
Malam ini Raya melepaskan rasa rindunya kepada mamanya. Ia menceritakan semua kegiatan selama berpisah dengan mamanya. Baru beberapa hari Naura tak memantau anaknya ternyata sekarang Raya sudah memiliki banyak kosakata. Terlebih saat Raya bertanya mengapa ia tak punya papa. Saat itu juga detak jantung Naura seakan ingin berhenti. Ia tak tahu mengapa tiba-tiba Raya bertanya seperti itu, padahal sebelumnya Naura sudah menjelaskan jika papanya sudah tidak ada, dalam artian dia tidak mengatakan jika papanya telah meninggal.
"Raya kok bertanya seperti itu, Nak?" tanya Naura gugup.
"Karena semua teman-teman saya di sekolahan mempunyai papa. Kak Khanza juga mempunyai papa begitu juga dengan Alma, tetapi mengapa Raya tidak punya?" tanya Raya.
"Karena papa Raya sudah meninggal, Sayang," ujar Naura dalam kebohongannya.
"Lalu mengapa mengapa Mama tak pernah mengajak Raya ke makam papa?"
Kali ini Naura terpojok akan ucapannya. Bagaimana ia akan mengajak Raya ke makam papaknya sementara papanya saja masih segar wal afiat.
"Ya udah kapan-kapan Mama akan bawa kamu ke makam papa tapi sekarang kamu bobok dulu ya! Ini sudah malam, kan besok mau sekolah." Naura mencoba untuk mengalihkan pembicaraan agar Raya tak terus-menerus membahas tentang papanya. Dengan patuh bocah itu pun menuruti ucapan Naura untuk tidur.
Sepanjang malam Naura sulit untuk memejamkan matanya. Pertanyaan Raya masih terngiang-ngiang dalam pikirannya. Ditambah lagi dengan ucapan kakaknya yang mengatakan jika Raya masih membutuhkan kasih sayang dari seorang ayah. Malam ini pikirannya kacau sehingga ia tak bisa tidur.
Dalam kegelisahannya, tiba-tiba ponsel Naura berdering. Ia mengernyit ketika nomor tanpa nama mengambang di layar ponselnya. Karena hari sudah larut, Naura memilih untuk tidak mengangkat panggilan tersebut. Namun, nyatanya sang menelepon tak merasa putus asa hingga Naura mau mengangkat panggilannya.
"Siapa, sih? gerutunya.
Karena merasa penasaran akhirnya Naura mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1
"Halo," kata Naura.
Suara dari seberang membuat dada Naura berdebar dengan kuat. Siapa lagi jika bukan Arya. Entah ada keperluan apa tengah malam Arya menghubunginya.
"Ada apa, Om?" tanya Naura datar.
"Aku hanya tak bisa tidur dan bayanganmu memenuhi pikiranku. Apakah kamu baik-baik saja?"
"Om gak usah khawatir, aku baik-baik saja. Jika tidak ada keperluan lain, aku akan menutup teleponnya," ketus Naura.
Namun, siapa yang menyangka jika dari seberang sana Arya memohon kepada Naura agar tidak mematikan telepon terlebih dahulu, karena ia masih ingin mendengarkan mendengar suaranya.
Naura yang mendengar hanya menelan kasar salivanya. Jika hanya untuk membuktikan bahwa dirinya tidak mandul, mengapa tidak membuktikan dengan wanita lain yang jauh lebih cantik daripada dirinya. Mengapa harus dirinya?
"Na, kamu masih dengar kan?"
"Iya, aku masih dengar. Om, sudah aku katakan sebelumnya jika aku tidak bisa menikah dengan Om Arya. Tolong mengertilah, Om!" Naura masih bersikukuh dengan pendiriannya.
"Tapi mengapa, Na?"
"Maaf Om, aku harus beristirahat." Detik kemudian Naura memilih untuk menutup panggilannya, karena jika diteruskan pembicaraan mereka tidak akan pernah ada habisnya. Arya akan terus memaksa Naura untuk menikah dengannya.
__ADS_1
Baru saja Naura ingin merebahkan tubuhnya, ia dikejutkan dengan raya yang telah menatapnya.
"Mama sedang bertelepon dengan siapa?" tanyanya.
Lagi-lagi Naura harus menelan kasar salivanya. Ia tak tahu sejak kapan Raya terbangun.
"Kamu bangun, Sayang?" tanya Naura gugup.
"Mama, jawab pertanyaan saya! Mengapa Mama tidak mau menikah dengan Om Arya? Apakah benar jika Raya adalah anak haram yang tak memiliki ayah?"
Pertanyaan yang membuat jantung Naura hendak terlepas kembali. Bagaimana bisa Raya berpikir sejauh itu di usianya yang baru menginjak enam tahun. Pasti ada seseorang yang telah memprovokasi pikiran Raya.
"Kok Raya bisa berpikir seperti itu?"
"Karena ada teman Raya yang mengatakan jika tak punya ayah berarti dia anak haram. Apakah benar jika Raya anak haram?"
Naura benar-benar sangat terkejut dengan pengakuan Raya. "Astaghfirullahaladzim, Nak. Itu tidak benar, Sayang." Naura segera memeluk tubuh Raya sambil menitihkan air matanya. Ia tak menyangka jika pertanyaan itu bisa keluar dari bibir Raya.
Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku terlalu egois sehingga aku tidak memikirkan bagaimana perasaan Raya. Apakah saat ini Engkau sedang memberi isyarat agar aku menerima ajakan Om Arya untuk menikah?
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1