
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan kita hanya bisa berencana, tetapi Tuhan-lah yang menentukan segalanya. Tidak akan ada yang bisa melawan takdir. Hidup dan mati telah menjadi rahasia Ilahi.
Disaat Arya sedang bahagia karena telah berhasil menikahi Naura, siapa yang menyangka jika ia juga akan mendapatkan kabar buruk dari rumah sakit. Wanita yang ia panggil mama ternyata memilih pergi sebelum Arya menunjukkan Raya padanya. Seorang cucu yang telah lama diimpikan. Namun, saat Arya hendak menunjukkan Raya, ternyata takdir berkata lain. Tuhan lebih menyayangi mamanya.
"Om Arya gak papa?" tanya Naura ketika melihat Arya yang terdiam setelah menerima panggilan telepon.
Kepala Arya menggeleng dengan pelan. "Semua tidak sesuai rencana, Na. Mama telah pergi," ucap lirih Arya dengan pandangan kosong.
Naura membulatkan matanya dengan lebar. "Maksud om Arya, mama meninggalkan?" tanyanya dengan ragu.
Arya mengangguk pelan. "Iya. Padahal hari ini adalah hari bahagiaku, dimana aku bisa menikahimu dan aku juga ingin menunjukkan Raya padanya, tetapi Tuhan berkehendak lain."
Raya yang berada di pangkuan Naura ikut merasakan sedih, meskipun dirinya tak mengenali neneknya.
"Om Arya yang sabar. Meskipun mama belum sempat melihat Raya, setidaknya mama udah percaya jika Om Arya tidak man.dul. Aku yakin saat ini mama sudah bahagia karena melihat kita telah bersama. Aku yakin dibalik semua musibah pasti akan ada hikmahnya. Om Arya harus sabar dan kuat, ada aku dan Raya disamping Om Arya," hibur Naura.
Arya mengangguk pelan sebelum menjalankan mobilnya. Seharusnya saat ini Arya bisa melihat senyum yang mengembang di bibir mamanya karena cucu yang diinginkannya sudah ada di depan matanya. Namun sayangnya belum sempat sama mama melihat Raya, wanita itu telah pergi.
Suasana duka menyelimuti rumah orang tua Arya. Karena keluarga Arya adalah keluarga ternama, tak heran jika sudah banyak orang yang melayat, termasuk rekan kerja Arya.
__ADS_1
Kedatangan Arya menjadi pusat perhatian para pelayat karena Arya menggandeng seorang wanita dan juga anak kecil. Mereka bertanya-tanya siapa yang dibawa oleh Arya. Kini langkahnya sudah tiba dekat jenazah sang mama yang sudah dikafani. Saat hendak mendekat, langkah ditahan oleh pamannya.
"Ar, ini adalah suasana duka. Aku harap kamu tidak menggegerkan para pelayat yang hadir," bisiknya.
Arya mengernyit heran dengan ucapan sang paman, tetapi ia tak memberi respon.
Mata Raya menatap tajam kearah paman sang papa, bahkan sampai tak kedip. Begitu juga dengan paman Arya yang tak kalah terkejut saat melihat Raya dalam keadaan baik-baik saja.
"Raya, kamu kenapa, Nak?" tanya Naura saat menyadari sang anak yang terus menatap paman Arya.
Kepala kecil itu menggeleng pelan. "Tidak apa-apa Ma. Ayo masuk!"
.
.
Berpura-pura tegar tidaklah mudah, tetapi Arya mencoba untuk kuat agar tak terlihat lemah. Bahkan Arya mencoba menahan agar air matanya tak membasahi pipinya.
"Om, kita pulang ya. Udah sore!" bujuk Naura.
__ADS_1
Sudah hampir 2 jam Arya enggan untuk pulang dan memilih tetap menatap pusara yang terukir nama mamanya. Meskipun dia, membisu tetapi hatinya sedang menangis. Tiba-tiba saja tangan kecil memeluk menyentuh pundaknya.
"Kematian itu akan datang pada setiap yang bernyawa. Cepat atau lambat kematian akan menghampiri kita. Hanya saja dengan cara yang berbeda. Aku yakin nenek pergi dengan tenang, meskipun tak sempat melihatku. Papa jangan bersedih, jika Papa bersedih, nenek jauh akan bersedih. Meskipun takdir memisahkan, tapi nenek sudah bahagia dan lega karena Papa tak seperti yang orang lain tuduhkan," ucap Raya dengan pandangan lurus ke batu nisan.
Naura dan Arya saling bersitatap. Bahkan Naura sempat terkejut dengan ucapan Raya yang begitu dewasa. Padahal selama ini Raya bukanlah anak bijak. Namun, kali ini Naura terperanjat akan ucapan anaknya.
Bibir Arya pun hanya tersenyum tipis kearah anak yang telah ia rindukan. Tangannya pun terulur untuk menyentuh pipi Raya. "Makasih, Sayang. Papa tidak bersedih, tetapi masih tak percaya mengapa nenek kamu pergi begitu cepat. Bahkan dia belum sempat melihatmu. Padahal kita sudah berjanji akan bertemu."
Tangan Raya pun mengusap air mata yang jatuh begitu saja. "Papa jangan menangis. Sekarang ada Raya dan juga Mama yang akan menemani Papa."
Karena bujukan Raya, akhirnya Arya pun bangkit untuk meninggalkan pusara sang mama. Dalam keadaan duka, ia tak menyangkal jika dirinya merasa sangat bahagia dengan hadirnya Raya yang mampu memberikan kekuatan untuknya.
Saat perjalanan Raya tertidur dalam pangkuan Naura. Saat itu juga Naura mengutarakan kegagalan yang telah terjadi pada Raya.
"Om, apakah Om Arya merasa ada yang aneh pada Raya? Aku merasa dia bukan Raya, karena Raya tidak pernah berbicara sebijak itu, Om," ujar Naura dalam keheningan.
Arya yang tidak tahu bagaimana sifat Raya gak bisa memberi tanggapan apa-apa, tetapi ia merasa sangat bersyukur karena Raya bisa memiliki kebijakan yang luar biasa.
"Mungkin itu kata-kata spontan karena Raya merasa kasihan pada papanya," ujar Arya.
__ADS_1
Naura pun hanya mengangguk pelan. Berharap jika dirinya terlalu berlebihan untuk menilai sikap Raya. Meskipun dalam hatinya merasa ada yang ganjal.