Belenggu Cinta Yang Semu

Belenggu Cinta Yang Semu
Bab 31 | Kabar Bahagia


__ADS_3

Seiring dengan berjalannya waktu, hubungan Arya dan juga Naura semakin hangat, meskipun Arya tak bisa menciptakan suasana yang romantis. Namun, ia sangat mencintai Naura. Begitu coba dengan Naura yang telah melupakan semua masa lalu yang kelam, karena saat ini ia hanya ingin bahagia dengan kehidupan barunya, meskipun tanpa Raya.


Cinta dan ketulusan mampu mengubur luka yang pernah menggores bahkan mampu menghidupkan semangat yang telah patah.


"Sayang, kamu sakit?" tanya Arya saat melihat Naura masih berselimut di atas tempat tidur.


"Sepertinya begitu, Mas. Kepalaku pusing dan tubuh terasa lemas. Maaf aku tak bisa keperluanmu dan sarapanmu ya, Mas," ucap Naura.


"Tidak apa-apa. Apakah kita harus ke dokter?"


"Gak usah, Mas. Mungkin ini karena kemarin gak makan, makanya pusing."


Arya memang tahu beberapa hari terakhir ini, Naura tidak mau makan karena setiap makanan yang masuk ke dalam perutnya akan selalu dimuntahkan kembali. Saat hendak diajak untuk berobat, Naura menolaknya dengan alasan mungkin hanya sekedar kelelahan. Karena Arya tak ingin memaksa, ia pun menurut dengan Naura.


"Sayang, kayaknya kamu saat ini kelebihan suntikan vitamin sehingga seperti ini. Kita cek ke dokter, ya. Aku takut feeling aku ini benar," ujar Arya sambil memasang dasinya.


"Maksud Mas Arya?"


"Ini hanya feeling aku aja sih, Sayang. Jangan-jangan kamu hamil."


Naura segera menyibakkan selimut yang masih membungkus tubuhnya. matanya mengedar untuk menata Arya. Sejenak cara mengingat kapan terakhir ya kedatangan tamu bulanan. Setelah disadari jika kamu itu telah berlalu selama 2 bulan, jantung Naura berdegup lebih kencang.


Dengan mata yang membulat Naura berkata, "Jangan-jangan memang seperti itu, Mas. Karena sudah 2 bulan tamu itu tidak datang," ujar Naura.


Mendengar ucapan Naura, Arya langsung berbalik kearah Naura dengan mata yang berbinar. "Benarkah? Sayang, hari ini aku gak mau tahu, kita harus periksa ke dokter!"


Naura hanya mengangguk pelan dengan bibir tersenyum tipis di bibirnya. Berharap harapannya kali ini tidak mengecewakan dirinya.


Pagi ini terpaksa Arya menunda rapat paginya karena ingin mengantarkan Naura untuk memastikan jika saat ini sang istri sedang berbadan dua. Dirinya tidak sabar lagi untuk melihat Naura tersenyum kembali dengan hadirnya sosok pengganti yang telah hilang. Mungkin ini adalah hadiah untuk mereka berdua setelah melewati beberapa cobaan dan ujian yang datang.


"Mas, jika kelak hasil tak sesuai dengan keinginan, kamu jangan kecewa, ya." Naura malah menjadi ragu saat hendak masuk ke ruang periksa.


"Aku tidak akan kecewa, karena aku akan mencoba terus sampai berhasil," celoteh Arya.

__ADS_1


Dengan jantung yang berdebar, Naura memberanikan diri untuk masuk ruang periksa. Ia takut jika ternyata dirinya tidak hamil. Pasti Arya akan merasa kecewa untuk kesekian kalinya.


"Kalian lagi?" tanya seorang dokter yang hendak memeriksa Naura.


Naura tersenyum canggung. Tentu saja sang dokter sang hafal dengan Naura karena ini adalah kali ketiga sang dokter untuk memeriksa Naura.


Dengan tawa kecil Naura berkata, "Iya, Dok."


"Jadi, apakah kali ini sudah yakin?"


"Mudah-mudahan, Dok," ujar Naura penuh harap.


Karena Naura sudah siap untuk melakukan pemeriksaan, sang dokter pun langsung memeriksa Naura. Senyum kecil terukir dibibir dokter yang sedang memeriksa Naura. Kali ini harapan pasiennya bener-benar terwujud.


