
***Sebelum membaca, jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya.***
Happy reading
.
.
"Sssttt ... Kakak senang kamu bisa tersenyum. Meskipun hanya sebentar. Sekarang bangun ya, pegel ni paha kakak." katanya
"Apakah aku gemuk, kak?" tanyaku
Kami berdua pun lalu bercanda. Sejenak aku melupakan kesedihanku. Hingga akhirnya Sekar datang dan memintaku untuk mandi.
"Candi, Kak Bagus udahan ya saling bercanda nya. Kalian sebaiknya mandi. Sebentar lagi kita akan ke Ubud." kata Sekar
Aku pun lalu bangun dari pangkuan Kak Bagus. Jujur aku sudah tidak sabar ingin melihat Kak Arya. Aku tidak sabar melihat wajah usil nya ketika berhasil membuatku menanggis. Dia pasti sudah menyiapkan kejutan.
"Kakak tidak tega lihat nanti apa yang akan terjadi." kata Kak Bagus sambil melihatku
"Sama kak, Sekar juga. Nggak sanggup melihat Candika hancur." kata Sekar
"Kak Bagus nggak akan biarkan Candi hancur. Kita akan menjadi semangatnya." kata Kak Bagus.
*
2 jam kemudian.
Aku mencoba tersenyum, Sekar pun melihat ke arahku.
"Kamu senyum kenapa, Can?" tanya Sekar heran
"Aku sudah tidak sabar melihat wajah usil Kak Arya. Dia pasti sudah menyiapkan kejutan untukku." kataku
Aku tidak mendengarkan apa respon Sekar. Aku langsung mengambil tas dan segera keluar kamar. Sekar masih diam mematung.
"Sekar ayo buruan.. aku mau melihat Kak Arya." kataku
Di ruang tengah semua anggota keluarga sudah berkumpul. Kak Bagus menggunakan mobil sendiri. Dalam mobil itu, ada aku, Kak Bagus, mama, Sekar, dan Kak Pande.
*
Beberapa saat kemudian. Kami sampai di Ubud. Suasana rumah Ubud sangat ramai. Mereka semua menunggu kedatangan Kak Arya kembali. Kami sempat memiliki masalah. Ternyata Kak Arya adalah anggota puri. Sehingga tidak boleh sembarangan orang bisa masuk.
Kak Pande dan Kak Bagus menjelaskan kepada kerabat puri. Setelah negosiasi, akhirnya kami bisa masuk ke wilayah jeroan. Banyak sekali karangan bunga.
"Kak Arya tu totalitas banget ya dalam ngusilin orang." kataku
Mendengar perkataanku, Kak Bagus segera memelukku.
Aku merasakan butiran bening.
"Kak Bagus menanggis?" tanyaku
"Kakak sedih saja." kata nya
Aku pun lalu melihat - lihat keadaan rumah Kak Bagus. Aku menatap rumah Kak Arya. Banyak sekali terpajang foto - foto Kak Arya. Foto nya bersama Arlina. Hingga aku tiba - tiba disentuh pundakku.
"Maaf, siapa ya?" tanya seorang ibu
Aku pun lalu menoleh pada sang pemilik tangan. Ketika dia melihatku. Ibu itu kaget dan berteriak. Semua mata memandang ke arah kami. Aku pun jadi bingung, kenapa ibu itu histeris.
__ADS_1
"Ada apa bu?" tanya seorang bapak yang menggoyangkan pundak ibu itu.
Ibu - ibu yang lain datang sambil membawa minyak angin. Seorang lelaki bertanya pada ku.
"A - A - Arlina?" kata pemuda itu terbata - bata
"Aku bukan Arlina tapi Candika." kataku
Pemuda itu pun mematung tak bergeming. Terus memandang ke arahku.
"Ada apa Cok Devan?" tanya seorang ibu
Wanita itu lalu melihat ke arahku dan sama dengan yang lainnya.
"Arlina?" teriak wanita itu.
Aku pun lalu berlari dan mencari keluargaku. Tapi aku tidak melihat mereka. Aku semakin bingung kemana aku harus mencari. Tiba - tiba, Kak Bagus menarik tanganku. Dia memberikanku sebuah masker dan selendang.
"Pakai ini." kata Kak Bagus
Aku paham maksud Kak Bagus. Dia lakukan itu, agar aku tidak disebut dengan Arlina lagi. Ternyata pemuda dan beberapa ibu tadi masih mengejar.
"Tadi itu Arlina kan?" tanya ibu yang pingsan tadi
"Jangan ngaco, kita telah membuat upacara Ngaben untuk Arlina .Tidak mungkin itu dia. Kalian pasti salah lihat." kata seorang lelaki yang menggunakan pakaian serba putih.
Aku segera ditarik Kak Bagus untuk duduk di kursi tamu. Kami masih menantikan mobil yang membawa Kak Arya pulang dari Swedia.
*
Satu jam kemudian....
wiu wiu wiu
Semakin lama semakin jelas, suara ambulance itu. Dan... tepat lurus di depanku. Ambulance itu berhenti. Semua orang menyambut ambulance itu. Aku mendengar suara tangisan yang mulai pecah. Ambulance itu dikawal oleh barikade TNI dan Polisi.
