
Langkah Naura ditahan oleh seorang penjaga keamanan. Pria itu melarang Naura untuk masuk atas perintah atasannya. Naura hanya tersenyum kecil pada pria yang ada di hadapannya.
"Mentang-mentang orang kaya sesuka hatinya mempermainkan orang lain. Jika tidak ingin menerima, untuk apa memberikan kabar palsu!" geram Naura.
"Anda bukan di larang masuk karena bos kami ingin bertemu dengan Anda. Beliau sudah menunggu Anda di mobil. Mari saya antar," ujar pria bertubuh tegap itu.
Naura tidak tahu apa yang akan direncanakan oleh Arya selanjutnya.
"Silahkan!" ujarnya lagi saat membukakan pintu untuk Naura.
Didalam mobil terlihat Arya sudah menegang setir kemudinya dan siap untuk menancapkan gasnya. Naura yang baru masuk langsung disuruh untuk memasang sabuk pengamannya.
"Kita mau kemana?" tanya Naura datar.
"Tak usah banyak tanya, sekarang pasang saja sabuk pengaman dengan bener!" perintahnya.
Naura tak tahu akan dibawa kemana dirinya saat ini. Jika melihat ekspresi wajah Arya seperti sedang tidak baik-baik saja. Karena tak ingin berdebat, akhirnya Naura memilih untuk diam.
__ADS_1
Tak terasa 30 menit telah berlalu dan saat ini mobil Arya memasuki halaman rumah sakit yang besar. Setelah mematikan mesin mobil, Arya menatap tajam kearah Naura.
"Didalam sana mamaku sedang terbaring lemah tak berdaya. Aku hanya ingin meminta bantuanmu, katakan kepadanya jika kamu pernah mengandung anakku agar dia tak berpikir jika aku pria man.dul. Jika kamu bisa meyakinkannya, aku berjanji tak akan menggangumu lagi. Dan jika dia percaya, tolong bantu aku untuk melakukan sebuah sandiwara. Aku akan menggajimu jauh lebih besar dari gaji karyawan yang aku miliki," ujar Arya panjang lebar.
Tangan Naura bergemetar saat hendak membuka sabuk pengamannya. Namun ia tidak peduli dengan keadaan mamanya Arya, yang ia pedulikan adalah janji Arya yang tidak ingin menganggunya lagi setelah ini.
"Apakah kamu tahu apa yang harus kamu lakukan di dalam sana?" tanya Arya.
Naura menggeleng pelan karena ia memang tidak tahu apa yang harus ia lakukan didalam sana.
"Baiklah akan aku jelaskan." Perlahan, Arya memberi tahu apa yang akan ia lakukan didalam sana nanti.
"Please, Na. Untuk kali ini aku memohon padamu, berpura-puralah untuk menjadi pasanganku. Semua yang kamu lakukan tidakkah gratis, aku akan membayarnya," pinta Arya penuh harap.
"Aku akan membantu Om Arya, tapi aku ingin perjanjian kita tertulis. Aku tidak ingin membuatku rugi waktu, rugi tenaga dan rugi semuanya," pinta Naura.
Tak ada pilihan lain, Arya pun menyetujui permintaan Naura. Namun, ia mengatakan akan mengurus perjanjianya dengan Naura setelah menjenguk mamanya terlebih dahulu.
__ADS_1
Sesampainya di sebuah ruang rawat, terlihat wanita tua yang sedang tergeletak lemah tak berdaya. Naura juga melihat pria dengan rambut yang sudah memutih duduk menemani istrinya. Sungguh cinta yang sejati, pikir Naura.
"Arya, akhirnya kamu datang juga," sambut pria tua itu.
"Bagaimana keadaan mama, Pa?"
"Dia baru saja memejam setelah minum obat." Saat itu juga mata pria tua itu menatap kearah Naura. "Siapa dia?"
"Dia adalah Naura, wanita yang pernah mengandung anak Arya, meskipun keguguran," jelas Arya.
Dengan penuh rasa sopan, Naura segera menyalami pria tua yang di panggil papa oleh Arya. Naura tak menyangka jika kedua orang tua Arya sudah tua.
Ah, kenapa aku sampai melupakan jika Om Arya itu adalah seorang duda. Bahkan Om Arya dulu adalah hot duda. Meskipun sudah hampir menginjak kepala 4, tetapi aura om Arya masih berkilau. Astaghfirullahaladzim," batin Naura.
"Arya juga akan memberikan kabar baik untuk kalian jika Arya sudah siap untuk menikah dan akan memberikan apa yang kalian inginkan, karena sejatinya Arya bukanlah pria man.dul!" jelas Arya pada papanya.
.
__ADS_1
.
Bersambung