
Mendengar kabar tentang kesehatan Raya yang memburuk, Zahra dan keluarganya langsung meluncur ke rumah sakit. Mereka semua tak percaya karena beberapa hari yang lalu Raya masih terlihat baik-baik saja. Namun, mengapa sekarang malah datang kabar yang membuat shock.
Deena yang mendengar kabar tersebut tak kalah terkejut. Bukannya seharusnya Calline yang mengendalikan tubuh Raya, tetapi mengapa tiba-tiba Raya bisa kondisi Raya memburuk. Denna pun langsung mencari boneka kesayangannya untuk dibawa ke rumah sakit.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepada Raya, Mas?" tanya Zahra pada Kanna yang baru saja ikut menangani kasus pembobolan rumah Arya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi kepada Raya. Saat aku ikut melakukan penangkapan, disana tak terlihat Raya. Mungkin saja Raya memang sudah berada di rumah sakit," ujar Kanna.
Zahra membenarkan ucapan suaminya. "Mungkin juga seperti itu. Tetapi mengapa mereka tak memberitahu kita jika Raya masuk rumah sakit lagi. Mereka benar-benar egois." Zahra mendengus kasar.
Ketiga anak Zahra turut ikut ke rumah sakit karena mereka ingin melihat keadaan Raya yang dikatakan memburuk. Padahal baru dua hari yang lalu Raya ke sekolah dalam keadaan baik-baik saja, tetapi mengapa sekarang tidak baik-baik saja?
"Ma, bisa minta tolong hubungi juga papa Alzam?" pinta Deena tiba-tiba.
__ADS_1
Zahra yang awalnya masih merasa kesal langsung menoleh kebelakang. "Ada apa? Mengapa kamu ingin menghubunginya?"
"Ra, kok gitu sih? Kamu kalau lagi kesal sama seseorang jangan dilampiaskan kepada anak-anak. Dia nggak tahu apa-apa, Za. Mungkin saja niat Deena baik, dia ingin memberitahu Alzam jika saat ini keadaan saya," timpal Kanna yang tidak terima dengan pernyataan Zahra.
"Belain terus biar anaknya makin manja!" ujar Zahra yang kemudian membalikkan posisi duduknya lagi.
Kanna hanya bisa mede.sah kasar. Hanya karena Naura tidak memberitahu keadaan Raya sebelumnya, memuat Zahra melampiaskan kekesalannya pada semua orang. Namun, detik berikutnya Kanna menyadari jika saat ini Zahra sedang kedatangan tamu bulanan. Pantas saja jika saat ini dirinya lebih sensitif.
"Dee, kamu hubungi sendiri ya. Papa lagi nyetir." ujar Kanna sambil menyerahkan ponselnya pada Raya.
"Semoga berhasil," gumam Deena setelah berhasil menghubungi papa kandungannya.
Seketika Zahra langsung menoleh kebelakang. "Apa yang sedang kamu rencanakan, Dee. Untuk hari ini tolong jangan buat masalah, Dee. Kepala Mama benar-benar terasa ingin pecah jika kamu hendak merencanakan sesuatu yang tidak bagus!"
__ADS_1
"Untuk kali ini percayalah kepada Deena, Ma. Deena tiada akan membuat masalah apapun," ujar Deena.
Meskipun Zahra tidak mempercayai ucapan Deena, tetapi masih ada Kanna yang akan pergi kepada Deena. Meskipun Denna tumbuh menjadi remaja yang hampir membuat kepalanya botak, tetapi Kanna tak peduli. Baginya Deena adalah prioritas utamanya.
Sesampainya di rumah sakit Zahra langsung bergegas menuju kamar di mana Raya dirawat. Alangkah terkejutnya ketika Zahra melihat kondisi Raya yang sudah menggunakan alat bantu pernapasan.
"Na, katakan apa yang telah terjadi kepada Raya sehingga dia bisa seperti ini?" tanya Zahra kepada Naura yang berada di depan pintu kamar Raya.
"Aku gak tahu, Mbak! Aku juga sangat kaget saat mendapat kabar dari pihak rumah sakit yang mengatakan jika saat ini kondisi Raya kian memburuk. Bahkan sang dokter mengatakan jika Raya sama sekali belum mengalami sadar pasca kecelakaan saat itu, Mbak. Padahal Mbak Ara tahu sendiri kan jika Raya sudah sadar dan bisa bermain bersama anak-anak."
Mendengar penjelasan Naura membuat Zahra sangt tak mempercayai. Bagaimana bisa bocah yang telah dinyatakan sembuh malah dikatakan bahwa belum pernah bangun pasca kecelakaan yang menimpa Raya.
"Aneh banget sih? Jelas-jelas Raya sudah sempat sembuh, kok bisa malah kritis seperti ini, sih?"
__ADS_1
"Dia bukan Raya, Ma. Tapi Calline!" ujar Deena yang sudah tidak bisa menyembunyikan kenyataan.
Mata Zahra terbelalak. "Maksud kamu apa, Dee?"