
Setelah mengantar Raya ke sekolah, ponsel Naura kembali berdering. Siapa lagi jika bukan Arya yang meneleponnya. Dengan cepat Naura mengangkat panggilan tersebut.
"Na, bisakah kamu ke rumah sakit sekarang. Mamaku sudah sadar dan ingin bertemu denganmu." Suara dari seberang telepon.
Naura masih terdiam. Ia ragu ingin memberi keputusan apa kepada Arya. Dirinya takut jika ini hanyalah jebakan untuknya agar ia mau menyetujui ajakan pernikahan Arya.
"Tapi Om, aku sedang sibuk," kilah Naura.
"Na, please untuk kali ini aja. Mungkin ini yang terakhir kalinya mamaku melihatmu. Beri dia satu kesempatan untuk melihatmu, Na."
Hati Naura semakin goyah. Dengan berat hati ia pun menyetujui permintaan Arya. Sebenarnya ia juga merasa tak tega jika melihat kondisi mamanya Arya yang sedang berjuang untuk hidup dan matinya. Namun, rasa sakit yang telah ditorehkan oleh Arya mampu menutup pintu hatinya, hingga ia tak bisa melihat lagi ketulusan yang diberikan oleh Arya.
Sesampainya di rumah sakit Naura segera menuju ke tempat dimana mamanya Arya dirawat. Di sana ia bisa melihat jika wanita tua yang terbaring di ranjang rumah sakit sudah bisa membuka matanya. Dengan langkah ragu ia mencoba untuk mendekat.
"Selamat pagi semua," sapanya.
Arya segera menoleh ke belakang lalu menyunggingkan senyum di bibir saat melihat Naura benar-benar datang.
"Na, kemarilah!"
Wanita tua yang berstatus sebagai mamanya Arya hanya melihat Naura tanpa kata. Bukan tidak mau berbicara tetapi memang ia kesulitan untuk membuka mulutnya.
__ADS_1
"Ma, dia adalah Naura. Wanita yang pernah mengandung anak Arya, tetapi Tuhan berkata lain. Anak Arya meninggal saat berada di dalam kandungannya. Jadi Mama jangan menganggap jika Arya itu man.dul. Mama tenang saja, keluarga kita tidak akan terputus, karena Arya masih bisa memberikan keturunan. Mungkin untuk saat ini belum Arya belum menemukan orang yang benar-benar tulus mencintai Arya. Kebanyakan dari mereka hanya mengincar harta kita. Tapi Mama percayalah, suatu saat nanti Arya akan menemukan orang yang benar-benar tulus kepada Arya," jelas Arya panjang lebar.
Sang mama hanya bisa meneteskan air mata, tanpa kata. Tangannya pun ingin terulur untuk menyentuh Naura, tetapi tak bisa.
"Mama stroke dari 6 tahun lalu. Ia tidak sanggup untuk menghadapi cibiran dari teman-temannya," ujar Arya lagi.
Penjelasan Arya membuat Naura kesusahan untuk menelan salivanya. Ia tidak menyangka jika gosip yang menimpa Arya akan berdampak buruk kepada mamanya. Apakah ini termasuk karma?
Tanpa disadari, air mata Naura juga menit begitu saja. Ia pun menggenggam tangan namanya Arya.
"Maafkan saya, Bu. Andaikan saja saat itu saya tidak menghilang, mungkin keadaan ibu tidak akan seperti ini," sesal Naura. Sungguh hatinya mendadak tersayat ketika melihat keadaan mamanya Arya yang tak berdaya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya selama 6 tahun mengalami stroke, dan kini kesehatannya juga dinyatakan menurun.
"Sekarang Mama percaya kan, jika Arya tidaklah man.dul? Suatu saat Arya pasti akan memberikan apa yang Mama inginkan. Mungkin ini adalah sebuah karma untuk Arya karena telah menyia-nyiakan Naura saat itu. Arya bodoh, Arya menyesal, Ma."
Tangan papanya pun mengusap punggung Arya. "Tak ada gunanya kamu untuk menyesali dan menangisi waktu yang telah berlalu. Jika kamu ingin bertanggung jawab, nikahi Naura!"
Arya hanya bisa membuang nafas kasarnya. Tanpa disuruh pun ia sudah meminta Naura untuk menikah dengannya, tetapi wanita itu masih menyimpan luka di hati sehingga ia menolak ajakan Arya.
Naura sangat dilema. Saat hatinya telah tertutup rapat untuk Arya, tiba-tiba ada celah kecil yang mencoba untuk membukanya dan menggoyahkan hatinya.
"Naura, sebagai permintaan terakhir dari mamanya Arya, maukah kamu untuk menikah dengan Arya yang sudah memberikan luka mendalam dalam hatimu?" Pertanyaan yang begitu menyengat di telinga Naura.
__ADS_1
"Jika kamu mau menikah dengan Arya, semua kekayaan yang kami miliki akan menjadi milikmu, karena Arya adalah satu-satunya anak yang kamu miliki," lanjut Papanya Arya.
"Jika hanya untuk menaikkan seorang anak, mengapa tidak mencari wanita lain saja? Mengapa harus aku?" tanya Naura dengan bibir yang bergetar.
"Untuk masalah itu kamu bisa tanyakan langsung kepada Arya mengapa dia tidak mau memilih dari sekian wanita untuk mengandung anaknya agar bisa membuktikan bahwa dirinya bukanlah pria man.dul. Tetapi dengan bodohnya, dia memilih untuk menunggumu, berharap kamu datang dengan membawa anaknya," jelas Papanya Arya.
Om Arya, maafkan aku. Sebenarnya aku tidak pernah mengalami keguguran. Dan aku berhasil melahirkannya dengan selamat. Saat ini dia sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik.
Kata itu hanya tertahan di dalam tenggorokan Naura. Begitu sulit dia ingin mengungkapkan kebenarannya kepada Arya, jika saat ini anaknya sudah menginjak usia 6 tahun.
Keadaan mendadak menjadi hening. Naura masih membisu, ia belum bisa memberikan keputusan atas tawaran yang diberikan oleh papanya Arya. Namun, keheningan itu harus terpecahkan karena suara ponsel Naura berdering. Sebuah panggilan dari guru Raya. Karena tak ingin didengar oleh Arya maupun Papanya, Naura meminta izin keluar untuk mengangkat panggilan teleponnya.
Selamanya di luar ruangan, Naura segera mengangkat teleponnya.
"Halo, Miss?" tanya Naura langsung.
Mata Naura terbelalak tak percaya dengan dada yang terasa sesak.
"Apa Miss, Raya kecelakaan?" tanya Naura yang ingin memastikan lebih jelas.
...#BERSAMBUNG#...
__ADS_1