Belenggu Cinta Yang Semu

Belenggu Cinta Yang Semu
Bab 20 | Seperti Halusinasi


__ADS_3

Cukup lama Naura memikirkan apa yang terjadi kepada dirinya. Padahal dengan jelas dia dan Raya sedang berada di dalam toilet. Namun, mengapa tiba-tiba sudah ada di kamar dan hari juga telah malam. Bahkan saat ia bertanya kepada Raya, bocah itu mengatakan jika mereka telah pulang sejak tadi siang.


"Om, bisa kita berbicara sebentar?" Naura memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruang kerja Arya.


Arya yang sedang fokus pada layar laptopnya langsung menatap ke arah Naura. "Tentu saja boleh. Kamu mau bertanya apa?"


Naura langsung berdiri di samping Arya. Dia masih tidak puas dengan penjelasan yang disampaikan oleh Raya maupun Raya tadi.


"Om, jawab dengan jujur. Sebenarnya apa yang telah terjadi, mengapa aku bisa berada di kamar dan tidur begitu lama?"


Arya mendongak dengan alis yang. "Kamu kok bertanya seperti itu? Bukanya kamu sendiri yang menginginkan untuk tidur?"


Naura menggelengkan kepalanya. Ia membantah penjelasan Arya dan menceritakan jika beberapa menit yang lalu dirinya masih berada di kamar mandi bersama dengan Raya. Namun, anehnya saat ia membuka mata tiba-tiba sudah berada di di atas tempat tidur.


Mendengar penjelasan Naura, Arya segera berdiri dan menyuruh Naura untuk duduk di kursinya. "Aku tahu perjuanganmu selama 7 tahun tidaklah mudah. Selama ini kamu telah menyimpan rasa sakitmu seorang diri. Baiklah, sepertinya kita butuh liburan untuk beberapa waktu agar pikiranmu lebih tenang, ujar Arya.


"Om, aku gak bercanda! Percayalah, aku serius, Om. Beberapa menit yang lalu aku sama Raya masih berada di dalam toilet. Om, percayalah denganku," rengek Naura untuk meyakinkan Arya.


Arya mende.sah kasar. Bagaimana akan percaya jika Naura dan juga Raya sudah pulang sejak tadi siang. Mungkin benar saat ini Naura sedang merasa lelah dan butuh hiburan liburan untuk sesaat.


Karena Arya sama sekali tak percaya kepada dunia, Naura memutuskan untuk keluar dengan bibir yang sudah mengerucut. Namun, dengan cepat Arya menahan tangan Naura. "Na, maaf. Semua ini salahku."


"Semua sudah terjadi, tak perlu lagi untuk disesali. Bukankah aku sudah pernah mengatakan berulang kali kepada Om Arya agar tidak mengulang kata itu lagi?"


"Iya aku tahu. Tapi sepertinya kamu masih belum ikhlas untuk memaafkanku. Buktinya saja kamu masih memanggilku dengan sebutan, Om. Saat ini aku suamimu, bukan Om-mu."


Naura tersenyum tipis pada Arya saat menyadari jika lidahnya masih kelu untuk memanggil dengan sebutan baru, karena sudah terbiasa dengan Om.


"Jadi aku panggil apa? Mas, gitu? Terlalu muda kalau aku panggil Mas." Naura tertawa pelan.

__ADS_1


"Jadi selamanya kamu akan memanggilku dengan panggilan Om? Terus kalau Raya mempertanyakan panggilan itu gimana? Bisa-bisanya dia beneran nggak percaya dong, kalau aku bapaknya."


"Tapi lidahku sudah nyaman dengan panggilan Om. Gimana, dong?"


Arya kembali mende.sah. Jika itu panggilan itu membuat Naura merasa nyaman, Arya tak akan memaksa Naura untuk memanggilnya dengan sebutan lainnya.


Karena sudah larut, akhirnya keduanya memilih untuk mengistirahatkan tubuh mereka setelah satu harian berkutat dalam kesibukan mereka masing-masing. Meskipun dengan pikiran yang masih mengambang tentang bagaimana bisa dalam sekejap mata Naura bisa berpindah tempat. Namun, tak ada satupun yang mempercayainya.


Dalam heningnya malam, Naura belum bisa memejamkan mata dengan sempurna. Ia pun memutuskan untuk pergi ke kamar Raya yang ada di samping kamarnya. Entah mengapa perasaannya mengatakan jika saat ada yang berbeda pada Raya dan menganggap dia bukanlah Raya, anaknya.


"Aku harus mencari tahu, siapa sebenarnya yang mengendalikan tubuh Raya saat ini. Aku yakin jika saat ada jiwa yang tertukar dan terjebak di dalam tubuh Raya," batin Naura yang hendak membuka pintu kamar Raya.


