
Dada Naura terasa berdenyut saat Alzam menolak untuk dijodohkan dengannya. Meskipun sama-sama duda, tetapi jika disuruh memilih Naura memilih Alzam untuk menjadi ayah untuk anaknya ketimbang Arya, yang selaku ayah kandung Raya. Bukan tanpa sebab, semua itu karena Alzam yang dinilai lebih bis bertanggung jawab ketimbang Arya.
"Kamu gak papa, Na?" tanya Zahra yang melihat Naura masih termenung di teras belakang.
Naura yang sedang melamun langsung tersentak. Ia mendongak untuk menatap Zahra.
"Mbak Ara," lirihnya dengan terkejut.
"Kamu ngapain melamun disini? Kecewa karena mas Alzam menolak permintaanku tadi?" tebak Zahra.
Naura hanya tersenyum tipis. Meskipun pada kenyataannya iya, tetapi Naura mencoba untuk mengelaknya. Ia tak ingin terlihat seperti wanita yang sedang mengemis cintanya pada seorang pria.
"Gak kok, Mbak. Aku lagi butuh saran dari Mbak Ara," ucap Naura dengan berat.
"Saran apa?"
Akhirnya dengan perasaan berat, Naura menceritakan tentang Arya yang menginginkan untuk menikahi dirinya dan ingin membuktikan bahwa dia tidak man.dul. Itu sama saja Arya akan menanamkan benihnya lagi di dalam rahimnya. Dan itu yang membuat Naura berpikir berkali-kali. Jika hanya sekedar menikah untuk bersandiwara agar membuat kedua orang tuanya merasa bahagia, mungkin Naura bisa membantunya. Namun, jika harus dengan membuktikan dirinya tidak man.dul, Naura tidak bisa.
__ADS_1
Zahra yang mendengar penjelasan adiknya masih terdiam. Sebenarnya Zahra tidak setuju jika Naura kembali berhubungan dengan Arya, tetapi satu sisi lain Zahra berpikir apakah semua ini adalah sebuah takdir dari Tuhan untuk menyatukan keduanya?
"Jadi aku harus bagaimana, Mbak?" tanya Naura yang berada diambang kebimbangan.
"Kenapa kamu tidak mengatakan jika kamu telah melahirkan anaknya. Mungkin dengan begitu dia tidak akan memaksamu untuk menikah," ujar Zahra.
"Mungkin saja. Tapi kemungkinan besar Raya akan diambil paksa olehnya, Mbak. Dan sebagai seorang ibu aku tidak setuju."
Zahra pun terdiam untuk beberapa saat. Ia membuang napas kasarnya. "Kamu kan juga bisa mengajukan sebuah perjanjian pada Arya untuk tidak mengambil paksa Raya. Kasihan Raya, Na. Dia masih membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Tidak nada salah kamu mengatakan pada Arya jika kamu telah melahirkan anaknya," saran Zahra.
Kini berganti Naura yang terdiam. Ucapan Zahra memang ada benarnya, tetapi untuk saat ini Naura belum siap untuk berterus-terang pada Arya jika sebenarnya ia tak menggugurkan anak mereka. Naura terpaksa berbohong karena masih menyimpan luka.
"Tapi untuk saat ini aku belum terima atas apa yang telah dilakukannya padaku, Mbak."
Zahra tak bisa memaksakan keinginannya. Semua terserah kepada Naura, karena ia yang akan menjalaninya.
**
__ADS_1
Cukup lama Naura menghabiskan waktunya bersama dengan Raya. Tak terasa hari pun semakin sore. Saat Naura ingin kembali pulang, tiba-tiba tangannya ditahan oleh Raya.
"Raya mau ikut Mama," ucapnya.
Naura yang semula sudah merasa lebih tenang, tiba-tiba harus merasakan kekhawatiran. "Lho, kok gitu? Bukannya disini enak ada temen mainnya?"
"Raya mau ikut Mama dalam keadaan apapun. Raya berjanji tidak akan nakal dan membuat Mama marah. Raya akan selalu nurut sama Mama."
Mata Naura terasa panas. Ia tak mampu lagi untuk menahan air matanya yang sudah merembes. Dengan cepat Naura memeluk tubuh Raya.
"Sayang, maafin Mama ya, kalau Mama egois. Tapi untuk saat ini Raya harus tinggal disini dulu. Nanti kalau Mama udah dapat pekerjaan, Raya boleh ikut sama Mama," jelas Naura dengan rasa sesak di dadanya.
Ibu mana yang tak menginginkan untuk tinggal bersama dengan anaknya. Semua ini Naura lakukan untuk melindungi Raya.
"Raya mau ikut Mama pulang." Bocah itu merengek sambil menangis membuat Naura tak sanggup untuk meninggalkan Raya. Dengan berat hati akhirnya Naura pun membawa Raya pulang. Dengan catatan, setelah pulang sekolah ia pulang ke rumah Zahra.
.
__ADS_1
.
...BERSAMBUNG...