
Bukan Alzam tak ingin membantu Arya untuk memberitahu keberadaan Calline, tetapi saat ini dirinya juga tidak tahu sedang berada dimana dia berada. Biasanya roh itu tidak akan pergi dari boneka warisan, tetapi beberapa kejadian membuatnya keluar masuk ke boneka warisan keluarga itu.
"Sekali lagi aku minta maaf, karena tidak bisa membantumu. Meskipun boneka itu adalah boneka warisan dari keluargaku, tetapi saat ini yang berhak atas boneka itu adalah Deena, karena dia adalah anak sulungku," jelas Alzam.
Arya hanya bisa mende.sah berat. Ia tak ingin mengingkari takdir sang Pencipta. Hanya saja ia masih penasaran kepada Calline yang tiba-tiba hilang tak berjejak.
Kali ini Arya harapan Arya telah benar-benar patah, selama enam tahun menanti. Mungkin semua sudah menjadi garis Tuhan untuknya. Berharap kelak suatu saat Tuhan akan menggantikan dengan yang lebih indah.
Meskipun kepergian Raya menyisahkan luka, tetapi Arya mencoba untuk menguatkan diri dan menguatkan Naura, karena dirinya harus bisa menjadi sandaran untuk sang istri yang sedang rapuh.
🌸🌸
Tak terasa enam bulan telah berlalu. Naura yang awalnya merasa depresi karena kepergian Raya, kini perlahan sudah mulai mengikhlaskan kepergian anaknya. Semua itu berkat Arya yang terus menguatkan dirinya.
Mengikhlaskan belum berarti melupakan. Meskipun sudah mengikhlaskan, tetapi Naura masih belum bisa melupakan Raya. Setiap akhir pekan Naura dan juga Arya selalu mengunjungi makam Raya untuk mendoakan anak mereka agar bahagia di surga-Nya.
"Enam bulan kepergianmu, Nak. Mama sangat merindukanmu, bisakah kamu hadir dalam mimpi mama walaupun hanya sebentar saja." Naura mengusap batu nisan yang tertulis nama Raya.
"Begitu juga dengan Papa yang sangat amat merindukanmu, Nak. Papa tidak ingin meminta lebih, hanya satu permintaan Papa, semoga kelak kita dipertemukan dalam surga-Nya."
Tak terasa air mata kedua orang tua yang sangat merindukan anaknya itu tumpah membanjiri pipi mereka. Kesedihan yang telah hilang, kini muncul kembali dengan suasana yang hening.
Cukup lama Naura dan Arya berada dimakan sang anak, hingga akhirnya langit yang cerah berubah menjadi tertutup awan gelap. Angin berhembus begitu kencang, membuat Arya langsung mengajak Naura untuk pulang. Beruntung saja kali ini Naura tidak menolak ajakan dan nurut untuk pulang.
__ADS_1
Baru beberapa kilometer mobil Arya meninggalkan makan, hujan rintik-rintik mulai berjatuhan. Semakin lama semakin deras, membuat Arya tak bisa melaju dengan kencang.
"Om, hujannya deras banget," kata Naura yang sudah mulai terasa kedinginan.
"Iya, sepertinya juga akan lama. Gak papa kan kalau kita jalannya pelan?"
"Iya gak papa." ujar Naura.
Meskipun berjalan dengan pelan, akhirnya mobil Arya pun juga sampai rumah. Namun, dengan hujan yang sangat lebat membuat beberapa pohon tumbang dan mengakibatkan pemadam listrik.
"Sepertinya ada pemadaman listrik. Kamu jangan keluar dulu!" pesan Arya.
Arya segera turun dan langsung membukakan pintu untuk Naura. "Pelan, awas jatuh!"
Sesampainya di dalam kamar, Arya langsung menuju ke tempat tidur agar Naura bisa langsung beristirahat, sementara dirinya langsung mencari lilin agar ruangan sedikit lebih terang.
"Om, mau kemana?" tanya Naura saat Arya hendak berjalan keluar kamar.
"Aku ingin mengambil lilin di dapur. Kamu gak papa kan aku tinggal sebent?"
Naura hanya mengangguk. "Iya nggak papa, tapi jangan lama-lama ya."
Jujur Naura merasa takut ketika harus berada di kamar seorang diri. Namun, ia tak mungkin ikut dengan Arya ke dapur hanya untuk mengambil sebuah lilin.
__ADS_1
Sesuai dengan ucapannya, Arya tidaklah lama saat mengambil sebuah lilin. Dan kini kamar telah diterangi oleh cahaya lilin sebagai pengganti padam.
Melihat Naura yang sudah membungkus tubuhnya dengan selimut besar, membuat Arya berpikir jika saat ini Naura sedang merasa takut.
"Na," panggil Arya yang sudah berbaring di samping Naura.
Kelapa Naura langsung mendongak. "Iya, Om."
"Na, apakah kamu menyesal menikah denganku?" tanya Arya tiba-tiba.
Naura tersentak. Iya terkejut dengan pertanyaan Arya. "Mengapa om Arya tanya seperti itu?"
"Aku hanya ingin memastikannya saja. Jika kamu tidak mencintaiku, aku pun tidak akan memaksamu untuk mencintaiku. Namun, jika kamu benar-benar mencintaiku, aku sangat bersyukur. Na, jawablah pertanyaanku!" pinta Arya.
Bibir Naura terasa sangat kelu. Untuk saat ini jangan ditanya tentang kata cinta. Meskipun hatinya telah tertutup untuk seorang pria. Namun, ia masih menyimpan sedikit rasa untuk Arya.
"Jika kamu diam aku anggap itu adalah jawaban kamu tidak mencintaiku," kata Arya dengan sedikit rasa kecewa.
Namun dengan cepat Naura membantahnya. "Bagaimana bisa Om Arya tahu jika aku tidak mencintai om Arya?"
"Jadi?" Kini kedua mata dua insan itu saling berpandangan. Dalam temaram cahaya lilin, Arya ingin membuktikan jika Naura mencintai dirinya.
Malam kedua bagi mereka, setelah malam pertama yang terjadi tanpa tersengaja. Kali ini keduanya mengulangi dengan kesadaran mereka masing-masing.
__ADS_1