emas Wonoboyo. Bahkan beliau juga menyebut namaku.


"Tadi di sesi 1 ada yang bertanya tentang emas Wonoboyo. Tadi siapa namanya?" katanya


Serempak peserta melihat ke arahku dan kompak menyebut namaku.


"Candika" katanya


Aku hanya tersenyum malu, ketika namaku disebut. Bu Nia juga kemudian berkomentar tentang namaku


"Namanya saja sudah sangat Arkeologi banget. Candika tahu nggak apa arti dari namamu? nama lengkapnya siapa?" tanya Bu Nia, sambil berjalan mendekatiku


"Candika Kusuma, Bu." kataku


"Tahu artinya?" tanyanya lagi


Aku sejenak diam dan tersenyum sambil menunggu mic sampai di tanganku.


"Kata mama, saya dikasih nama Candika karena kakek saya. Kakek sangat mencintai Candi Prambanan. Kemudian artinya kalau tidak salah bunga yang berasal dari candi. Kusuma artinya artinya bunga." kataku


Bu Nia lalu tersenyum.


"Candika Kusuma itu kalau secara Arkeologi diartikan sebagai bunga yang akan memberikan keharuman pada bangunan suci Dewi Durga." kata Bu Nia.


Aku tak menyangka bahwa namaku sangat dalam. serta berkaitan dengan unsur seorang Dewi Hindu, yaitu Dewi Durga. Bu Nia juga berharap suatu saat nanti saya dapat kuliah di UGM. Untuk mengambil jurusan Arkeologi.


Setelah itu, kemudian Bu Nia melanjutkan materinya. Setelah menjelaskan tentang emas. Beliau juga menjelaskan tentang geneologi raja - raja Mataram. Aku pun semakin tertarik dengan tinggalan itu.


Materi dari Bu Nia pun selesai. Ada banyak yang bertanya. Termasuk aku juga bertanya tentang pembangunan Candi Prambanan. Aku pun sangat kagum dengan leluhurku. Bagaimana mereka membuat Candi yang sangat indah dan megah itu.


Dalam waktu yang sebentar, Kak Arya memberitahu kalau dia sudah sampai Prambanan. Aku diminta menunggunya sebentar. Setelah menyelesaikan materi sesi 2. Kami mengikuti upacara penutupan seminar. Dalam laporannya ketua panitia menyampaikan kepada peserta. Peserta diminta untuk menjadi tali estafet dalam menjaga dan melestarikan tinggalan leluhur.


Peserta kemudian diminta oleh panitia untuk mengambil kenang- kenangan. Peserta diminta antri satu per satu. Lumayan panjang dan agak lama. Karena harus bergantian dalam presensi. Aku tahu ternyata oleh - olehnya adalah uang saku. Hehehe...Lumayan


call

__ADS_1


"Ya kak" jawabku


"Kakak sudah hampir sampai, tapi kakak muter bentar ya. Jangan kemana - mana sebelum kakak jemput." katanya


Aku hanya bilang oke dan juga aku masih antri untuk sampai giliranku. Banyak diantara siswa sekolah lain yang berkenalan dan ingin bertukar no hape. Aku pun kemudian saling tukar no hape. Aku inget pesen kakak, kalau link itu akan berguna suatu saat nanti. Trus kita juga enggak tahu 10 tahun lagi akan jadi apa. Bisa saja kenalan itu akan menjadi orang penting di negri ini.


"Candi kamu ke sini naik apa?" tanya Pratiwi, dia anak dari SMA N 1 Klaten. Sekolah favorit di Kabupaten ku.


"Tadi naik angkot, tapi bentar lagi jemput sama kakak. Paling bentar lagi sampai." kataku


Tapi ada yang membuat ku sebel juga. Mereka dari siswa sekolah seberangku.


"Kami sudah dijemput sama guru kami. Itu mobil kita sampai." kata Ana


Aku lihat memang sih dari kebanyakan sekolah diantar oleh guru mereka. Tapi kami ber 3 enteng saja jawab nya. Kami anak yang mandiri dan pemberani. Sehingga enggak perlu dianter. Tapi tetep saja dinyinyirin.


"Guru kalian seperti enggak bertanggung jawab. Hmm..atau Guru kalian enggak ada yang punya mobil?" kata Ana lagi.


Wisnu ingin sekali maju tapi aku tahan. Aku tidak mau nama baik yang pelan - pelan aku bangun. Bakalan turun lagi. Guru mereka nyamperin anak - nak SMK seberang sekolahku. Mobil yang mereka gunakan adalah Ava..a warna silver.


"Sebentar lagi aku juga akan di jemput sama kakakku." kataku


Timbul rasa balas dendamku. Tapi dengan cara yang halus. Mereka menyombongkan diri dengan mobil guru nya. Sedangkan kata Kak Arya, aku bisa saja memiliki mobil yang kakak pakai. Trus kalau dilihat dari hape yang digunakan. Hape type ku adalah limited. Jadi secara sosial aku lebih tinggi. Duh maaf sombong (itu semua juga karena Kak Arya, heeheh).


