
***Sebelum membaca, jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya.***
Happy reading
.
.
Tapi pada waktu itu, Sekar dan Kak Bagus juga ke Bandara.
"Kak Bagus dan Sekar akan ikut ke Bali." kata Kak Bagus.
Mama hanya bisa mengucapkan terimaaksih.
*
Hari ini adalah hari keberangkatan kami ke Bali. Sekar dan Kak Bagus sudah di rumahku. Mereka ke rumahku setelah menjemputku di sekolah.
Jam 2 kami sudah sampai rumah. Aku pun izin sekolah selama seminggu.
"Candi" kata Sekar
"Hem...ada apa?" tanyaku
"Gimana perasaanmu? sudah enakan?" tanya Sekar.
"Meskipun sakit tapi aku harus bisa kuat." kataku sambil berlinang air mata.
Setiap waktu aku selalu mengingat Kak Arya. Aku berharap sampai di Bali. Dia akan menyambutku penuh dengan cinta. Bukan duka dan air mata.
Aku lalu rebahan sebentar dan hingga terpejam. Kami akan berangkat ke Bandara jam 17.00. Sekar membiarkan aku terlelap sambil dia mengusap kepalaku.
"Sekar" panggil Kak Bagus
"Sssstttt .... Candi lagi tidur." kata Sekar
Kak Bagus pun melangkah masuk ke dalam kamarku. Dia melihat keadaanku yang menurut dia buruk. 2 hari ini aku murung dan jarang makan.
"Sekar, kamu bantu mama nya Candi untuk buat makanan. Nanti kalau Candi bangun biar langsung makan." kata Kak Bagus
"Baik kak, Kak Bagus tunggu sini ya. Nanti takutnya Candika mimpi buruk." kata Sekar
Setelah itu, Sekar ke dapur membantu mamaku masak. Aku dan Kak Bagus di kamarku. Perlahan dia duduk di samping ku. Dia pun mengusap lembut kepalaku. Tanganku lalu memegang tangannya.
"Kak Arya jangan pergi" kataku dalam keadaan masih memejamkan mata. Aku lalu menitikan air mata.
"Candika ... kamu yang kuat ya dek. Ada Kak Bagus di sini." kata Kak Bagus.
Dia dengan telaten mengusap air mata ku. Satu jam kemudian. Sekar kembali masuk kamarku.
"Tadi dia terbangun trus megang tangan kakak." kata Kak Bagus
Dia segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Pasti dia menyebut nama Kak Arya, ya?" tanya Sekar.
Pertanyaan Sekar hanya dijawab anggukan.
"Apa nggak sebaiknya kita bangunin Candika, Kak?" tanya Sekar
"Boleh ... tapi pelan - pelan ya. Biarkan dia mandi dan siap - siap." kata Kak Bagus
Sekar pun lalu menggoyangkan lenganku pelan. Dia juga menyebut namaku agar aku terbangun. Perlahan aku bergerak dan membuka mata. Kak Bagus dan Sekar pun lalu tersenyum.
__ADS_1
"Hai tuan putri, bangun dan makan ya. Aku akan suapin kamu." kata Sekar sambil tertawa
"Aku mau disuapin Kak Bagus, boleh?" tanyaku
Entah kenapa aku ingin sekali di suapin oleh lelaki itu. Mungkin karena rasa rindu pada Kak Arya. Sebulan lebih aku tidak melihatnya. Dia tanpa kabar dan ketika aku tahu kabarnya. Bukan kabar bahagia Tapi kabar duka. Aku kembali menangis lagi jika ingat itu.
"Candi ... ayo makan." kata Kak Bagus yang sudah menyendokan nasi, sayur, dan lauk.
Perlahan aku membuka mulut dan mulai makan. Pandanganku ke Kak Bagus lama - lama berubah. Aku melihat sosok Kak Arya. Aku pun langsung memeluk nya.
"Aku kangen kakak. Kenapa kakak jahat ninggalin aku?" tanyaku sambil terus menangis.
