Belenggu Cinta Yang Semu

Belenggu Cinta Yang Semu
Bab 30 | Harapan Baru


__ADS_3

Perlahan dengan berjalannya waktu kepergian Raya sudah bisa diterima oleh Naura, meskipun belum bisa sepenuhnya. Raya adalah anugerah terindah yang pernah dimiliki oleh Naura. Hadirnya mampu menjadi penyangga dalam keterpurukannya kala itu. 


Seiring dengan waktu yang berjalan dengan cepat, cinta diantara dua insan yang berbeda usai mulai tumbuh dan berkembang, meskipun Arya tak bisa mengucapkan kata-kata romantis. Namun, kali ini cintanya untuk Naura benar-benar sangat tulus. Begitu juga dengan Naura yang sudah menunjukkan kasih dan cintanya pada Arya. 


Cinta beda usia kadang membuatnya merasa menjadi sugar baby. Namun, Naura sangat menikmatinya, terlebih Arya memerlukan Naura layaknya ratu dalam istananya. Mungkin itu adalah salah satu cara Arya untuk menebus kesalahan yang pernah ia lakukan pada Naura di masa lalu.


"Om, bangun!" Naura menggoyangkan lengan Arya yang masih terlelap.


Dengan mengerjap pelan, Arya melihat sosok wanita dengan balutan handuk di kepalanya sudah berdiri di hadapannya. Sebuah handuk juga sudah berada ditangannya.


"Bisa gak nambah lima menit lagi. Aku masih ngantuk," ucap Arya dengan malas.


"Terserah Om Arya aja. Tapi setidaknya Om Arya lihat dulu jam berapa sekarang." Naura menunjukkan ponselnya pada Arya, dimana terlihat dengan jelas pukul berapa saat ini.


Arya yang awalnya santai, tiba-tiba langsung terperanjat saat melihat angka jam yang berada di layar ponsel.

__ADS_1


"Seriusan, Na! Gak mungkin udah jam delapan! Perasaan aku baru saja tidur." Arya langsung bergegas menuju kamar mandi. 


Seumur-umur ia tak pernah bangun siang seperti saat ini. Semua terjadi setelah dua jam yang lalu Arya kembali tidur setelah memberikan suntikan vitamin pada Naura.


"Kamu kenapa gak bangunin aku dari tadi, Na!" protes Arya yang hendak masuk ke kamar mandi.


"Bukan nggak mau bangunin, Om Arya aja yang ga mau bangun. Tiap dibangunin minta pertambahan waktu lima menit. Ya, apa boleh buat, Om," balas Naura apa adanya.


Berulang kali Naura harus mende.sah dengan kasar saat ia harus mengejar waktu. Bagaimana tidak, seharusnya saat ini ia sudah memimpin rapat. Namun kenyataannya ia baru saja selesai mandi. 


"Na, aku tidak sempat lagi untuk sarapan. Tolong kamu buatkan aku bekal ya!" 


Setelah membantu memasangkan dasi pada Arya, Naura pun segera turun untuk menuju ke dapur untuk menyiapkan bekal suaminya. Meskipun tidak sempat untuk sarapan di rumah, tetapi setidaknya Arya masih mau membawa bekal, sekalipun ia adalah seorang bos.


Melihat langkah Arya yang tergesa-gesa membuat Naura hanya bisa mendengus dengan kasar. "Om pelan-pelan!" ucapnya pada Arya.

__ADS_1


"Gak bisa lagi, Na. Aku harus segera sampai ke kantor. Pagi ini aku harus memimpin rapat," kata Arya yang hendak memakai sepatunya.


"Makanya kalau dibangunin itu bangun. Kan jadi repot sendiri!" 


"Semua karena kamu juga, Na!"


Mendengar dirinya disalahkan oleh Arya, Naura langsung mengangkat kedua alisnya. "Kok jadi aku yang disalahin sih, Om! Kan Om Arya sendiri yang gak mau bangun!"


"Masalahnya kalau pagi, kamu selalu menggoda. Kan aku jadi khilaf. Sudah kita lanjutkan lagi perdebatan kita setelah pulang kerja nanti ya. Sekarang aku berangkat dulu!" Satu kecu.pan mendarat di kening Naura.


Naura hanya pasrah saat sang suami memilih mengalah dari pertanyaan. "Baiklah Om Arya hati-hati di jalan. Meskipun sudah terlambat jangan ngebuat ya! Jangan lupa juga pulang kerja bawa martabak. Awas kalau lupa! Siap-siap tidur di luar!" 


Arya tertawa pelan. Sudah satu Minggu, Naura selalu saja meminta oleh-oleh saat dirinya pulang kerja dengan sebuah mantra yang mujarab. Mana mungkin Arya mau tidur diluar saat diatas tempatnya ada wanita yang menggoda.


"Tenang saja, aku tidak akan lupa. Aku berangkat ya."

__ADS_1


Sebuah lambaian tangan mengiringi mobil Arya meninggalkan halaman rumah.


__ADS_2