
Siang ini Zahra dan kedua anaknya mengunjungi Raya yang sudah dibawa pulang oleh Arya. Bagi Zahra tidak masalah Raya tinggal dimana asalkan bocah itu merasa nyaman. Ia juga tak melarang jika Naura berjodoh dengan Arya, bagaimanapun Arya adalah ayah kandung Raya.
Saat ini Naura mengajak Zahra dan dua keponakannya untuk melihat keadaan Raya yang berada di kamar. Sudah dua hari Raya memilih menghabiskan waktunya di dalam kamar. Selain merasa asing dengan keadaan sekitar, Raya juga masih merasa pusing dan lemas.
"Jadi bagaimana keadaan Raya saat ini?" tanya Zahra yang sudah merasa lega saat Raya tidak mengalami luka serius.
"Meskipun kehilangan sebagian, tetapi dia baik-baik saja. Ayo masuk!" Naura langsung membuka pintu kamar Raya. Saat pintu dibuka, Kala dan juga Khanza pun langsung nyelonong.
"Raya, kamu udah sehat?" tanya Khanza yang langsung mendekat ke arah Raya.
Bola mata kecil itu langsung mendongak untuk melihat siapa yang datang ke dalam kamarnya. Terdiam untuk beberapa saat akhirnya Raya turun untuk menyambut dua orang yang ada di hadapannya.
"Kak Khanza, Kak Kala," ujar Raya dengan wajah yang berbinar.
Mendengar sang anak mampu mengingat Kala dan juga Khanza membuat Naura terperanjat tak percaya. Begitu juga dengan Zahra yang merasa heran dengan Raya yang bisa mengenali Kala dan juga Khanza.
"Na, katamu Raya mengalami hilang ingatan, tetapi mengapa dia masih bisa mengenali Kala dan juga Khanza?" tanya Zahra dengan rasa heran. Bahkan bisa dilihat dengan jelas jika Raya terlihat bahagia saat berbicara kepada Kala dan juga Khanza.
"Raya hanya mengalami kehilangan sebagian memorinya saja, Mbak. Yang artinya dia masih bisa mengingat sebagian lagi. Coba Mbak Ara samperin, kali aja Raya juga mengingat Mbak Ara," saran Naura.
Zahra pun setuju dengan saran Naura dan mulai bergabung bersama dengan Raya dan juga Kala. Berharap Ayah juga masih mengingatnya.
"Raya, kamu udah sehat, Nak?" tanya Zahra.
Raya mendongak dan menatap Zahra untuk beberapa saat. "Tante siapa?"
Zahra menelan kasar ludahnya saat Raya juga tak mengenalinya. Ia pun mende.sah pelan.
"Ini Mama Ara, Sayang. Mamanya Kala dan Khanza. Kamu gak ingat, Nak?"
Raya menggeleng pelan.
__ADS_1
"Ya udah kamu main dulu aja sama Kala dan juga Khanza, Mama tinggal ya," kata Zahra.
Lagi-lagi Raya hanya menganggukkan kepalanya.
Jika melihat komunikasi yang sangat baik antara Raya dan juga Kala, seakan Naura tidak menyangka jika Raya sedang mengalami hilang. Bahkan saat ditanya oleh Kala mengapa Raya bisa mengalami kecelakaan, Raya masih bisa mengingat sepotong kejadian, di mana ia mengatakan jika ada seseorang yang melambaikan tangan kepada dirinya di luar gerbang sekolah. Namun saat Raya sudah berada di luar pagar tiba-tiba sebuah mobil menyerempet dirinya.
Zahra dan Naura sengaja mendengarkan apa yang dibicarakan oleh tiga bocah kecil yang ada di kamar.
"Mbak, kira-kira siapa yang melambaikan tangan kepada Raya, ya?" tanya Naura yang merasa penasaran dengan cerita Raya.
"Mana Mbak tahu. Tapi sepertinya orang itu memang sengaja ingin menargetkan Raya. Jangan-jangan dia seorang penculik anak tapi misinya gagal karena Raya mengalami kecelakaan," tebak Zahra.
"Aku juga gak tahu, tapi Om Arya sedang menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa Raya," jelas Naura.
Mendengar kata Arya, tiba-tiba Zahra tertarik untuk membahas masalah Naura dengan Arya. Saat itu juga Naura menceritakan ajakan Arya untuk menikah. Namun, Naura belum bersedia dengan alasan ingin fokus untuk pemulihan Raya.