Sekar pun ikut menangis. Demikian juga dengan mama. Dia tidak masuk ke kamarku. Mama memilih melihat sebentar dan kemudian pergi. Sepertinya mama tidak tahan melihat keadaanku.
"Candi, kakak akan selalu bersama mu." kata Kak Bagus.
Setelah itu, aku pun mandi dan siap - siap ke Bandara. Mama sudah menitipkan rumah pada saudara kami. Tak lama kemudian kamu menuju bandara.
*
Bandara
Kak Pande sudah menunggu kita di pintu keberangkatan.
"Hai anak manis ... gimana kabarnya?" tanya Kak Pande
"Enggak begitu baik kak." kataku datar
Kak Pande hanya tersenyum tatkala mendengar jawabanku. Kak Bagus pun lalu minta maaf dengan Kak Pande.
"Aku paham kok." kata Kak Pande
Kami lalu check in, mama, Sekar, dan Kak Pande 1 baris. Sementara aku dan Kak Bagus satu baris. Aku meminjam bahu Kak Bagus. Dia pun dengan ikhlas memberikannya.
Tangannya lalu memeluk bahuku. Ada rasa nyaman untuk saat ini.
*
2 jam kemudian (WITA)
Mobil yang menjemput kami sudah ada di pintu keluar. Adik Kak Pande sudah datang dan siyap menumpangi kami.
Sejenak aku menghirup udara malam Bali. Udara yang baru pertama kali ku hidup ketika turun. Suasana Bali yang penuh dengan mistik, keindahan, dan kesakralan.
Alunan musik Bali menyambut kedatangan kami. Sekar pun mengajak kami untuk foto bersama di Bandara. Tak berapa lama, kami keluar.
"Mari bu, Bagus, Candi, dan Sekar ... itu mobil kita." kata Kak Pande.
Kami lalu masuk ke mobil Kak Pande. Mobil Kijang Inova mengantar kami ke rumahnya. Rumah dengan dua lantai dan susunan beberapa buah rumah kecil. Ya, rumah khas Bali. Serta alunan gamelan rindik Bali yang menenangkan hati. Pohon kamboja dan banyak banget bebunggan.
"Rumahnya asri banget, Kak." kataku
Jujur ini kali pertama aku nginep di rumah Bali. Keluarga Kak Pande menerima kami dengan hangat. Kami pun lalu makan malam bersama. Canda tawa sesama keluarga ada di sini. Aku merasakan kehangatan. Senyum tipis tersinggung di bibirku.
"Karena sudah malam, sebaiknya kalian istirahat ya. Pasti capek kan" kata Ayah nya Kak Pande, yang ku tahu namanya Om Nyoman Ariawan.
Aku, Sekar, dan mama berada dalam satu kamar. Kamar yang kami tempati terdapat sebuah kamar king size. Aku tidur di tengah. Sekar dan Mama ada di sampingku. Sedangkan Kak Bagus sekamar dengan Kak Pande.
Malam ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pikiranku kalut, sesuai pesan dari Kak Ayu. Besok pagi jenazah Kak Arya tiba di Bali. Aku lihat Sekar dan Mama sudah terlelap. Aku pun lalu pelan - pelan melangkah keluar. Aku ingin menghirup udara malam.
Aku langsung menuju pintu keluar. Suara rindik Bali yang di putar dengan player menyejukkan hati. Tapi hatiku selalu was - was dan khawatir. Aku lalu ke halaman. Di bawah pohon kamboja. Aku duduk di kursi panjang. Ku tatap bintang di langit.
Kata orang, salah sagu bintang di langit adalah jiwa dari orang baik. Aku berharap akan ada keajaiban besok pagi. Aku berharap kabar itu bohong. Serta Kak Arya sudah menyeting semuanya.
__ADS_1
"Apakah besok aku sanggup, Tuhan?" tanyaku dalam isakan tangis.
"Kamu pasti sanggup. Jangan menanggis lagi. Kasihan Arya, nanti dia tidak tenang." kata Kak Bagus. Entah kapan dia tiba - tiba berdiri di belakangku.
