
**Sebelum membaca, jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya.***
Happy reading
.
.
"Ada apa nak? Apa hang terjadi dengan Arland" tanya ayah yang panik
"Kak Arland kecelakaan dia sedang di ruang operasi sekarang." kataku
"Siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang." perintah ayahku kepada ajudan.
Aku pun heran dengan ayah angkatku. Apakah ayah ada hubungannya dengan Kak Arland. Aku melihat Ayah segera lari ke dalam dan memberitahu pada bunda.
"Bunda segera kita ke rumah sakit." kata ayah Devananda
"Ada apa yah? siapa yang sakit?" tanya bunda
"Arland, bund." kata ayah
"Arland? Arland putra kita?" tanya bunda lagi
"Segera kita berangkat bund." kata ayah.
Samar - samar aku mendengar jika Kak Arland putra mereka.
"Mungkin aku salah dengar. Kak Arya bilang kan hanya punya adik cewek. Arlina nama nya, trus siapa dong Kak Arland?" tanyaku
"Ayo kita semua ikut ke rumah sakit." ajak Kak Krishna.
Kami lalu segera mengikuti ayah dan bunda naik mobil. Sepanjang jalan, ayah dan bunda selalu berdoa. Dalam hati bertanya - tanya. Tapi ini bukan saat yang tepat aku kepo. Mungkin dengan kehadiran kami akan dapat mengungkap sebuah kebenaran yang slama ini disembunyikan dari aku.
"Semoga bukan Arland kita, bund." kata ayah
"Semoga hanya namanya sama. Coba ayah telepon Arlan." kata bunda.
"Kenapa ayah bisa lupa sih. Sekarang jaman canggih." kata ayah.
Tapi berkali kali ayah telepon Kak Arland tidak mengangkatnya. Tapi ketika panggilan terakhir sebelum ayah akhiri diangkat oleh seseorang.
"Hallo nak, apa kamu baik - baik saja?" tanya ayah
"Maaf, pemilik hp ini sedang kecelakaan. Keadaannya kritis." kara seseorang di seberang sana.
"Gimana yah?" tanya bunda
"Arland kritis, ayo bund" kata ayah.
Tak berapa lama, kami sampai di sebuah rumah sakit dimana Kak Arland di rawat. Kami pun berlari, berharap Kak Arland baik - baik sajam Sesampainya diruangan yang di maksud, ternyata sudah ada banyak polisi.
"Pak polisi, saya ayah nya pasien. Apa yang terjadi dengan anak saya?" tanya ayah
Polisi kemudian menjelaskan kronologi kecelakaannya. Kami pun diam dan sambil berdoa. Tak berapa lama dokter keluar dari ruang ICU.
__ADS_1
"Pasien harus dioperasi sekarang juga. Apakah ada pihak keluarga yang bertanggungjawab?" tanya dokter
"Saya ayahnya dok." kata ayah
"Baik kalau begitu mari ikut dengan kami untuk tandatangan persetujuan." kata dokter.
Ayah pun lalu mengikuti dokter. Sementara bunda masih menanggis. Ada banyak pertanyaan yang ada dalam benakku. Tapi yang aku tahu sekarang adalah Kak Arland anak orang tua angkatku. Lalu ada hubungannya Kak Arland dan Kak Arya. Untuk saat ini, aku tidak mau bertanya hal itu. Aku harus memikirkan kesembuhan kaka. Dengan cara berdoa tentu saja.
**
6 jam kemudian, Kak Krishna mulai cemas. Aku bisa melihat dari sorot mata nya.
"Kakak kenapa?" tanyaku
"Kita harus segera ke bandara, dek. Kita harus segera check in dan kembali ke Indonesia." kata Kak Krishna
"Kalau gitu kakak dan yang lainnya pulang lah ke Indonesia. Adik mau di sini menemani bunda dan ayah. Juga akan memastikan kalau Kak Arland baik - baik saja." kataku
Awalnya Kak Krishna menolak jika aku tinggal di Swedia. Mama pasti akan kecewa tentang pilihanku. Tapi, aku juga tidak tega membiarkan orang tua angkatku.
"Kakak pulang duluan saja. Aku akan baik - baik saja di sini." kataku meyakinkan kakak.
"Kalau begitu, Bagus juga akan di sini. Krish, kamu kembalilah ke Indonesia. Aku akan jagain Candika." kata Kak Bagus.
Mendengar penuturan Kak Bagus, Kak Krishna pun langsung memeluknya.
"Makasih ya Gus, kamu memang saudara yang baik. Aku titip adikku ya." pesan Kak Krishna
"Aku pasti akan jagain Candika. Salam buat tante, Sekar sayang, kamu tidak papa kan, kalau pulang bareng mereka?" tanya Kak Bagus.
"Iya kak, i am fine. Jagain Candika ya." kata Sekar lalu memelukku.