"Na, saran aku jangan lama-lama memberikan kepastian kepada Arya. Takutnya dia merasa bosan dan memilih untuk tak peduli lagi kepadamu. Kamu harus ingat di luar sana banyak wanita yang lebih dari kamu, jadi jangan menggantung harapan seseorang. Jika kamu memang ingin menerima, langsung kamu katakan saja jika kamu mau menikah dengannya. Namun jika kamu tidak mau menikah dengannya, segera katakan tidak. Kamu harus tahu jika Arya memiliki sifat yang keras. Takutnya karena dia lelah digantung, akhirnya dia tak peduli lagi denganmu." Zahra mencoba memberi nasehat kepada Naura.
Sejenak Naura terdiam untuk merenungi kata-kata kakaknya. Meskipun Arya telah menghancurkan masa depannya, tetapi Naura tidak bisa membenci terlalu dalam pria yang telah menjadi ayah dari anaknya. Terlebih saat ini jika Arya telah menyesali perbuatannya dan bersedia untuk bertanggung jawab. Lalu mengapa dirinya masih menggantung ketulusan Arya? Bagaimana jika pria itu kembali seperti dahulu yang ingin memiliki Raya seorang diri.
"Na, mungkin saja semua ini adalah petunjuk jika kamu dan Arya memang berjodoh. Jangan sia-siakan kesempatan ini ya, karena kesempatan itu tidak jatuh dua kali."
..
Ucapan Zahra masih jelas terngiang di dalam ingatan Naura. Jika dirinya mengabaikan kesempatan ini, mungkin selamanya ia akan kehilangan kesempatan yang telah Arya berikan. Dengan tekad bulat, Naura akan mengambil keputusan terbesarnya untuk menerima ajakan Arya menikah. Mungkin dengan cara seperti itu Raya akan mendapatkan kasih sayang seorang ayah yang sesungguhnya.
"Iya, aku memang harus membuang aku ku. Mungkin om Arya memang jodohku," lirihnya.
Dalam lamunannya, sebuah tangan menyentuh pundak Naura.
"Kamu ngapain di sini, Na? Bagaimana keadaan Raya. Mengapa kamu tak menemaninya?" Suara Arya membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Om Arya udah pulang? Mau mandi atau mau makan biar aku siapkan," tawar Naura.
Arya mengernyit heran dengan sikap Naura yang terlihat aneh, soalnya sedang perhatian kepada dirinya.
"Na, kamu gak lagi sakit kan?"
Naura menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku tidak sakit. Memangnya ada apa?"
"Aneh saja. Sejak kapan kamu perhatian kepadaku?"
Naura hanya menyinggung tipis. "Apakah salah jika aku sedikit lebih perhatian dengan calon suamiku?"
Mendengar kata calon suami alis Arya menaut. "Kamu bilang apa, Na?"
"Calon suami? Bukankah kemarin om Arya mengajakku untuk menikah?"
"Jadi kamu setuju?" tanya Arya yang masih tak percaya dengan pengakuan Naura.
"Jika aku tidak setuju, untuk apa aku perhatian, Om."
Kali ini tangan Arya langsung menarik tangan Naura. Ia menatap dalam manik mata wanita yang pernah ia sia-siakan di masa lalunya.
"Na, katakan jika ini bukanlah mimpi!"
"Apakah Om Arya tidak mempercayai keputusanku. Kalau seperti itu mending aku tarik kembali kata-kataku."
"Tidak boleh! Aku percaya denganmu, Na. Kalau begitu besok kita menikah."
Naura merasa terkejut dengan ucapan Arya. "Besok? Kenapa harus secepat itu, Om?"
"Karena aku tidak mau kamu berubah pikiran lagi. Aku akan segera memberitahukan kabar baik ini kepada keluargaku. Na, Makasih ya kamu udah mau menerimaku."
__ADS_1
Karena saking bahagianya Arya langsung menarik tubuh Naura ke dalam pelukannya. "Sekali lagi aku minta maaf, Na. Telah membuat hidupmu hancur. Tapi kamu tenang saja aku akan bertanggung jawab. Aku akan mengganti setiap air mata yang telah kamu keluarkan dengan kebahagiaan yang kamu impikan. Aku juga berterima kasih karena kamu sudah mau menerimaku. Aku berjanji akan membahagiakanmu sampai akhir nafasku."
...#BERSAMBUNG#...