"Selamat, kali ini kamu tidak salah lagi, karena kamu memang sedang hamil," ujar sang dokter.


Mendengar penuturan dari dokter, Arya segera memeluk Naura. Harapannya ingin memiliki anak akhirnya terkabulkan juga.


"Sayang, kamu hamil," ucapnya.


Author : Selamat berbahagia Naura ❤️


...END...


Terima kasih telah menemani novel ini hingga tamat. Jangan lupa baca juga novel othor yang berjudul KISAH YANG TERTINGGAL dijamin seru ceritanya 🙏


Hanya cuplikan Bab!


Baru saja kaki Bunga hendak melangkah ke dalam ruangan, tiba-tiba sesosok dari belakang menerobos diantara Bunga dan Candra yang hendak masuk.


"Aduh .... " Bunga mengaduh karena bahunya terasa sedikit sakit akibat ditabrak begitu saja.


Tak ada kata maaf, seorang pria yang menabrak Bunga langsung nyelonong untuk duduk ditempatnya.

__ADS_1


"Bunga, kamu gak papa kan?" Candra memastikan.


Bunga menggeleng dengan pela sambil mengelus bahunya. "Aku enggak apa-apa, kok. Siapa sih, dia? Kayak aku gak pernah liat dia di kelas ini deh," gumam Bunga.


"Dia anak baru, tapi songong," celetuk Candra. Karena kesal tak ada permintamaafan dari mahasiswa baru, Candra langsung berteriak, "Hei ... anak baru, jangan sok belagu! Minta maaf enggak sama Bunga!"


"Udahlah, Can! Aku enggak apa-apa." Bunga berjalan pelan untuk menuju ke bangkunya.


Sejenak, mata Bunga langsung terperanjat saat melihat sosok yang dikatakan mahasiswa baru oleh Candra. Sosok yang begitu familiar untuknya. Dari bentuk wajah, bola mata hingga bibir, Bunga masih bisa mengenalinya, meksipun telah lima belas tahun berlalu. Kali ini Bunga tidak salah untuk mengenali, karena tak banyak yang berubah dari pria itu.


Seketika jantungnya berdetak lebih kencang saat menyadari jika mahasiswa baru itu tak lain adalah teman semasa kecilnya dulu. Bibirnya terasa kelu untuk menyebut nama Alvaro.


"Ngapain kamu lihatin aku?" ketusnya pada Bunga.


Bunga hanya bisa menelan kasar salivanya. Belum sempat Bunga bersuara, dosen pengajar sudah masuk kedalam ruangan. Ingin sekali Bunga menyapa Alvaro dan menanyakan bagaiman kabarnya. Dengan siapa dan dimana dia tinggal saat ini. Sungguh segudang pertanyaan memenuhi kepalanya.


"Bunga kamu baik-baik aja kan?" tanya Chandra yang merasakan kegelisahan Bunga.


"Aku enggak apa-apa kok, Can," jawab Bunga dengan gugup.


Bersamaan dengan itu mahasiswa yang tak lain adalah Alvaro hanya melirik sekilas kearah Bunga yang kebetulan duduk di sampingnya.


Alvaro yang ternyata juga masih mengingat wajah Bunga, tak sedikitpun ingin menanyakan kabar Bunga. Bahkan Alvaro terlihat seperti orang yang tak mengenali Bunga.


Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi. Jika aku tau dia kuliah disini, aku tidak akan pindah ke universitas ini.


Hampir 45 menit Bunga menahan diri dan ketika materi telah usai, dia pun segera menghadap kearah Alvaro yang sedang mengemasi perlengkapannya.


"Kamu Alvaro kan? Masih ingat sama aku enggak? Aku Bunga, teman sewaktu kita sekolah di TK." Bunga berusaha menyapa Alvaro lebih awal karena kepalanya sudah tak sanggup untuk menampung berbagai pertanyaan yang dipikirkan.


Dengan ketus, Alvaro menjawab, "Maaf, aku enggak ingat." Kemudian dia pun beranjak pergi meninggalkan Bunga.


Dada Bunga kembali berdenyut. Rasanya sangat nyeri hingga ulu hati. "Mengapa Varo tidak mengingatku? Apakah aku telah banyak berubah hingga dia sama sekali tak mengenaliku?" pikir Bunga dengan heran

__ADS_1



__ADS_2