"Sekar, makasih ya." kataku
Setelah acara pamit - pamitan. Mereka pun menuju Bandara Arlanda. Kak Bagus tak pernah meninggalkan ku. Dia selalu setia berada di sampingku. dan ... proses operasi ternyata sangat lama. Pada saat menunggu itu lah, aku menggunakan kesempatan.
"Bunda" kataku lirih
"Kamu pasti mau bertanya tentang Arlan?" tanya ayah.
Aku hanya menganggukan kepala.
"Ayah akan ceritakan siapa Arland dan apa hubungannya dengan Arya." kata Ayah
Aku pun menyimak dengan baik setiap kata yang keluar dari mulut Ayah.
"Jadi sebenarnya yang meninggal itu bukanlah Arya ... melainkan Arland." kata ayah
Deg ...
Seketika jantungku rasanya berhenti berdetak. Kebenaran apa ini, apa yang sebenarnya terjadi. Banyak sekali pertanyaan yang aku tanyakan. Kenapa mereka menyembunyikan semua itu dari ku.
"Maksud ayah?" tanyaku
"Arland adalah anak angkat kami yang kebetulan wajah nya mirip dengan Arya. Pada waktu itu, Arya mengidap gagal Hati. Arland lalu mengobarkan diri nya untuk menolong Arya. Dia mungkin ingin membalas kebaikan kami." kata Ayah
__ADS_1
"Jadi maksud ayah, Arland yang ada di dalam ruangan itu adalah Kak Arya?" tanyaku penasaran.
"Iya, dia adalah Arya mu." kata Ibu
Seperti petir yang menyambar di siang bolong. Aku dan Kak Bagus sangat kaget. Bener - bener kaget dibuatnya. Ternyata perasaanku selama ini benar. Aku memang telah menduga bahwa Kak Arland itu adalah Kak Arya.
"Maafkan kami nak, Arya yang merencanakan ini semua. Dia ingin mengetahui bagaimana dirimu jika tanpa Arya. Ternyata Arya benar, bahwa kamu juga memiliki rasa sayang padanya. Bukan sebagai seorang kakak melainkan sebagai seorang kekasih hati." kata ibu
"Sebenarnya, Arya ingin berterus terang hari ini denganmu dihadapan semua orang. Dia sudah menyiapkan sebuah surprise untukmu. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Arya kita kecelakaan. Kita hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Arya. Kali ini ayah bener - bener takut. Takut kehilangan Arya putra kami. Kemarin kami cukup terpukul dengan kepergian Arland." kata ayah sambil meneteskan air mata
Pada akhirnya aku tahu sebuah kebenaran. Entah aku harus marah atau bahagia. Marah karena aku telah dibohongi. Dan bahagia karena aku masih memiliki Kak Arya. Pada saat itu semuanya tiba - tiba hening. Kami kalut dalam pikiran masing - masing. Dokter yang mengoperasi Kak Arya pun keluar. Secara otomatis, kami semua berdiri.
"Dokter, bagaimana keadaan putra kami?" tanya Ayah.
"Pasien berhasil kami selamatkan. Dia akan kami pindahkan ke ruangan ICU. Kondisinya masih sangat lemah..dan..." kata dokter tertahan
"Dan kenapa dok?" tanya ibu tak sabar
"Mungkin sebagian memori nya akan terhapus. Benturan keras yang menimpa kepalanya membuat pasien mengalami gagal otak ringan. Entah memori apa yang akan hilang." kata Dokter
Mengetahui hal itu, kami semua saling pandang. Tak ada yang berani mengucapkan kata lain lagi. Hingga pada akhirnya, kami melihat Kak Arya dikeluarkan dari ruang operasi.
"Kakak" kataku tatkala melihat wajah nya yang pucat.
Dia masih memejamkan mata. Tubuhnya penuh dengan alat medis. Ingin aku memeluk tubuh nya. Tapi itu tidak mungkin, Kak Bagus menahan lenganku dan menggelengkan kepala.
Kami semua juga mengikuti kemana Kak Arya akan ditaruh di sebuah ruangan.
"Ajaklah berbicara kepada pasien. Ceritakan tentang masa lalunya. Bisikilah dengan cerita - cerita indah. Hal itu akan membantu pasien dalam kesembuhan." kata Dokter
"Nak, kamu masuklah terlebih dahulu. Ajak Arya berbicara dari hati." kata Ayah
Aku lalu masuk ke ruangan perawatan kakak. Aku pandang wajah nya yang tampan. Meskipun aku benci dibohongi. Tapi jujur, aku tidak mau kehilangan kakak.
Aku lalu memperkenalkan diriku kembali. Aku takut, jika dia tidak bisa mengingatku.
"Kak, bangun ... aku merindukanmu" kataku
Tak ada pergerakan sedikitpun.
***
Haaai... maaf ya baru bisa update.
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih atas waktu nya. Jangan lupa untuk klik like, vote, dan rate ya.. jangan lupa tinggalkan jejak juga.
next :
Apakah Arya akan bangun dan mengingat Candika?
terimaaksih
With love
Citralekha
__ADS_1