
Hidup dan mati sesungguhnya adalah milik kuasa-Nya. Tak akan ada tawar-menawar untuk memperpanjang nyawa seseorang. Kapanpun sang pemilik nyawa mengambil nyawa dari rsga seseorang, siap tak siap harus diterima dengan ikhlas, karena tak akan ada satupun orang yang bisa menghalanginya.
Sudah atu bulan tak ada perkembangan pada Raya. Bahkan dokter sudah angkat tangan dan mengatakan tak ada harapan hidup lagi untuk Raya. Namun, sebagai seorang ibu Naura bersikeras untuk mempertahankan anaknya. Ia berharap jika Raya masih bisa bertahan untuk hidup.
Seberapa besar apapun Naura berharap, tetapi semua berjalan atas kuasa-Nya. Kondisi Raya semakin hari semakin memburuk dan tak ada kemungkinan lagi untuknya bertahan lama.
"Na, kita pulang dulu, ya," bujuk Arya pada Naura yang hampir satu Minggu ini ia tak ingin pulang.
"Harus aku katakan berapa kali lagi, jika aku ingin tetap berada disini untuk menunggu Raya, Om. Aku takut jika sewaktu-waktu Raya sadar dan tidak menemukaku, dia pasti akan ketakutan dan menangis, Om."
__ADS_1
Untuk kesekian kalinya Naura menolak permintaan Arya.
Setelah kondisi Raya sudah sangat memburuk, Naura tak sedikitpun mau untuk meninggalkan Raya sendirian. Ia akan tetap berada di kamar Raya dan memperdulikan Arya sebagai suaminya.
"Tapi kamu butuh istirahat, Na," ujar Arya.
"Om, maafkan aku. Aku tidak bisa menjadi istri seperti yang Om Arya inginkan. Jika Om Arya ingin marah, marahlah. Aku siap untuk menerima kemarahan Om Arya, karena saat ini Raya adalah hidupku. Jadi, maafkan aku yang belum bisa menjadi istri yang sesungguhnya," jelas Naura dengan menunduk.
"Aku tahu dan aku menghargai semua keputusanmu. Jika kamu tidak ingin, kamu jangan abaikan kesehatanmu. Maafkan aku yang tak bisa untuk selalu ada disampingmu, karena aku juga harus mengurus perusahaan. Aku tak akan marah dan aku tidak akan menuntutmu untuk menjadi istri yang sempurna. Bagiku bisa bertanggung jawab dan membuka hatiku untukmu, sudah lebih cukup untukku."
__ADS_1
Mendengarkan penuturan Arya membuat Naura memaksakan senyum di bibirnya. "Makasih ya, Om. Aku berjanji setelah Raya sadar, iku akan berusaha untuk menjadi istri yang sempurna untuk Om Arya. Untuk saat ini maafkan aku jika aku egois," ucap Naura sambil memeluk tubuh Arya.
Untuk saat ini Naura hanya butuh sandaran yang nyaman untuk menenangkan hati dan pikirannya yang semakin hari semakin kacau.
Sambil mende.sah berat Arya berkata, "Aku tidak akan menyalahkanmu, Na." Kecu.pan hangat mendarat kepala Naura.
"Makasih, Om."
Saat keduanya hanyut dalam pelukan, tiba-tiba suara layar monitor detak jantung Raya berbunyi dan telah menunjukkan garis lurus.
__ADS_1
Seketika keduanya merasa sangat panik, terutama Naura. "Raya, ini tidak mungkin kan? Raya …. " Tangis Naura pecah saat tak ada detak jantung yang terdeteksi di layar monitor. Sementara itu Arya berusaha untuk memanggil dokter.