Aku berusaha tersenyum tegar dan berharap ini hanya mimpi. Mataku tak lepas dari pintu belakang ambulance itu. Pintu nya terbuka dan ku dapati sebuah peti jenazah terbuat dari kayu jati.
Iringan itu berjalan melewatiku. Jantungku berdetak sangat kencang. Mataku mengikuti peti jenazah itu disemayamkan di dalam sebuah gedong. Orang masih terus memadati gedong itu. Kumandang suara mantra - mantra suci kematian terdengar semakin keras.
2 jam kemudian ...
"Candi, ayo kita ke balai utama." kata Kak Pande.
Kami kemudian mengikuti langkah kaki Kak Pande. Dia menemui Kak Ayu. Begitu melihatku, Kak Ayu langsung memeluk.
"Maafkan kakak ya, kakak nggak bisa jaga Bli Arya." katanya sambil menanggis.
Aku masih diam dan berusaha tidak mencerna apa maksudnya. Air mataku luruh tak tertahan. Tapi bibirku diam seperti terkunci. Dadaku sesak sekali, hingga Kak Ayu memperkenalkan aku dengan ayahnya Kak Arya.
Om Cok Devananda menyapaku. Tapi posisi aku tidak membuka masker.
"Maaf om, adik kami sedang flu. Sehingga masker nya tidak dibuka." kata Kak Bagus.
Kebohongan macam apa itu. Kak Bagus lalu meminta izin untuk masuk ke kamar jenazah. Awalnya berat banget kaki ku melangkah. Tapi ini harus aku lakukan. Aku penasaran siapa sebenarnya lelaki yang ada di dalam peti jenazah itu.
* Sampai ruang jenazah.
Aroma dupa, harus bunga, serta lilin ada di ruang itu. Aku melangkahkan kakiku. Pada ujung peti itu terdapat sebuah bingkai foto. Bingkai itu berisi foto tampan nya Kak Arya.
"Apakah boleh di buka peti jenazahnya?" tanya Kak Bagus.
__ADS_1
"Tapi kata ajik Devananda peti jenazah ini tidak boleh di buka." kata seorang pemangku
Pemangku adalah pemimpin upacara yang memiliki posisi di bawah Pandita. Tugasnya adalah membantu Pandita memimpin sebuah ritual.
"Tapi kenapa pak? kami sudah minta izin." kata Kak Bagus.
"Maaf tuan, tapi tidak bisa." kata pemangku itu
Aku pun lalu hanya menatap Kak Bagus. Setelah itu aku duduk di samping ujung peti itu. Tanganku lalu mengusap peti itu.
"Kak Arya, ini aku adikmu, Candika. Aku kangen sama kakak. Buka mata mu, Kak. Aku kangen kamu." kataku dalam hati
Tiba - tiba aku merasakan gelap. Lalu aku membuka mata. Aku berada di sebuah taman bunga. Aku melihat seorang lelaki berpakaian putih sedang membelakangiku.
Aku tahu siapa lelaki itu. Aku langsung datang dan memeluknya dari belakang.
"Kakak, aku kangen kamu." kataku
Lelaki itu lalu membalikan badan. Dia tersenyum manis sekali.
"Kakak juga kangen adik." kata nya
"Kakak Ayo pulang sama Candi. Kita akan hidup bahagia nanti nya Kak." kataku
"Kamu harus kuat sayang. Percayalah pada kakak. Kakak sangat mencintaimu. Kamu harus jadi anak yang membanggakan. Aku akan tetap bersamamu. Kamu harus belajar dan menjadi orang sukses." kata Kak Arya
Aku tidak mau melepaskan pelukan itu. Meskipun hanya sebentar. Aku nggak akan pernah melakukan itu.
"Candi, Kakak akan antarkan kamu pulang." kata Kak Arya.
"Hah? kita akan kembali bersama - sama. Aku juga sangat sayang kakak. Ayo kita hidup bahagia. Adik mau ke LN bersama kakak. Kakak sudah janji lho, mau membawa adik ke Swedia." kataku
"Iya sayang ... Kakak akan kembali, percayalah. Sekarang kamu pulang ya." kata nya
Aku perlahan mulai mendengar orang menangis dan menyentuh lenganku.
"Candi, bangun nak" kata mama sambil menanggis.
Aku perlahan membuka mata dan lalu tersenyum.
"Kak Arya bilang, dia akan kembali." kataku
"Iya sayang, dia pasti kembali." kata Sekar
Dia langsung memelukku dan menanggis. Dalam pelukan sekar, aku melihat Kak Arya sedang tersenyum. Dia berjalan ke arah balai jenazah. Aku tersenyum dan terus menyaksikan hal itu. Bayangan kak Arya masuk di dalam peti kayu itu.
"Aku yakin, bentar lagi Kak Arya akan bangun. Dia sudah kembali." kataku
Kini mamaku ikut menanggis dan memelukku.
***
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih atas waktu nya. Jangan lupa untuk klik like, vote, dan rate ya.. jangan lupa tinggalkan jejak juga.
next :
Apakah Kak Arya akan bangun atau itu hanya pertanda kalau Arya benar - benar meninggal?
jangan lupa beri masukan ya..
terimaaksih
__ADS_1
With love
Citralekha