Nah orang merasa heran saat melihat kamar Raya hanya diterangi oleh pemeran lampu kamar. Padahal selama ini Raya sangat takut dengan gelap. Namun, apa saat ini lampu utama tak dinyalakan?


Saat Naura berhasil menghidupkan lampu kamar, ia langsung menghampiri Raya yang sedang tidur pulas dengan posisi tangan menyilang didepan dadanya.


"Nih, anak tidur kok kayak gini sih posisinya?" gerutu Naura.


"Kok dingin banget, ya? Aneh!" gumam Naura.


Bukan hanya tangannya saja yang dingin melainkan hampir seluruh tubuh Raya terasa dingin. Naura merasa sangat panik dan berusaha untuk membangunkan Raya. Namun bocah itu sama sekali tak terusik.


"Raya, bangun! Kamu kenapa, Nak? Jangan buat Mama panik seperti ini? Kamu gak mati kan, Nak?" Naura terus berusaha mengguncangkan tubuh Raya.


"Astaga, ini kenapa?"


Karena Naura tidak ingin terjadi sesuatu kepada Raya, ia pun segera membangunkan Arya yang sudah terlelap. Dia tidak peduli bagaimana lelahnya Arya, karena saat ini yang ia butuhkan adalah keselamatan Raya.


"Om, bangun dulu. Raya, Om!" Kini Naura mengguncangkan tubuh Arya agar segera bangun.

__ADS_1


Arya yang terusik langsung membuka matanya. "Ada apa, Na?"


"Raya, Om! Raya tubuhnya dingin seperti es. Dia juga tidak merespon saat ku bangunkan."


Arya yang sedang dilanda kantuk terpaksa melihat keadaan Raya. Sebenarnya Arya ingin sekali mengatakan agar Naura beristirahat. Namun, ia takut membuat hati Naura kembali bersedih. Semenjak Naura bangun tidur tadi, dirinya seperti kebanyakan berhalusinasi.


"Na, Raya itu sedang tidur. Tuh lihat!" kata Arya sambil menunjuk arah raya yang telah memeluk sebuah guling.


Naura segera berlari kecil untuk memastikan lagi suhu tubuh Raya. Matanya benar-benar terbelalak lebar ketika suhu tubuh yang tadinya terasa dingin kini sudah normal hangat seperti layaknya orang hidup. Bahkan saat disentuh dahinya, Raya pelan.


"Mama, ada apa?" tanyanya.


Naura menggelengkan kepalanya sambil membungkam mulut. Ia bener-bener tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Padahal jelas-jelas tadi tubuh Raya terasa dingin layaknya seorang mayat. Namun, mengapa tiba-tiba sekarang sudah kembali normal.


"Tuh kan, Na. Raya gak papa kan?" kata Arya dari belakang Naura.


"Tapi tadi beneran dingin, Om. Om, percayalah, aku gak bohong!"


"Iya, aku percaya sama kamu. Tapi sekarang kamu istirahat ya, ini udah malam. Raya juga tidak papa. Sudahlah tidak akan terjadi sesuatu kepada Raya."


Untuk memastikan keadaan Raya, Arya pun mengecek suhu tubuh anaknya untuk memastikan jika Raya tidak apa-apa.


"Kamu nggak papa kan, Sayang? Maaf ya, udah ganggu tidur kamu. Mama kamu hanya sedikit mengkhawatirkanmu sehingga dia berhalusinasi. Kamu tidur lagi, ya," kata Arya dengan lembut pada Raya.


Raya mengangguk pelan. "Iya, Pa."


Setelah kepergian kedua orang tuanya, Raya membuang nafas kasarnya. Beruntung saja Calline segera kembali ke dalam tubuh Raya, jika tidak mungkin saat ini Raya akan dibawa ke rumah sakit untuk memastikan keadaannya.


"Sepertinya malam ini aku tidak bisa bertemu dengan Deena. Bagaimana caranya aku mengatakan kepada Deena jika saat ini sedang ada yang mengincar nyawa Raya. Jika aku katakan kepada Papa Arya, apakah dia akan percaya dengan apa yang aku katakan?" lirih Raya yang menatap langit-langit kamarnya.

__ADS_1


Beruntung saja hari ini Calline bisa mengendalikan keadaan dan menyelamatkan Raya dan Naura dalam keadaan genting.


"Apakah papa Arya akan percaya jika pamannya sedang mengincar nyawa Raya? Apakah papa Arya akan percaya jika paman Sam telah membunuh mamanya?" Lagi-lagi Calline yang menguasai tubuh Raya mengeluarkan apa yang ia ketahui.


__ADS_2