
Tak ada kata yang bisa Naura ucapan selain kata bersyukur karena nyawa Raya bisa tertolong. Terlebih Arya yang tak sedikitpun menyalahkan dirinya saat ia menyembunyikan Raya. Saat ini harapan Arya hanya satu, Raya cepat sadar. Ia sudah tak sabar lagi untuk memeluk anak yang telah ia rindukan selama 6 tahun terakhir ini.
Nafas Arya terdengar begitu berat saat belum ada tanda-tanda Raya akan siuman. Padahal sudah hampir lima jam setelah melakukan transfusi darah, seharusnya saat ini Raya sudah siuman, karena dokter mengatakan jika tak ada luka yang serius.
"Na, kamu pasti lapar. Aku keluar cari makanan dulu ya."
Naura yang duduk disamping Arya menggeleng pelan. "Aku gak lapar, Om," ujarnya.
"Tapi ini sudah waktunya makan siang. Aku tidak mau karena mengkhawatirkan Raya, kamu juga sakit. Aku keluar dulu ya." Arya pun bersiap untuk pergi. Namun, tangan Naura mencegahnya.
"Om, jangan pergi!" Tangan Naura menahan tangan Arya.
Mendadak tubuh Arya seperti tersengat arus listrik. Bahkan dadanya ikut bergemuruh saat tangan Naura memegang tangannya. Dengan nafas panjang Arya pun duduk kembali.
"Na, aku hanya ingin mencari makan siang untukmu," katanya.
__ADS_1
"Tetapi aku tidak lapar, Om. Bagaimana aku akan terasa lapar ketika melihat Raya terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur. Sungguh aku tak bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu kepada Raya," ungkap Naura.
Arya mencoba memberikan diri untuk menggenggam tangan Naura, mencoba untuk menguatkannya, meskipun dengan dada yang semakin bergemuruh.
"Kamu jangan berpikir macam-macam. Aku yakin Raya anak yang kuat, sebentar lagi dia akan sadar. Apa yang terjadi kepada Raya adalah takdir dari Tuhan. Mungkin ini adalah cara Tuhan membuka sebuah kebenaran untukku. Jadi jangan pernah kamu menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang telah menimpa Raya."
Ternyata apa yang sempat dikhawatirkan oleh Naura tidaklah benar. Nyatanya saat ini Arya telah membuang keegoisannya untuk memiliki Raya seorang diri.
"Makasih, Om," ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Naura tersenyum tipis kearah Arya. Meskipun bukan dirinya yang memberikan pelajaran kepada Arya, tetapi dengan kenyataan yang menimpa dirinya dan juga keluarga sudah sudah cukup untuk mewakili hukuman darinya. Lalu untuk apa lagi ia menutup hatinya jika kehadiran Arya memang sangat dibutuhkan oleh Raya saat ini.
Saat ini keduanya telah sepakat untuk menutup masa lalu dan membuka lembaran baru demi Raya.
"Aku berjanji setelah Raya sembuh, aku akan segera menikahimu, Na. Tolong kali ini jangan menolak. Semua ini demi Raya."
__ADS_1
Naura tak dapat bisa berkata apa-apa lagi jika sudah menyangkut dengan Raya. Karena baginya Raya adalah hidupnya.
Hampir satu hari dirawat, tetapi belum ada tanda-tanda Raya ingin membuka matanya. Arya yang sudah sangat khawatir segera menemui dokter dan menanyakan keadaan Raya saat ini. Dari hasil pemeriksaannya, Raya dalam keadaan baik-baik saja.
"Bagaimana bisa baik-baik saja ketika hampir 12 jam tak ada tanda-tanda Raya untuk membuka matanya. Kalian sebagai dokter seharusnya bisa mengetahui apa yang telah terjadi kepada pasiennya. Bukan hanya mengatakan baik-baik saja. Bagaimana jika pasien tidak baik-baik saja? Kalian semua bisa saya tuntut!" geram Arya kepada dokter yang bertanggung jawab kepada Raya.
Dua orang dokter hanya terdiam saat Arya meluapkan emosinya kepada mereka. Sebagai seorang dokter mereka juga sudah mengecek keadaan Raya, dan hasilnya memang tidak ada luka serius pada Raya. Mungkin saat ini Raya sedang berada alam bawah sadarnya.
"Aku tunggu satu jam lagi, jika kalian tidak menemukan hasilnya dan Raya juga dalam membuka matanya, aku akan menuntut kalian, jika perlu rumah sakitnya sekalian!" acam Arya.
Naura yang berada disampingnya langsung menenangkan emosi Arya. Bukan tidak mengkhawatirkan keadaan Raya, tetapi Naura hanya menutupinya saja. Sebagai seorang ibu pasti perasaan Naura sangatlah hancur ketika anaknya yang tak kunjung sadar.
"Om Arya tenang. Percayalah kepada dokter jika keadaan Raya memang baik-baik saja."
"Tapi ini udah 12 jam, Na. Dan hasilnya Raya tak kunjung siuman."
__ADS_1
...#BERSAMBUNG#...