10 menit berlalu ternyata Kak Arya belum datang juga. Siswa tersebut terus saja mengejek kami. Tapi banyak juga sekolah lain yang berangkat sendiri. Tapi mereka menggunakan motor. Wisnu juga memberitahu kalau dia bakalan di jemput sama temennya. Sedangkan Dewi juga dijemput oleh bapaknya.


"Kalau kakakmu enggak jemput, kamu bakalan naik angkot lagi?" tanya Ana


"Duh kalian ini bisa nggak sih enggak usah pamer kekayaan. Lagi pula mobil yang kalian tumpangi bukan mobil kalian. Aku saja yang di jemput ayahku naik mobil pribadi biasa saja." kata Pratiwi, yang ku tahu ayahnya seorang anggota DPRD.


Aku ingin telepon kakak. Tapi ternyata dari kejauhan aku sudah melihat mobil orange nya kakak. Semua mata tertuju pada kedatangan mobil itu. Aku pun tersenyum dalam hatiku bakalan menang banyak.


"Wuih mclaren" kata Pratiwi


"Itu mobil yang dibuka ke atas, kan?" sahut Nadila, temen Pratiwi


"Enggak mungkin jemput kamu kan, Can?" tanya Ana.


Aku hanya tersenyum sinis. Aku lihat semua orang tertuju pada mobil itu. Terlebih saat pengemudinya keluar. Benar saja, pintu mobil itu di buka ke atas.


"Yang pasti tu mobil kalau buat beli ava..a dapat 50 buah, tu." sahut Pratiwi


Aku lihat Ana dan ke dua temennya mulai jengkel. Sosok lelaki tampan nan manis keluar dari mobilnya. Tangan kiri nya dilipat kebelakang. Dia melambaikan tangan ke arahku. Aku pun langsung tersenyum. Dia lalu berjalan mendekatiku dan memberikan bucketbunga mawar merah.


"Untuk tuan putriku." kata nya


Semuanya kompak bilang "ciee". Aku jadi malu banget tapi aku juga bangga.


"Kakak lama banget sih." gerutuku

__ADS_1


"Maaf sayang, tadi kakak beli bunga dulu. Suka nggak?" tanyanya


Aku hanya menganggukan kepala. Kemudian aku pun pamit kepada Pratiwi, Nabila, Wisnu, dan Dewi. Tak lupa aku juga pamit ke Ibu Dosen dan penyelenggara acara seminar. Kakak juga mengucapkan terimakasih.


"Bu Nia, kenalkan ini kakak saya namanya Arya Wijaya. Kakak juga kuliah di UGM jurusan Teknik Geologi." kataku pada Bu Nia


"Salam kenal, saya Nia Dosen Jurusan Arkeologi. Ini kakak beneran atau kakak ketemu gede?" ledek Bu Nia


"Kakak beneran, bu." sahutku


"Adikmu cerdas mas." puji Bu Nia


"Tentu Bu, kedua kakaknya kan juga cerdas. Saya kakak pertamanya. Kakak ke dua nya sedang ada beasiswa exchange ke Amerika. Saya juga 2 minggu lagi berangkat ke Swedia. Dia nya diajak ke luar negeri enggak mau." kata Kak Arya Sambil mengusap kepalaku


Aku lalu dengan sengaja memeluk kakak di depan mereka semua. Aku pun melirik ke arah Ana yang masih sinis melihatku. Lalu mereka menuju mobil guru nya yang tadi sangat dibanggakan. Sebelum anak masuk aku pun memanggilnya.


"Ana, jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena lihat luarnya saja. Kamu tidak tahu siapa dia. Jangan pernah merendahkan harga diri orang lain. Kamu harusnya belajar sekarang. Kekayaan yang kamu sombongkan itu bukan milikmu. Jangan kau tindas orang lain." kataku


Ana pun kemudian tertunduk dan masuk ke mobilnya. Mendengar perkataanku. Kak Arya pun kemudian ikut menyahut. Dia pasti tidak terima adiknya telah di hina.


"Satu lagi, dik. Mobil itu milik Candika. Saya hanya menjadi driver nya saja. Kamu mau tahu, orang tua Kakak ini seorang Duta Besar. Jadi kalau Candika mau berkunjung dan keliling dunia pun tinggal menjentikan jari. Tetaplah rendah hati, jangan sombong." kata Kak Arya


Mendengar hal itu pun, guru Ana langsung turun dan minta maaf.


"Tolong ajarin murid nya tentang etika dan sopan santun." kata Kak Arya


"Baik Mas Arya, sekali lagi saya minta maaf."


Selepas kejadian itu, banyak teman - teman yang sangat ramah dan baik padaku. Mereka pun kemudian numpang foto di samping mobil nya Kak Arya.


"Ready to go, sayang?" tanya Kak Arya


"Kemana?" tanyaku


"Ayo masuk mobil" kata Kak Arya.


Aku pun kemudian melambaikan tanganku ke teman - teman. Serta mobil kami melaju meninggalkan gedung RSPD Klaten.


***


Episode kali ini cukup ya. Terimakasih atas waktu nya,. Jangan lupa like, votez rate, dan comment ya.


Kira - kira kemana Kak Arya membawa pergi Candika?


With Love


Citralekha


__ADS_1


__ADS_2