
Kepergian Raya membuat dunia Naura sangat hancur. Satu-satunya harapannya untuk bertahan telah tiada. Apakah ini semua ini karena lidahnya yang dengan mudah mengatakan, jika ia tak pernah melahirkan anak dari Arya. Sehingga ucapan itu didengar oleh sang Pencipta? Karena setiap kata itu adalah doa, terlebih itu keluar dari mulut seorang ibu yang setiap ucapannya akan menembus langit.
Terlambat untuk disesali karena tak akan ada yang bisa menghentikan takdir Tuhan. Dalam suasana duka, tak hentinya Naura terus menangis dan meraung. Terlebih saat jasad putrinya hendak dimasukkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.
"Na, kamu harus ikhlas agar Raya tenang disana. Percayalah dengan Raya seperti ini saya sudah tidak sakit lagi." Arya berusaha untuk menenangkan hati Naura, meskipun hatinya sendiri lebih hancur.
Saat ia belum bisa menyapa dan mengatakan jika Raya adalah anaknya, takdir telah berkata lain. Sang Pencipta lebih menyayangi Raya.
"Tapi Om, Raya belum tahu jika dia masih memiliki ayah. Semua ini salahku terus membohonginya dan mengatakan jika ayahnya telah meninggal. Semua ini salahku, Om!"
"Kamu tenang. Kamu ikhlaskan Raya, ya."
Dengan linangan air mata, Naura mencoba untuk mengikhlaskan kepergian Raya.
__ADS_1
Kini tubuh Naura dipegang oleh Zahra karena, Arya ikut turun liang kubur untuk membantu membantu menempatkan jasad Raya di tempat peristirahatan terakhir. Matanya memerah, membendung air mata yang ingin tumpah. Sebisa mungkin Arya mencoba untuk menahannya.
Setelah melewati rangkaian proses pemakaman, akhirnya jasad Raya benar-benar telah tertimbun tanah merah. Kini Arya pun harus berusaha keras membujuk Naura yang tak ingin pulang.
"Na, aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi bukan seperti ini caranya. Dengan caramu yang tak merelakan kepergian Raya, hanya akan membuatnya tersiksa. Please, ikhlaskan dia, ya." Arya mencoba untuk meyakinkan Naura.
"Semua ini salahku, Om. Andaikan aku bisa menjaganya dengan baik, semua ini tak akan terjadi pada Raya, Om." Naura menumpahkan air matanya dalam pelukan Arya.
Kali ini Naura menurut pada Arya dan setuju untuk pulang, meskipun rasanya sangat berat untuk meninggalkan tempat peristirahatan terakhir sang anak. Sepanjang perjalanan air mata Naura tak hentinya mengalir, meskipun ia sudah mencoba untuk mengikhlaskan kepergian Raya.
Sesampainya di rumah, kedatangan Naura dan juga Arya di sambut oleh Zahra. Terlihat juga ada sosok Alzam yang sedang duduk di samping Kanna.
"Na, yang sabar ya." Zahra langsung memeluk tubuh Naura.
__ADS_1
Saat itu juga tangis Naura pecah dalam pelukan Zahra. Ibu mana yang tak akan hancur ketika ditinggalkan oleh satu-satunya anak yang dimilikinya, terlebih keduanya pernah berjuang bersama dalam titik terendah.
"Kita masuk, ya!" Zahra langsung menggiring Naura untuk masuk kedalam. Sedangkan Arya memilih untuk menghampiri Kanna dan juga Alzam.
Saat melihat Arya datang, Alzam langsung berdiri untuk menyalami Arya. Ia pun turut berduka cita atas kepergian Raya.
"Turut berduka cita atas kepergian Raya. Maaf aku baru bisa datang karena baru bisa izin," ucap Alzam.
"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk datang. Bisakah kita berbicara berdua?" tanya Arya.
Mata Alzam menatap ke arah Kanna. "Baiklah, jika kalian ingin bicara berdua, aku tinggal dulu ya." Akhirnya Kanna memilih untuk pergi meninggalkan Arya dan Alzam untuk memberikan celah berdua.
Setelah hanya tinggal berdua, Arya langsung bertanya tentang boneka Calline yang beberapa waktu lalu menguasai tubuh Raya. Mengapa sampai saat ini tak ada kabar dimana Calline berada, karena setelah keluar dari tubuh Raya, Calline tak masuk lagi ke dalam boneka yang berada di tangan Deena.
__ADS_1