Aku pun lalu menoleh dan menatap Kak Bagus yang memutari aku. Dia duduk dan menghapus air mataku.
"Apa benar kak, kalau kita menanggis di depan jenazahnya. Serta air mata kita jatuh ke peti jenazah. Jiwa nya tidak akan tenang?" tanyaku
"Ya, kata orang gitu. Makanya kamu jangan nanggis. Candi kan sayang dengan Kak Arya. Jangan buat dia tidak tenang ya " kata Kak Bagus
"Kalau begitu besok aku akan menangis. Biar Kak Arya enggak tenang dan kembali lagi ke dunia." kataku
Kak Bagus pun lalu mendekapku. Tanggis ku semakin pecah. Berharap ini hanya mimpi buruk. Kami berdua lama duduk di kursi. Hingga akhirnya aku ngantuk juga. Tak terasa, aku sudah tidur di pangkuan Kak Bagus. Kakak pun membiarkan aku seperti itu. Dia tidak mau membangunkanku. Mungkin dia takut, jika aku bangun akan nanggis lagi. Dia lalu mengeluarkan hape dan menelpon seseorang.
^Bawakan kakak selimut^ kata Kak Bagus dalam telepon.
Aku tahu, pasti yang ditelpon adalah Sekar. Tak berapa lama Sekar datang sambil membawa selimut.
"Astagaaa... Cand..." kata Sekar yang langsung mendapatkan isyarat untuk diam.
"Jangan berisik, biarkan dia seperti ini. Kalau kita bangunkan. Kak Bagus takut nanti dia akan nanggis lagi. Dia baru saja bisa tidur. Mungkin pangkuan kakak bisa menenangkan dia." kata Kak Bagus
"Tapi apa kakak tidak capek semaleman nanti akan seperti ini?" tanya Sekar.
Dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan kakaknya. Dia takut kakaknya akan ikut sakit. Padahal besok pagi, pasti akan berat untuk Kak Bagus.
"Ngak papa... Kakak senang kok. Kakak nggak tega jika dia terus menanggis. Sekarang kamu masuk kamar dan temani tante. Nanti kalau tante tanya, kamu jawab saja kalau Candi bersama kakak. Tante nggak perlu mikir aneh - aneh. Kakak di halaman tengah." kata Kak Bagus
"Tapi kakak nanti kedinginan" kata Sekar
Bagus berusaha menjelaskan kepada Sekar. Akhirnya Sekar ngalah. Dia lalu masuk kamar lagi.
*
Matahari menyingsing, pukul 05.15 Sang Surya sayup - sayup keluar. Pantulan sinar surya membuatku menggeliat. Aku perlahan membuka mata. Betapa kagetnya aku. Aku melihat wajah tampan nya Kak Bagus. Aku sadar bahwa semalam aku tidur bersama Kak Bagus. Aku lalu mengusap pipi nya yang lembut itu.
"Kak Bagus, makasih ya, maafkan Candi." kataku
"Sama - sama, kakak senang kok jika selamanya kamu tidur di pangkuan kakak." kata Kak Bagus.
Aku pun kaget dan malu banget. Ternyata Kak Bagus sudah bangun.
"Kak, maaf aku tadi ..." kataku gugup
"Sssttt ... Kakak senang kamu bisa tersenyum. Meskipun hanya sebentar. Sekarang bangun ya, pegel ni paha kakak." katanya
"Apakah aku gemuk, kak?" tanyaku
Kami berdua pun lalu bercanda. Sejenak aku melupakan kesedihanku. Hingga akhirnya Sekar datang dan memintaku untuk mandi.
***
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih atas waktu nya. Jangan lupa untuk klik like, vote, dan rate ya.. jangan lupa tinggalkan jejak juga.
next :
Apakah Candi akan sanggup melihat jenazah Kak Arya?
jangan lupa beri masukan ya..
terimaaksih
With love
__ADS_1
Citralekha